Manuskrip Nusantara, Harta Karun Masa Depan Kita

2037

Akhir pekan lalu saya menghadiri acara seminar “Benchmarking Model Preservasi Naskah Klasik Keagamaan di Turki, Iran, Mesir, dan Maroko”, diselenggarakan oleh Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Balitbang dan Diklat, Kemenag RI. Secara substantif seminar ini tidak menyajikan hal yang mendalam. Sebab fokusnya memang pada majanemen dan tatalaksana arsip. Dalam hal ini naskah-naskah klasik yang umurnya ratusan sampai ribuan tahun!

Meski hanya menyentuh soal permukaan, ada hal yang menarik dari seminar ini. Yakni  banyaknya  naskah manuskrip karya ulama Nusantara yang tercecer di Mesir, Turki, Afrika Selatan, India, Saudi Arabia dan (mungkin) Maroko, selain Jerman dan Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. Sementara, di negeri ini sendiri, banyak manuskrip-manuskrip yang masih tercecer di tangan individu-individu dalam masyarakat. Dan bukan saja manuskrip itu menjadi tidak terurus bahkan banyak yang dijual ke pihak luar negeri. Sementara manuskrip yang masih ada, malah diperlakukan bukan sebagai benda pustaka, tetapi sebagai benda pusaka. Akibatnya tidak bisa diakses dan tidak lagi berfungsi sebagai bahan pengetahuan.

Masyarakat memang banyak belum mengerti makna pentingnya manuskrip tua. Bahkan di kalangan akademisi pun, umumnya tertarik menekuni manuskrip sebagai benda sejarah, pengetahuan masa lalu, yang perlu diketahui tapi tidak dalam kegunaannya di masa kini.

Beberapa tahun lalu, Shaykh Abdalqadir as Sufi mengatakan, betapa pentingnya bagi kita untuk mempelajari sejarah Nusantara sebelum Perang Dunia. Maknanya adalah sebelum abad ke-20. Beliau mengatakan secara metaforis: “Pungutlah yang orang-orang [modern] buang.” Dan, juga berpesan, “Bila ingin mempelajari Dien yang murni, rujukah kitab-kitab yang usianya tidak kurang dari 100 tahun.”

Ya, masa 100 tahun terakhir, kita saksikan devaluasi dan degradasi peradaban manusia, termasuk dalam dunia politik dan ilmu pengetahuan dan praktik Dinul Islam. Ini akibat dari gerakan pembaruan, Reformasi Islam, oleh kalangan modernis yang dipelopori oleh trio Afghani, Abduh dan Ridha, yang mengakibatkan Islam historis lenyap di muka bumi. DIgantikan Islam baru, Islam modern, yang tidakmemiliki unsur-unsur keunggulan Islam sebagai jalan hidup.  Dintundukkan di bawah paradigma modern, Islam yang disubordinasikan di bawah konstitusi, dan negara fiskal. Islam yang ditinggal hanya sebagai sumber moralitas pribadi. Tak ada dalam kehidupan sosial dan politik.

Tetapi modernitas tengah mengalami pembusukan. Selama 4-5 abad sejak kehidupan modern diadopsi umat manusia, yang terjadi adalah kegagalan, manusia tidak lagi bisa mengandalkan nalarnya sendiri. Modernisme telah mencapai puncaknya, untuk kemudian mengalami pembusukan, dan kematian. Inilah siklus alamiah, sebagaimana ditunjukkan oleh Ibn Khaldun dan Polibius, yang kini telah sampai pada ujungnya. Dan akan kembali bersemi benih siklus berikutnya, kehidupan fitrah, untuk menggantikan kehidupan tekokratis yang melawan fitrah.

Karenanya, manuskrip Nusntara, adalah sumber kekayaan pengetahuan kita untuk masa depan. Untuk kembali Dienul Islam sebagtai jalan hidup.  Inilah kekayaan pengatahuan yang kita perlukan untuk masa kini dan masa depan, yang perlu dihidupkan kembali dan diamalkan di sini. Pengetahuan tentang muamalah, tata pemerintahan, pengobatan, cuaca dan ikloim, dan lain sebagainya, dari kitab-kitab tua itu akan kembali kita perlukan saat ini. Kita hubungkan kembali masa depan kita dengan masa lalu kita.

Masa depan kita ada pada masa lalu kita.