MUI Halalkan Alat Bayar Ghaib, Uang Elektronik

826

Sebagaimana dilansir oleh berbagai surat kabar, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), telah menerbitkan sertifikat syariah kepada salah satu perusahaan penerbit uang elektronik (e-money), awal pekan ini, 28 Maret 2016. Nama perusahaan itu adalah TrueMoney Witami. Dengan kata lain DSN MUI telah menghalalkan uang elektornik tersebut.

Uang elektronik (atau uang digital) adalah uang yang digunakan dalam transaksi Internet dengan cara elektronik. Biasanya, transaksi ini melibatkan penggunaan jaringan komputer (seperti internet dan sistem penyimpanan harga digital). Jadi, sifatnya sepenuhnya maya.  Ghaib. Nilainya tidak ada dasarnya. Bagaimana satu impuls digital dapat bernilai?

Tindakan DSN MUI ini jelas gegabah. Seharusnya ada kajian terlebih dahulu dari ulama-ulama independen tentang  uang elektronik, dengan kajian fiqih klasik, yang disasarkan kepada Qur’an dan sunnah Rasul.  Alat tukar dalam syariat haruslah berupa ‘ayn, atau komoditi bernilai, yang harus dibayarkan secara kontan.  Nabi SAW mencotohkan gandum, kurma, jewawut, garam, emas dan perak, sebagai alat tukar.  Bahkan uang kertas pun hanya dapat diterima sebagai janji utang, yang sifatnya privat, tidak sebagai alat bayar umum. Manakala uang kertas ditopang komoditi (umumnya emas atau perak).

Hari ini uang fiat sebagian besar telah berupa uang digital, dan hanya sekitar 3% berupa uang kertas tanpa dukungan komoditi. Karenanya, seharusnya MUI justru meninjau kembali posisi uang fiat, bukan malah semakin jauh – karena alasan pragmatis semata – manghalalkan sesuatu yang sangat  boleh jadi haram hukumnya, seperti uang elektronik ini. Keghaibannya. Ketiadaan nilainya. Riba di dalamnya.

MUI Halalkan e money