MUI Medan Sambut Dinar dan Dirham

1914

“Alhamdulillâh atas izin Allah pagi tadi (Sabtu 28/10) saya menyampaikan tentang RIBA, serta PENIPUAN, PEMISKINAN, dan PERBUDAKAN MANUSIA, MELALUI SATANIC FINANCE (SISTEM EKONOMI SYAITAN) dengan tiga pilarnya: 1. Uang kertas (fiat money),  2. Bunga (interest), 3. FRB/FRR (Fractional Reserve Banking / Fractional Reserve Requirement). Alhamdulillâh disambut baik oleh para peserta Mudzakarah MUI Medan, ” lapor Bpk Mirza Syah, seorang penggerak muamalah di Kota Meda.

Acara tersebut dibuka oleh Ketua MUI Bapak Prof. Muhammad Hatta. Dihadiri oleh Ketua Bidang Ekonomi MUI Medan Bapak DR. Ir. Masri Sitanggang, serta para pengurus bidang ekonomi MUI Medan, dan para peserta dari masyarakat umum.

Solusi agar harta terhindar dari RIBA, menjauh dari penipuan dan penindasan sesama, menuju kemakmuran yang dicita-citakan, menurut Mirza Syah adalah:

  1. Jadikan bank hanya sebagai lalu lintas transaksi. Tak lebih dari itu. Bukan untuk investasi. Jangan pula berhutang ke bank.
  2.  Berwirausaha (berdagang/produksi/jasa)
  3.  Zakat infaq sedekah dibanyakkan
  4. Jangan simpan harta (pribadi/umat) dalam bentuk uang kertas tapi pada benda yang bernilai riil (misalnya emas, perak, tanah bangunan, komoditas alam)
  5. Kembali pada Muamalah (perdagangan) sesuai yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Berjual beli dengan menggunakan mata uang sunnah: dinar (emas) dan dirham (perak), atau uang berbasis komoditas (gandum, barly, kurma (beras), dan garam).

Semoga penerapan muamalah di Medan semakin luas.