Makruhnya Puasa Syawal Menurut Imam Malik

416

Banyak orang  yang menganjurkan puasa Syawal 6 hari sebagai sunnah Nabi SAW. Dasarnya adalah suatu hadits yang sahih. Tapi, Imam Malik menunjukkan, para Sahabat, Tabiin dan Tabiit Tabiin, tidak  pernah melakukannya. Artinya puasa syawal bukan merupakan sunnah. Imam Malik bahkan memakruhkannya.

1. Hari-hari  ini banyak sekali anjuran agar berpuasa Syawal 6 hari yang dinyatakan sebagai sunnah Nabi SAW.

2. Dasar anjuran itu hadist Nabi SAW: “Orang yg puasa Ramadhan lalu diikuti puasa 6 hari Syawal, ganjarannya seperti berpuasa sepanjang tahun.”

3. Hadits itu adalah HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi, dan merupakan hadits yang sahih. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpegang kepadanya

4. Namun, Imam Malik, pendahulu dan guru Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, berbeda pandangan, dan menyatakan puasa 6 hari Syawal itu makruh.

5. Dalam Al Muwatta Imam Malik menyatakan: “Tidak pernah melihat satu pun dari orang-orang yang berilmu dan ahli fiqih mengerjakannya”

6. Imam Malik berkata: “Aku tidak pernah mendengar salah satu dari pendahulu kita melakukannya, dan orang-orang berilmu tidak membenarkannya…

7. Yang dimaksud oleh Imam Malik sebagai ‘pendahulu kita” adalah para Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Sedang “orang-orang berilmu” adalah para fuqaha

8. Alasannya, “Takut itu menjadi suatu bid’ah, dan orang-orang  kebanyakan serta yang tidak tahu mungkin menyatukannya dengan puasa Ramadhan sesuatu yang tidak ada di dalamnya”

9. Jadi, Imam Malik sangat tahu hadits di atas. Tapi tidak menemukan bukti bahwa para Shabat, Tabiin dan Tabiit Tabiin, ada yang mengamalkannya

10. Bagi Imam Malik, ‘amal ahlul Madinah itu, yaitu praktek para Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin, labih dekat kepada sunnah daripada hadits

11. Bagi Imam Malik ‘amal madinah,merupakan pengejawantahan sunnah, lebih valid ketimbang hadits, yang merupakan transmisi tekstual. Sahih sekalipun

12. Demikian perbedaan metodologi dalam fiqih Imam Malik, dari ketiga Imam yang lain, yaitu mendasarkan diri pada sunnah yang telah dipraktekkan, bukan sekadar teks.

13. Imam Malik, seperti muridnya Imam Syaif’i, juga seorang muhadits. Ia memeriksa lebih dari 100 ribu hadits. Tapi dalam Muwatta hanya dipakai 2700-an.

14. Dengan metode Imam Malik tidak semua sunnah itu perlu ada dukungan hadits (transmisi tekstual), baik yang tertulis maupun yang verbal.

15. Sebaliknya, banyak hadits, meskipun sahih, tidak pernah ada pelaksanannya. Karena itu ‘amal Madinah lebih dekat dengan sunnah daripada hadits.

16. Pandangan hukum dari Imam Malik ini, beserta argumen dan metode fiqihnya, dikemukakan bukan untuk memicu perdebatan, tapi sangat penting  untuk diketahui.

17. Pertama, saat ini umumnya umat Islam tidak mengerti perbedaan antara sunnah dan hadits. Banyak yang menyamakannya. Bahkan dengan hadits sudah dianggap jadi hukum

18. Kedua, pengertian amal ahlul mMadinah, sebagai warisan dari Nabi saw yang dijalankan oleh Sahabat, tabiin, dan Tabiit Tabiin, tidak dimengerti

19. Ketiga, dalam kenyatannya, yang dikhawatirkan Imam Malik, bahkan sebelum Imam Syafi’i hadir, bisa kita tandai hari ini, yaitu…

20. “adanya kecenderungan menganggap puasa Syawal 6 hari itu sangat penting dan seolah menjadi “bagian” dari Ramadhan”. Dus bisa jadi bid’ah.

21. Sekali lagi, posisi fiqih tidak untuk diperdebatkan, tapi dipahami alasan-alasannya, dan diikuti mana yang paling diyakini.

22. Bagi saya pribadi, setelah mempelajari berbagai madzhab utama yang ada, lebih meyakini yang diajarkan oleh Imam Malik – sebagai Imam Darul Hijrah

23. Imam Malik juga merupakan “ummul madzhab’, induk madzhab-madzhab, karena merupakan hulu-nya. Juga terdekat dengan amalan  Nabi SAW.

24. Rasul SAW sendiri juga pernah menyatakan bahwa kelak di akhri zaman umat Islam akan kembali ke Madinah ‘bagaikan ular masuk ke liangnya”

25. Untuk sampai ke Madinah al Munawarrah itulah jalan Imam Malik,  adalah jalan yang paling mudah, lurus, dan otentik. Allahu ‘aliim