Mengerti Riba dalam Qur’an dan Sunnah

100

Inilah paradoks  umat Islam menjelang  akhir zaman:  riba telah begitu  merajalela, merasuki seluruh sendi  kehidupan, dan memaksakan praktis semua orang terkena riba. Riba telah dijadikan sebagai  sistem, dan cara hidup!  Namun, kenyataan lainnya, di saat riba telah menjadi cara hidup ini  justru  amat sedikit ulama yang berbicara tentang riba, menjelaskan bentuk-bentuknya, lalu menyerukan umat Islam agar menjauhinya.  Apalagi memandu untuk menegakkan muamalah yang halal agar riba bisa kita tinggalkan.

Malah sebaliknya, jauh lebih banyak “ulama” yang sangat permisif terhadap riba.  Mereka memberikan pembenaran kepada praktek “riba dari pintu belakang”, melalui islamisasi ekonomi dan perbankan, dengan segala produk turunannya. Lebih jauh lagi banyak ulama yang duduk di dalam majelis ulama yang  “resmi” dan memberikan fatwa kehalalan berbagai produk ribawi tersebut, yang tentu saja pengaruhnya terhadap umat Islam menjadi jauh lebih buruk.   Sedang kemandirian “ulama” yang duduk di majelis resmi ini bisa dipersoalkan karena pada saat yang bersamaan kebanyakan dari mereka juga dipekerjakan, dan digaji, oleh industri keuangan syariah dalam “dewan pengawas syariah” masing-masing.

Masyarakat awam, dan terutama para pelaku industri riba, kemudian dengan nyaman berlindung di balik fatwa resmi majelis ulama tersebut. Padahal, bukan merupakan kelaziman suatu fatwa dikeluarkan secara institusional, secara nonpersonal, dan karena itu sulit dipertanggungjawabkan.  Kelaziman sebuah fatwa adalah dikeluarkan oleh  para mufti secara individual, berdasarkan kapasitas dan kemampuan masing-masing  sebagai seorang faqih, hingga ia sendirilah yang mempertanggungjawabkan fatwa tersebut  kepada Allah SWT.  Dan sebuah fatwa hanya efektif ketika ditindaklanjuti, dieksekusi menjadi Amr, oleh seorang amir atau sultan, para ulil amri di antara umat Islam.

Shaykh Imran N Hosein adalah salah satu di antara sedikit ulama yang dengan gigih menyerukan umat Islam menjauhi riba. Ia juga menunjukkan bahwa perbankan syariah, dengan segala produknya, adalah penyimpangan dan pengelabuan. Ia mengatakan bahwa bank syariah adalah riba dari pintu belakang. Ini senada dengan pernyataan dari Shaykh Umar I Vadillo, ulama lain yang gigih menyerukan kebatilan riba, yang menyebutkan bank syariah adalah Kuda Troya yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam  ke tengah umat Islam.

Buku Larangan Riba dalam al Qur’an dan Sunnah  ini adalah salah satu upaya Shaykh Imran menyadarkan umat Islam tentang bahaya dan akibat riba. Dia menunjukkan bahwa riba, yang telah menjadi sistem global ini, pada dasarnya adalah instrumen perbudakan dari segelintir elit predator: oligarki bankir.  Riba adalah alat untuk memperkaya segelintir orang dengan cara memiskinkan mayoritas manusia pada skala global.

Dengan merujuk kepada al Qur’an dan hadits, tetapi juga pada kitab-kitab suci lainnya, khususnya Taurat, Zabur dan Injil, Shaykh Imran  menunjukkan bahwa riba adalah penyimpangan sangat mendasar dan berangkat dari pembangkangan satu kaum, yakni kaum Nabi Musa a.s,  kepada Allah SWT. Untuk membenarkan penyimpangan mereka ini  kaum tersebut bahkan telah berani mengubah isi perintah dari Allah SWT. Dan karena itu riba, tidak lain, adalah bentuk kemusyrikan.  Sistem yang  memberlakukannya adalah sistem syirik. Riba adalah produk dari penyekutuan  terhadap Allah SWT.

Dengan berjalannya waktu pembangkangan dan penyimpangan satu kaum itu kemudian diikuti, ditiru, oleh kaum-kaum  ahli kitab sesudahnya, dengan yang terakhir  yang masuk ke dalam liang kadal yang sama, adalah kaum  Muslimin.  Dengan  telah menjadi sistem maka  riba tidak bisa diatasi  secara perorangan.  Riba hanya bisa diatasi secara sistemik, melalui jamaah, yang menegakkan alternatif dari  riba, yaitu muamalah.

Dalam kesimpulannya Shaykh Imran, dengan sangat tepat, menyatakan:

“Perlindungan yang terbaik dari riba yang dapat diambil oleh seseorang adalah dengan menjadi anggota jama’ah yang dipimpin oleh seorang Amir  yang memiliki ilmu pengetahuan akan Dien dan memimpin jama’ah tersebut dengan menuruti  panduan dan perintah Al Qur’an dan sunnah. Setiap orang harus memberikan janji setia (baiat) kepada Amir  tersebut dan kemudian hidup dengan kesepakatan disiplin yang ditegakkannya di bawah kewenangannya.”

Bagaimanakah mewujudkan nasehat Shaykh Imran ini?

Dengan berjamaah di bawah para amir atau sultan, kaum muslimin kemudian menegakkan syariat Islam bersama-sama, mencetak dinar emas dan dirham perak, serta fulus; menarik dan membagikan zakat dengan keduanya melalui pengaktifan Baitulmal, mengorganisasikan pasar dan perdagangan bebas tanpa riba, mengorganisasikan karavan dagang dan syarikat produksi, serta  menerapkan kontrak-kontrak qirad dan syirkat.  Inilah muamalah yang haq.

Untuk memberikan gambaran kongkrit tentang upaya-upaya yang kini tengah dilakukan  umat Islam di sejumlah tempat dalam menerapkan kembali muamalah yang halal ini dapat disimak pada Epilog buku ini. Umat Islam di setiap tempat seyogyanya  meneladani dan mencontoh langkah-langkah kongkrit ini.

Dengan hadirnya yang haq, maka yang batil akan musna.

La ghaliba ilallah.