Menyuburkan Wakaf, Memusnahkan Riba

656

Suatu kali Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam bersabda “akan datang  suatu masa ketika semua orang memakan riba. Mereka yang menolak riba pun pasti terkena debunya.” Artinya seluruh tata kehidupan pada masa itu bercampur dengan riba hingga kita tak bisa menghindarinya.   Sekarang   perhatikan keadaan sekeliling kita.

Ketika seseorang hendak memiliki rumah, kendaraan, peralatan rumah tangga (tivi, perabot elektrobik, mebel, dsb), pada umumnya, harus membayarnya dengan kredit, karena harga yang tak terjangkau. Lebih dari itu, untuk kebutuhan sekunder pun, seperti untuk biaya pendidikan,  ongkos kesehatan, juga berbasis kredit.

Bisakah kita menghindari riba, setidaknya debunya, ketika telah jadi  sistem? Untuk bepergian pun, apalagi kalau lewat jalan tol,  kita terlibat dengan sistem riba – karena ongkos tol dan pajak jalan yang kita bayarkan  mengandung riba, sebab investasinya berasal  dari kredit perbankan. Bahkan seluruh layanan sosial yang disediakan pemerintah pun, dalam bentuk apa pun, sesungguhnya dibiayai dari utang berbunga dari perbankan. Bukankah untuk menggaji PNS pun pemerintah mengandalkan APBN yang berasal dari utang berbunga dari bank luar negeri?

Sebagai kaum beriman kita tak boleh menganggapnya  sepele. Allah SWT  mengancam hukuman yang berat para pelaku riba. Dosa yang harus mereka  tanggung karena keterlibatan dengan riba adalah dosa terbesar kedua sesudah syirik. Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam telah pula menegaskan bahwa kedudukan mereka yang terlibat dengan riba – langsung atau tidak langsung – yaitu yang membayarkan, yang menerima, yang mencatat, dan yang membiarkannya, adalah sama kedudukannya. Kita semua berdosa atasnya.

Mengapa dosa riba begitu besar dan ancaman hukumannya begitu berat?

Sebab akibat riba adalah kesengsaraan bagi semua orang. Riba telah mengakibatkan seluruh beban  kehidupan menjadi semakin tidak tertanggungkan, biaya dan harga apa pun menjadi berlipat ganda. Sekali  lagi perhatikan kenyataan di sekeliling kita: semula setiap keluarga secara relatif mudah dapat memiliki rumah. Tapi, ketika  tanah-tanah dikuasai para bankir melalui pengembang-pengembang, memiliki rumah mulai menjadi kemewahan.  Dan dengan dalih menolong masyarakat  para bankir menciptakan  Kredit Perumahan Rakyat (KPR).  Apa akibatnya? Justru harga rumah semakin tak terjangkau. KPR yang  semula ditujukan untuk rumah tipe 70, harus diturunkan  untuk tipe 60, lantas untuk tipe 45,  lalu tipe 36, dan kini semakin kecil lagi untuk tipe 21. Itu pun hanya bisa dibeli oleh sedikit orang, karena harganya yang semakin mahal.

Juga untuk  biaya kesehatan dan pendidikan. Lagi-lagi dengan dalih membantu masyarakat untuk “meringankan” biaya jasa sosial ini para rentenir menciptakan berbagai bentuk kredit, asuransi, tunjangan, dan sebagainya, yang semuanya berbasis pada utang berbunga. Lagi-lagi akibatnya adalah  justru biaya kesehatan dan pendidikan semakin tidak terjangkau. Sebab, selain membayar ongkos untuk jasa pendidikan dan kesehatan itu sendiri, masih harus ditambah dengan biaya bunganya.

Dalam Al Qur’an Allah SWT melarang pemraktekan riba yang berlipat ganda (mudhoafah). Sistem perbankan memastikan riba sekecil apa pun menjadi berlipat ganda. Pelipatgandaan ini bukan saja terjadi secara linier, pada  utang bunga  berbunga yang secara langsung dikenakan oleh  perbankan pada kredit yang dikeluarkannya, tetapi efek rentetan yang terjadi pada setiap transaksi yang mengandung utang  bunga, yang ditanggung oleh  seluruh masyarakat dalam bentuk beban hidup yang semakin mahal.

Riba mempengaruhi semua sektor kehidupan karena  melibatkan  unsur cost of money, disebut bunga atau tidak, dan mematikan sejumlah sektor riil karena hambatan “biaya uang” ini.  Akibat lanjutnya  adalah tertutupnya kesempatan jutaan lapangan pekerjaan.  Dalam prakteknya pinjam-meminjam uang berbunga ini adalah kegiatan sewa-menyewa uang. Sehingga masyarakat tidak terdorong menginvestasikan uangnya ke sektor produktif. Berapa juta lapangan pekerjaan yang tertutup dengan uang masyarakat yang disewakan kepada perbankan atau lembaga keuangan nonbank, dengan bunga katakanlah 15%/tahun, misalnya, dibandingkan dengan bila uang-uang tersebut diinvestasikan dalam kegiatan ekonomi riil melalui skema bagi hasil, misalnya?

Ambillah contoh keadaan saat ini ketika perbangkan maupun institusi turunannya, termasuk BMT (Baitul Mal wa Tamwil), mengenakan  bunga atau cost of money pada pinjaman sebesar 15% tersebut di atas,  maka  kegiatan investasi produktif yang memberikan keuntungan kurang dari 15% dianggap tidak layak .

Apa akibatnya?

Banyak lapangan kerja yang tertutup dan ekonomi yang tidak efisien  karena tambahan biaya akibat riba. Belum lagi ditambahkan beban riba berbentuk aneka rupa pajak yang akan kita bahas dalam tulisan berikutnya nanti.   Akibat lanjutnya adalah harga barang dan jasa yang tidak bisa lagi  murah, karena pertama-tama harus ditambahkan dengan harga sewa uang atau modal yang dipakai dalam menghasilkan barang dan jasa tersebut, serta pajak-pajak yang dikenakan atas seluruh proses produksi itu maupun pada produknya sendiri.

Karena itu menjadi kewajiban setiap muslim untuk menghentikan riba. Dan Allah SWT dengan sifat Pemurah dan Pengasihnya memberi kita salah satu jalannya yang paling baik, yakni melalui sedekah.  Sabdanya:  “Yamkhaqullahurriba wa yurbi sodaqoti” (Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah,  QS 2:276). Tapi, kita perlu memahami bagaimana mekanisme sedekah yang akan memusnahkan riba ini, yakni melalui sedekah jariah, berupa wakaf.

Wakaf  yang diwujudkan dalam bentuk aset produktif akan menghasilkan surplus yang dapat digunakan sebagai sumber santunan  sosial, entah untuk beasiswa, santunan untuk yatim piatu dan manula, biaya klinik, dapur umum, dan sebagainya, secara lestari. Dengan sedekah jariah yang berkelanjutan dari wakaf berbagai bentuk produk  ribawi (kredit, asuransi, tunjangan pensiun, dsb) sebagaimana disebut di atas, tak lagi kita butuhkan.

Maka, ketika sedekah jariah – yakni wakaf –  subur, riba akan punah dengan sendirinya. Itu janji Allah SWT.