Majelis Wirid Kesultanan Bintan Darul Masyhur

341

Majelis Wirid Kesultanan Bintan Darul MasyhurImam Malik r.a mengatakan bahwa setiap muslim haruslah menyatukan syariat dan haqeqat, yakni fiqih dan tasawuf. Barang siapa yang menjalankan haqeqat tanpa syariat akan rusak imannya, dan yang menjalankan syariat tanpa haqeqat adalah perbuatan sia-sia. Barang siapa menjalankan keduanya akan mendapatkan dienul Islam yang benar.

Demikianlah realitas sejarah Islam menunjukan, ketika Islam berjalan secara paripurna, di bawah kepemimpinan para Sultan, syariat dan haqeqat berjalan seiring, pengajaran fiqih dan tasawuf berlangsung bersamaan. Para Sultan dan para suyukh adalah tali Allah dan penjaga umat Islam. Madhab dan tariqah adalah realitas Islam yang saling melindungi.

Jalan “Islam Paripurna” ini yang kini kembali dipuayakan berlangsung di Kesultanan Bintan Darul Masyhur. Kebijakan Sultan Huzrin Hood tidak semata berada dalam ranah syariat, tapi juga haqeqat. Sultan Huzrin kembali menggairahkan tradisi bertareqah, dengan mengingikuti para suyukh, dan menjalankan ajaran-ajarannya, antara lain melalui Majelis Wirid. Sultan Huzrin acap mengudang para fuqara, sebagaimana berlangsung tadi malam, Selasa, 15 Maret 2016, di kediamannya untuk berlangsungnya majelis zikir dan diwan ini. Tradisi yang diikuti berasal dari Shaykh Muhammad ibn Al Habib, yang diteruskan oleh Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi, dalam Tariqah Qadiriyah-Sjadziliah-Darqawiah.

Inilah upaya menyatukan pengajaran dan penerapan syariat dan haqeqat. Hukum, adab, dan futuwwa, diajarkan dan dijalankan, semata-mata demi kecintaan kepada Sang Maha Pecinta dan Sang Teladan, Insanul Kamil, salallahualaihi wa sallam.