Menghidupkan Kembali Imaret dan Karavanseri

638

Istilah Karavanserai berasal dari caravan, yang mengacu kepada rombongan para pedagang, yang juga kita kenal sebagai kafilah.  Sebagaimana kita ketahui perdagangan merupakan kegiatan utama kaum Muslim sepanjang masa, ketika syariat muamalat masih ditaati. Penyebaran Islam ke berbagai pelosok bumi, termasuk yang sampai ke bumi Nusantara, juga berlangsung melalui kegiatan perdagangan. Rute perdagangan legendaris yang kita ketahui sampai kini adalah Jalan Sutera, yang menghubungkan perdagangan dari kawasan bumi bagian timur, melalui jalur Asia Tengah, sampai ke bumi bagian barat,  di Eropa.

Di bawah naungan otoritas-otoritas Islam perdagangan berlangsung dengan subur, karena perdagangan benar-benar berlangsung tanpa hambatan – yang di zaman modern kini dikenal dengan hambatan tarif maupun nontarif. Manifestai hambatan tarif dan nontarif ini bermacam-macam, tapi semuanya bermuara pada satu hal: sistem riba. Dalam Islam pedagang sangat dihormati, dilindungi, dan diperlakukan secara istimewa, lagi-lagi kontras dengan zaman modern (baca: sistem riba) sekarang  ketika para pedagang justru dikejar-kejar polisi pamong praja (Satpol PP). Para rentenirlah yang kini dihormati.

Salah satu bentuk perlindungan dan penghormatan bagi para pedagang adalah dibangunnya tempat-tempat peristirahatan yang disebut Karavanserai di atas. Pada semua jalur perdagangan, pada tiap-tiap jarak sekitar 30 km – sekitar jarak tempuh sehari perjalanan – dibangun sebuah Karavanserai. Selain memberikan tempat beristirahat, Karavansersai memberikan perlindungan dari beragam ancaman perjalanan seperti pembegal atau kondisi alam dan cuaca. Dalam tiap-tiap Karavanserai, karena itu, kita dapat temukan berbagai fasilitas: kamar-kamar untuk menginap, pergudangan untuk menyimpan barang, kandang-kandang bagi kuda atau onta, serta dapur umum.

denah-imaret

Untuk menilai betapa seriusnya para Amir setempat dalam menjamu para pedagang ini, bisa dilihat dari bangunan  fisik Karavanserai itu sendiri. Karavanserai merupakan bangunan-bangunan dengan corak  arsitektural indah. Pada umumnya, ini yang penting kita teladani, Karavanserai merupakan harta wakaf. Para Amir setempat, atau nadhirnya bila Karavanserai bersangkutan merupakan wakaf pribadi,  memperlakukan para pedagang yang menginap di Karavanserai benar-benar layaknya tamu agung. Pada tiap-tiap Karavanserai juga dipekerjakan sejumlah orang untuk mengurusi para pedagang, menjaga harta dagangannya, merawat kendaraan dan kuda atau onta mereka, dan seterusnya. Mereka dijamu penuh selama tiga hari, dijamin makan dan tempat tinggalnya, dan  hanya bila memerlukan lebih dari tiga hari mereka dikenai biaya.

Karavanserai, pada prakteknya, bukan saja memberikan dukungan langsung bagi para pedagang, tapi juga  menjadi bagian dari keandalan sistem transportasi perdagangan secara umum. Jangan dilupakan, bahwa rute-rute perdagangan tersebut, pada umumnya juga mencakup perdagangan internasional. Perjalanan para kafilah atau karavan dagang acap kali harus berbulan-bulan lamanya, sambil mereka melakukan perniagaan.

Dalam aktifitas kafilah atau karavan dagang ini lah kontrak-kontrak kemitraan dagang, yang dalam syariat Islam dikenal  sebagai mudharabah atau qirad, berlangsung. Di tangan para pedagang yang andal dan jujur, yang tergabung dalam karavan, inilah uang dari berbagai investor dikerjasamakan. Sebagaimana dulu Siti Khadijah memercayakan uang nya pada pemuda Muhammad, yang sejak muda acap tergabung dalam karavan dagang pamannya, Abu Thalib, sampai ke negeri Syam. Tentu, aktifitas karavan, ketersediaan Karavanserai, serta dana-dana qirad, masih belum akan membuat perdagangan berlangsung makmur, tanpa satu syarat utama lainnya: pasar.

Di kota-kota Islam, selalu terdapat pusat-pusat perdagangan, yang menjadi tujuan dagang rombongan-rombongan karavan dari berbagai penjuru dunia, yakni pasar-pasar terbuka untuk umum. Pusat-pusat perdagangan ini, hampir selalu, dibangun berdekatan dengan masjid-masjid terindah yang ada di kota bersangkutan. Di pasar-pasar itulah dalam kegiatan komersialnya, para pedagang akan berinteraksi dengan paguyuban-paguyuban produsen (syirkat-syirkat) dan para pembeli dari masyarakat sertempat.  Dengan demikian, bukan saja perdagangan berlangsung meriah, tetapi juga dengan produk dagangan bermutu tinggi dan berharga murah.

Dalam Program Baitul Mal Nusantara (BMN)  ke depan, sebagai bagian dari lanskap Pengembangan Wakaf Imarah dan Pasar, pembangunan  Karavanseari merupakan salah satu prioritasnya. Tantu,  dengan format yang akan disesuaikan dengan kondisi zaman kita sekarang. Saat ini, bersamaa dengan Kesultanan Bintan Darul Masyhur (KBDM) telah dibebaskan lahan di daerah Toapaya, Tanjung Pinang, yang akan menjadi lokasi Imaret Toapaya. Di situ akan dibangun masjid, wisma singgah, pasar, kios-kios, klinik, madarasah.