Mitos Ketidakpraktisan Dinar Emas dan Dirham Perak

871

Koin emas tidak praktis karena berat untuk dibawa ke mana-mana?

Itulah mitos yang selalu dihembus-hembuskan oleh kepentingan tertentu. Dan banyak orang percaya begitu saja, tanpa pernah mengkritisinya.

“Beranjak dari itu saya menimbang 13 lembar rupiah senilai senisfu dinar (Rp1,25 juta). Hasilnya saya dapati beratnya 11 gram (foto),” tulis DOkter Arif Rahman Hakim, seorang penggiat muamalah di kota Solo.

Ternyata dibandingkan dengan nisfu dinar (2,125 gram emas 22 karat), lebih berat uang kertas rupiah, dengan nilai yang setara! Terbukti justru uang kertaslah yang tidak praktis karena lebih berat untuk dibawa ke mana-mana. Uang kertas sejumlah itu membuat dompet menggembung. Dengan nisfu dinar cukup membawa satu koin saja dan jauh lebih ringan.

Tapi, uang kertas kini sudah lebih praktis, karena dapat dilakukan transaksi secara online. Kata mereka lagi.

Tentu saja transaksi dengan emas dan perak punj bisa dilakukan secaraonline, dengan batasan-batasan tertentu. Ada aturan fiqihnya. Hanya saja yang jadi masalah saat ini sarana dan prasarananya belum ada yang mengelola. Teknologi yang ada saat ini, termasuk mesin ATM, smartphone, dapat digunakan untukbertransaksi dengan emas.

Transaksi yang sepenuhnya harus dilakukan secara fisik hanyalah bila melibatkan emas dengan emas atau emas dengan perak. Tapi ini transaksi yang jarang terjadi.

Tantangan umat Islam saat ini adalah menyelenggarakan sarana dan prasarana di atas saja. Inibis amelalui lembaga Wadi’ah, yang memberikan jasa penyimpanan, transaksi, dan transfer. Baik secara fisikĀ  maupun online.