Mesir Memburuk, Utang Menggelembung, Inflasi Capai 33 Persen

330
 “Arab Spring” dan perubahan politik yang terjadi di Mesir sesudahnya terbukti semakin membawa rakyat Mesir menderita. Sesudah mata uangnya pound Mesir didevaluasi sampai sekitar 50 persen beberapa waktu lalu, inflasi terus menderunegeri ini. Artinya rakyat Mesir semakin miskin dan hidup semakin sulit.
Inflasi tahunan Mesir melonjak menjadi 33,1 persen pada Februari, dari 30,86 persen pada Januari.  Harga konsumen perkotaan tahunan naik pada bulan Februari menjadi 30,2 persen dari 28,1 persen pada Januari, menurut data resmi lembaga statistik CAPMAS.
Kita tahu bahwa perubahan politik di Mesir diikuti dengan resep klasik para bankir: nambah utang, baik jangka pendek kepada IMF maupun janga panjang kepada bank-bank multilateral maupun bank komersial.
Perhatikan saja grafik di sebelah ini. Sejak kejatuhan Hosni Mubarak, 2011, utang nasional Mesir bukan berkurang, malah terus meningkat.
Dan bukan cuma itu, tapi diikuti dengan beberapa kebijakan lain yang sangat merugikan rakyat, hanya klarena mengikuti kemauan pada bankir, seperti devaluasi. Sedangkan devaluasi hanya untuk lebih menguntungkan para bankir ketika mengucurkan utang berikutnya.