Lima Langkah Raja Salman Atasi Krisis Finansial Saudi

515

Kerajaan Saudi Arabia, seperti negara-negara kapitalis lain saat ini, menghadapi krisis finansial terburuk yang pernah dihadapi negara tersebut. Ini gara-gara harga minyak yang melorot dari sekitar 115 dolar AS/barel pada musim panas 2014 ke angka 40-50 dolar AS saat ini. Akibatnya Saudi Arabia menghadapi defisit anggaran sampai 87 miliar dolar AS.

Raja Salman  dalam Krisis FInansial

Raja Salman, yang belum lama bertahta, segera mengambil sejumlah langkah strategis. Inilah lima tindakannya demi menyelamatkan Saudi Arabia dari kebangkrutan.

  1. Mengurangi berbagai subsidi, termasuk pada harga bahan bkar domestik, yang selama ini dikenal termurah di dunia. Pengurangan subsidi BBM menaikkan harga bahan bakar sebesar 0.30 riyal, demikian juga tarif listri dinaikkan. Gaji pegawai negeri diturunkan sampan dengan 20%.  Sejumlah proyek pemerintah ditunda atau dibatalkan.
  2. Menaikkan biaya visa umrah dan haji. Saudi Arabia memperoleh pendapatan cukup besar dari umrah dan haji yang setiap tahun dilakukan oleh 6.5 juta orang (umrah) dan 1.5 juta orang (haji), selain 1 juta pengunjung lain di luar haji dan umrah. Hanya perjalanan umrah dan haji pertama saja digratiskan. Selebihnya membayar visa yang kini dinaikan sampai 10 kali lipat.
  3. Pemerintah Saudi Arabia menerbitkan obligasi pada Oktober 2016 lalu sebesar 17.5 miliar dolar AS. Obligasi ini diterbitkan, dengan kata lain pemerintah Saudi berutang, sambil mencari kepercayaan dari pasara luar negeri. Angka ini cukup besar, melebihi oblogasi yang dikeluarkan pemerintah Argentina, yang besarnya 16.5 miliar dolar AS.
  4. Pemerintah Saudi Arabia akan segere menjual sebagian saham Aramco, perusahaan minyak patungan antara Saudia Arabia dan perusahaan minyak Amerika Serikat, yang merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia. Jumlah saham yang mau dijual ke pasaran adalah sebesar 5%, dengan target mendapatkan dana sebesar 100 miliar dolar AS. Milai Aramco sendiri adalah 2 triliun dolar AS.
  5. Mendiversifikasi sumber anggaran negara yang selama ini 90% tergantung kepada BBM. Sektor utama yang hendak dikejar adalah pariwisata. Ini  mengharuskan Saudi lebihterbuka kepada wisatawan asing. Jeddah dan Riyadh dan berbagai daerah wisata lain akan dipromosikan, dan tidak hanya terpaku kepada Mekah dan Madinah yang hanya bisa dikunjungi kaum Muslimin.