Mengapa Kartini, dan Para Pahlawan Lain, Menghiasi Uang Kertas?

1891

Wajah Ibu Kartini menghiasi salah satu mata uang kertas yang awal dicetak oleh Bank Indonesia, yaitu Rp 5, bertahun 1952.  Ini setara dengan sekitar 0.44 dolar AS, yang waktu itu kursnya adalah Rp 11.4/1 USD.  Tapi, ketika wajah Kartini muncul lagi di uang kewrtas yang serupa, 1980, nilai nominalnya menjadi Rp 10.000. Apakah berarti rakyat Indonesia semakin kaya? Tidak. Justru sebaliknya. Semakin miskin. Lembaran kertas bergambar Kartini  yang Rp 5 tidak lagi setara 0.44 dolar AS, melainkan cuma 0,008 dolar AS. Artinya merosot sekitar 55 kali lebih rendah. Maka, BI  mengubah nominal Ibu Kartini dari Rp 5 menjadi Rp 10.000, menggelembungkannya sebanyak 2000 kalinya!

Secara riil bila diukur dengan emas, pada 1952 itu, selembar Rp 5 bisa dibelikan 0.1 gr emas, karena harga emas Rp 50/gr. Tapi uang yang sama, pada 1980, bila dibelikan emas, hanya akan mendapatkan 0.005 gr, karena harga emas sudah melonjakmenjadi Rp 850/gr, pada 1980. Maknanya Kartini kita, seluruhrakyat Indonesia yang memegangnya, telah 17 kali lebih miskin hidupnya!

Begitulah, pencantuman gambar-gambar sosok tokoh atau “pahlawan” nasional di atas uang kertas menjadi model tipikal para bankir di seluruh dunia. Ini, tentu saja, hanya untuk mengelabui seolah bank-bank swasta itu ada kaitan dengan pemerintah. Secara psikologis warga negara akan merasa “aman, tertib, dan legal”, dengan memegang uang kertas bergambar para hero mereka.

Pahlawan Kertas

Semula di atas secarik kertas ini pun dicantumkan “Will Pay to the Bearer on Demand“. Maknanya adalah bankir-bankir itu berjanji akan membayarkan hutang mereka senilai yang tercantum di atas kertas itu, misalnya 100.000 rupiah, yaitu 100.000 koin rupiah [koin perak seberat 11.2 gr, atau kebanyakan juga koin emas]. Tetapi, meskipun secara legal, setiap uang kertas diterbitkan dan diedarkan,  tetap masih merupakan surat utang, janji itu tidak akan pernah ditepati. Kalau kepada bankir di bank sentral saat ini kita tagih “Tolong kembalikan harta kami, dan ini kukembalikan bukti utangmu kepadamu,” mereka akan menjawab “Yah, utang saya angka 100.000 itu”.

Angka 100.000? Apa makna angka tersebut? Ghaib.

Dalam bahasa al Qur’an mereka mengatakan: “tidak ada kewajiban kami atas mereka [para pemberi amanah].”

Sesungguhnya Allah SWT telah memperingatkan kita akan perilaku orang-orang, para bankir,  yang mengkhianati amanah tersebut. Dalam Surat Ali Imran ayat 75 Allah berfirman yang artinya:

“Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta [emas] yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: ‘tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi’. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” [Ali Imran 75]

Uang kertas yang beredar, yang berada di tangan kita, adalah janji utang. Dan dalam setiap lembar juanji utang itu mengandung bunga. Semakin luas beredar, semakin besar bunganya. Dan bunga itu berbunga terus. Inilah yang menjelaskan mengapa Kartini  Rp 5 pada 1952 harus diubah menjadi Kartini Rp 10.000 pada 1980, dan kini Kartininya bahkan sudah tidak laku, pada 2016. Uang kertas hanyalah se\carikkertas tak bernilai. Akan terus kembali kepada fitrahnya sebagai benda tak bernilai.

Para bankir jelas telah berkhianat. Allah SWT telah memberitahukannya kepada  kita. Dan kita telah mengalami buktinya. Solusinya kini telah tersedia. Miliki dan transaksikan harta milik kita sendiri, koin Dinar emas dan Dirham perak, yang bernilai riil.  Secara bertahap tinggalkan uang bank dan para bankir. Hentikan pemiskinan  struktural dan kezaliman ini.