Mengapa Selalu Ada Perbedaan Penetapan Ramadhan?

553

Setiap kali menjelang Ramadhan selalu timbul isu  kontroversi soal penetapan awal bulan. Perbedaan itu bermula dari penggunaan dua cara penetapan  awal bulan baru tahun hijriah yang berbeda. Yang pertama adalah melalui cara hisab, dan yang kedua melalui cara rukyat, yang didahului dengan hisab.

Cara hisab ditempuh melalui perhitungan astronomis  dan matematis di atas meja. Sedangkan cara rukyat dilakukan melalui penglihatan secara riil  munculnya bulan baru, baik dengan mata telanjang ataupun dengan alat bantu seperti teleskop sederhana maupun teropong bintang yang canggih. Ilmu atsronomi sendiri di kalangan Islam, berkembang dengann sangat maju  sekitar 500 tahun sesudah masa  kerasulan, yaitu di awal abad pertengahan.

Akar masalahnya sesungguhnya “sederhana”, yaitu tiadanya kepemimpinan dalam umat Islam hari ini. Dan itu bukan cuma terjadi di Indonesia tapi di seluruh dunia Islam.  Sebab penetapan awal  penanggalan hijriah, khususnya dua Ied, dan itu berarti juga awal Ramadhan, merupakan hak dan kewenangan seorang Amir atau Sultan. Penetapan awal Ramadhan adalah bagian dari Amar, merupakan wilayah politik, urusan umat yang hanya para Amir atau Sultan yang berwenang. Umat hanya mentaatinya, dan tidak akan ada kontroversi.

Tapi, mengapa pada dataran “teknis” kontroversi itu terjadi? Adakah sesuatu kepentingan yang dipertahankan? Tulisan ini mencoba untuk memeriksanya.

 Rukyat adalah Pembuktian

Dalam kitab Muwatta, bab Puasa, Imam Malik meriwayatkan: Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik dari Thawr ibn Zayd ad-Dili dari ‘Abdullah ibn Abbas bahwa Rasulullah salallahu alaihi wassalam, menyatakan tentang Ramadhan dan berkata, “Jangan mulai berpuasa atau mengakhirinya sampai engkau melihat bulan baru. Bila bulan baru tidak nampak olehmu, maka genapkan tiga puluh hari penuh.”

Dalam riwayat lainnya   Rasulullah SAW  mendahuluinya dengan  menyebutkan bahwa tiap-tiap bulan itu terdiri atas 29 hari.

Para ulama menunjukkan  ada hampir  lima belas riwayat lain yang menyatakan hal yang sama: bahwa awal dan akhir  Ramadhan ditetapkan melalui  pembuktian atas munculnya bulan baru (hilal) yang disebut rukyat,  dan baru diikuti dengan perhitungan, yakni penggenapan bulan Ramadhan menjadi 30 hari, bila hilal tidak nampak.  Demikian yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, yang dilakukan oleh para Sahabat, oleh para Tabiin dan Tabiit-Tabiin, serta oleh umat Islam sepanjang ratusan tahun lamanya. Dan itulah sunnahnya, yang harus kita ikuti.

Lantas mengapa ada yang mempertahankan cara hisab secara ’mati-matian’, bahkan bila menghasilkan perbedaan awal  Ramadhan sekalipun, dan itu berarti menimbulkan perpecahan?

perhitungan_hilal_rukyat

Benar bahwa awal Ramadhan tidak harus seragam, bila itu pada wilayah yang berbeda secara geografis yang memang  dalam posisi yang menghasilkan bulan baru yang berbeda pula. Misalnya awal bulan di Maroko dan di Indonesia, tentu saja akan berbeda. Artinya, merupakan kekeliruan juga pendapat yang menyatakan bahwa Ramadhan (atau hari lebaran )– secara global – harus seragam. Tetapi, untuk wilayah yang sama,   tidaklah masuk akal dan karena itu tidak bisa diterima adanya perbedaan ini.

Dengan kata lain salah satu di antaranya pasti tidak bisa diterima, dan dalam soal penetapan awal Ramadhan ini kesalahan itu  tidak boleh ditolerir, karena menyangkut  ibadah wajib – puasa Ramadhan – dengan konsekuensi dosa. Dan jalan yang harus kita pilih seharusnya adalah yang dicontohkan oleh Rasulullah salallahualaihi wassalam sendiri, para Shabatnya, serta para  Pengikutnya. Dan itu adalah melalui cara pembuktian,  tindakan riil rukyatul hilal, dan bukan sekadar perhitungan di atas meja, melalui hisab. Bila hilal tak nampak, solusinya pun sederhana, jelas dan langsung, yakni ‘genapkan bulan berjalan menjadi 30 hari.’

Perlu dipahamkan di sini bahwa  hal ini penting dilakukan bukan bertujuan semata untuk  ‘menyeragamkan hari puasa’ – yang bukan keharusannya – melainkan untuk mengembalikan sunnah nabi dan ‘amal  generasi salafus salih yang telah hilang. Lebih-lebih, dalam konteks saat ini, menegakkan kembali sunnah itu  sangat penting karena pilar-pilarnya telah dirobohkan secara sistematis. Termasuk dalam hal penetapan penanggalan hijriyah yang  berkiatan langsung dengan soal otoritas Islam, dus penegakan syariat Islam secara keseluruhan.

Kesesuaian dengan Sistem Riba

Konteks kita hari ini adalah sistem riba yang mengendalikan seluruh cara berpikir dan bertindak manusia saat ini. Karena itu segala sesuatu yang cocok dan   bersesuaian  dengan sistem riba akan dipertahankan. Lantas di mana hubungannya dengan metodologi hisab dalam penetapan bulan baru hijriyah?

Cara hisab dilandasi, setidakny dipengaruhi dengan sangatkuat,  oleh rasionalisme Barat.  Doktrinnya adalah  bahwa alam semesta ini berjalan secara mekanistis, peran  Tuhan dinyatakan  telah selesai sesaat setelah menciptakannya, selanjutnya peran manusialah untuk mengelola dan mengolahnya. Dengan cara pandang ini, semuanya dianggap  serba bisa diperhitungkan secara rasional, secara terstruktur dan sistematis. Ide menyingkirkan tindakan nyata. Perhitungan di atas meja dianggap cukup,  pembuktian tidak diperlukan lagi. Berkembangnya ilmu astronomi menjadi dasar legitimasi dan jastifikasinya.

Awal perubahan cara berpikir dan bersikap ini disebutkan sebagai Pencerahan – yang oleh sebagian umat Islam dijadikan paradigma untuk ‘memajukan dan memodernkan Islam’.  Cara-cara lama, dianggap tidak ilmiah, tidak modern, menyebabkan ketertinggalan Islam (dari dunia Barat).  Dalam konteks penanggalan hijriyah, misalnya, diokatakan bahwa dengan hisab kitabahkan bisa membuat kalender selama 100 tahun dengan tepat!

Dengan dalih ‘memajukan Islam, melepaskan dari kejumudan’, dengan slogan tajdid,  pembaruan Islam dikumandangkan dan diprogramkan secara massif. Sebaliknya, yang tidak mengambil jalan ini, disebut sebagai kolot dan taqlid buta. Fiqih, dan karena itu maddhab, ditolak ; digantikan dengan ‘ijtihad’ dengan mengakes langsung al Qur’an dan hadis.  Rasionalisme menggantikan eksistensialisme.

Begitulah, selangkah demi selangkah berbagai sunnah dan  ‘amal, yang tidak lain adalah kesatuan ide dan  tindakan nyata,  tradisi eksistensialis yang bermuara pada Rasul SAW, dipreteli satu per satu. Para pembaru Islam mentransformasikan syariat Islam menjadi ‘prinsip dan nilai-nilai Islam’. Hukum digeser menjadi moralitas.  Islam, sebagai kesatuan hukum dan politik, lenyap dari muka bumi. Tujuannya, dan hasilnya sabagaimana kita lihat hari ini, adalah ditundukkannya Islam di bawah sistem riba – Kapitalisme dan Demokrasi –  yang berlaku hari ini.

Jangan lupa bahwa Galileo, Bapak Astronomi modern, adalah juga peletak dasar rumus bunga majemuk, yang memungkinkan riba dijalankan secara sistematis, sebagaimana dilaksanakan oleh para bankster hari ini. Kita juga tahu  bahwa patron Galileo adalah Keluarga Medici, salah satu bankir terkemuka di zamannya.   Rasionalisme, cara berpikir kalkulatif dan spekulatif, sangat diperlukan bagi keberlangsungan riba. Dengan hisab kalender 100 tahun ke depan pun bisa ditetapkan. Dengan perhitungan rumus anuitas utang berbunga selama 100 tahun juga dapat ditetapkan.

Pengertian eksistensialis tentang nilai, sebagai sesuatu yang intrinsik sifatnya, riil melekat pada zatnya,  sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW pada alat tukar berbasis komoditi – yang terbaik dan lazim adalah Dinar emas dan Dirham perak – melalui rasionalisme dipinggirkan dan diganti dengan  pengertian yang abstrak, melalui angka nominal pada uang kertas, sebagaimana  pembuktian riil  melalui rukyatul hilal dipinggirkan dan diganti dengan perhitungan astronomis-matematis  di atas meja dengan hisab. Dus uang kertas, dan sistem riba,  mendapatkan pembenarannya.

Selain itu, cara rukyatul hilal adalah tindakan nyata yang ditradisikan oleh Rasul SAW, turun temurun kepada generasi berikutnya melalui  fiqih,   dan mensyaratkan tegaknya otoritas Islam dan ketaatan kepadanya – dus menyatukan umat Islam dalam kepemimpinan dan syariat, politik dan hukum Islam.  Rukyatul hilal, bila dijalankan sesuai rukun dan syaratnya, sebagaimana dijalankannya kembali pemakaian  Dinar dan Dirham, membuka pintu bagi kembalinya syariat dan politik Islam ini dalam kehidupan sehari-hari.  Semuanya harus dimulai dengan yang paling basics :  Muslim harus kembali berjamaah, mengangat para Amir, dan kemudian Sultan, dan mengembalikan hak dan kewenangan ulil amri, dengan ketaatan dan pendengaran dari umatnya.

Sementara, Hisab saja berimplikasi  yang sebaliknya: mengabaikan itu semua, dus menutup pintu bagi kemungkinan kembalinya syariat dan politik Islam, dan  membiarkan hukum dan politik riba  terus berlaku.  Tradisi – sunnah dan ‘amal – yang bermuara langsung kepada Rasulullah SAW, para Sahatab, dan Tabiin, dan Tabiit Tabiin,  pun putus, dan dihentikan,  di situ.