Inilah Lima Pilar Muamalat

1418

Lima Pilar MuamalahDalam satu haditsnya Nabi Muhammad Salallahualaihi wasallam menyatakan akan datang zaman ketika semua orang terlibat dengan riba. Bahkan yang menolak riba pun akan terkena debunya. Itu terjadi karena riba sudah menjadi sistem. Suka atau tidak, rela atau tidak, kita terpaksa ikut di dalamnya. Zaman riba yang dinyatakan oleh Rasul SAW ini agaknya telah sampai di tengah kita. Kegiatan jual-beli, utang-piutang, serta perdagangan yang kita jalani sehari-hari, saat ini, tak ada yang tak terkait dengan riba. (Keterngan ringkas tapi rinci tentang riba, baca Memahami Riba Secara Sederhana)

Tetapi, Allah SWT, dengan tegas menyatakan agar kita meninggalkan sisa-sisa riba, seujung rambut sekalipun. Dengan kata lain tugas kita semualah untuk menegakkan muamalat yang halal agar bisa meninggalkan sistem riba. Dan itu sepatutnya kita lakukan dalam ’amal sehari-hari, bukan secara teori. Secara historis, ’amal muamalat di kalangan kaum Muslim, dapat kita kenali di dalam lima pilar muamalat, berikut ini.

  1. Pasar

Pilar pertama yang kini hampir sepenuhnya runtuh adalah pasar, yakni tempat-tempat umum untuk masyarakat berdagang. Rasulullah SAW menyatakan bahwa pasar sama dengan masjid, tidak boleh dimiliki secara pribadi, tidak ada sewa, tanpa pajak, dan tidak ada bangunan permanen: terbuka penuh bagi siapa pun. Yang ada di sekeliling kita saat ini, bahkan yang disebut sebagai ”Pasar Tradisional” sekalipun, bukanlah pasar menurut hukum syariat. Bangunan-bangunan permanen tersebut adalah kumpulan kios milik orang-perorang, yang untuk pemilikannya pun dikenai berbagai pajak pula.

Penyelenggaraaan Festival Hari Pasaran Dinar Dirham Nusantara, yang sampai saat ini telah berlangsung lebih dari 150 kali , adalah awal dari upaya pengembalian pasar-pasar terbuka. Pasar Sultan di Kesultanan Bintan Darul masyhur, di kota Tanjung Pinang, yang telah didirikan dan diresmikan oleh Sultan Huzrin Hood pada akhir 2015 lalu, adalah contoh pasar terbuka berbasis wakaf.

  1. Dinar dan Dirham

Pilar kedua adalah alat tukar (uang) yang halal. Rasul SAW menyebutkan enam jenis alat tukar ini, yakni emas, perak, gandum, barle, kurma, dan garam (dalam riwayat lain disebut kismis). Ringkasnya alat tukar yang halal haruslah berupa komoditi yang umum dipakai sebagai alat jual-beli, yang paling lazim di antaranya adalah uang emas (dinar) dan uang perak (dirham). Tanpa alat tukar berbasis komoditi berbagai transaksi muamalat – khususnya utang-piutang dan jual-beli – tidak dapat berlaku adil, karena bersifat merugikan salah satu pihak.

  1. Pedagang Keliling

Pilar ketiga, sesudah pasar dan mata uang, tentu saja, adalah keberadaan para pedagang itu sendiri, baik secara sendiri-sendiri atau berombongan dalam rombongan keliling, dulu dikenal sebagai kafilah-kafilah (karavan). Para pedagang adalah penggerak utama ekonomi, baik dengan modal sendiri, maupun bermitra dengan para investor. Rasulullah SAW mengindikasikan bahwa ”9/10 rezeki ada pada perdagangan”. Lagi-lagi, yang kita lihat di sekeliling kita saat ini, bukanlah pedagang dan perdagangan. Mereka adalah ”buruh-buruh lepas” pabrikan, yang diperlakukan sebagai outlet-outlet distribusi produk mereka.

  1. Paguyuban Produsen

Pilar keempat, ketika pasar telah tersedia dan ramai dikunjungi para pedagang dan pembeli, maka produksi akan tumbuh kembali di tangan masyarakat, melalui syarikat-syarikat (paguyuban/perkongsian) produksi. Dalam syarikat-syarikat produksi (di Eropa dikenal sebagai gilda) inilah bekerja sebagian besar orang sebagai para pemilik atau mitra-pemilik (co-owner). Dalam muamalat posisi majikan-buruh adalah perkecualian belaka, berkebalikan dengan keadaan saat ini, ketika pemilikan adalah perkecualian, dan perburuhan adalah kelaziman.

  1. Kontrak Bisnis Berkeadilan

Pilar kelima, sebagai konsekuensi dari kembalinya keempat pilar di atas, adalah kontrak-kontrak bisnis dan komersial menurut syariat: qirad (mudharabah), syirkat (perkongsian), muzara’ah (bagi hasil), dan sebagainya. Qirad (mudharabah) adalah kontrak kemitraan usaha dagang, antara pemodal dan agen yang ditunjuknya. Syirkat adalah kemitraan produksi sekunder. Muzara’ah adalah kemitraan produksi primer, seperti dalam pertanian dan perkebunan, di Jawa dikenal dengan istilah Maro.

Semua yang dikemukakan di atas barulah garis besar. Banyak hal rinci tentang muamalah yang masih harus kita pelajari dan amalkan.

Teruslah ikuti beberapa ulasan berikutnya dalam situs ini, khususnya uraian pilar demi pilar muamalat di atas, yang akan dimuat secara berseri (Pilar Pertama sampai Pilar Kelima).