Musnahnya Rumah Layak Huni

284

Rumah layak huni adalah rumah yang memenuhi kebutuhan keluarga. Kamarnya cukup, paling tidak ya tiga  kamar, ada ruang tamu dan ruang keluarga yang luas agar bisa menampung banyak tamu, buat acara yasinan/wiridan, bahkan walimahan. Kamar mandinya sekurangnya dua. Halaman depan yang luas, hingga cukup buat tanam-tanaman, pun halaman belakang, termasuk buat tempat jemuran.

Belum lama berselang, masyarakat pada generasi orang tua kita, dengan mudah memiliki Rumah Layak Huni itu. Tanah seluas 700-1000 m2 itu biasa. Luas bangunan 350-400 meter adalah kelaziman. Batas bangunan antarrumah selalu ada ruang terbuka, untuk udara bebas, dan lalulalang orang. Tidak ada rumah berdempet-dempet, yang diber9i istilah “:keren” yaitu “rumah kopel”.

Lalu  datanglah para bankir itu. Mereka berpura-pura menyatakan hendak menolong masyarakat. Dibuatlah Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Tetapi, apakah masyarakat semakin mudah mendapatkan rumah? Justru terbalik. Tanah dan rumah semakin menjadi kemewahan. Bahkan ketidakmungkinan!

Standar luas tanah dan rumah pun semakin turun: 700 m, menjadi 500 m, menjadi 350 m, menjadi 250 m persegi, terus mengecil menjadi 170 m, 120 m, 90 m, dan kavling standar hari ini hanyalah  70 m persegi!

Sementara rumahnya, semula 350 m  persegi, jadi 250 m, lalu 150 m, 120m, 90 m, 70 m, 60 m, 45 m, 36 m, dan masya Allah, hari ini Cuma 21 m persegi!

Rumah “Ciluk Ba!”, kata anak saya. “Sak tothok (cangkang)  keyong” kata almarhumah ibu saya.

Dan itupun, wahai Muslim, yang 21 m persegi itu, tidak terbeli oleh kebanyakan orang.

Kalaupun mau membelinya telah dipaksa keadaan,  harus dengan memperbudak diri pada para bankir itu. Dulunya 5 tahum. Lalu 10 tahun. Lalu 15 tahun, jadi 20 tahun. Dan, sekarang jadi 30 tahun, karena harganya yang semakin mahal, dan bunga berbunganya yang semakin mencekik! Seumur produktif manusia terbongkok-bongkok jadi budak para bankir.

Ulah siapa? Bankir! Pemakan Riba! Ini kezaliman, tuan-tuan dan puan-puan. Mereka bukan membantumasyarakat. Mereka menzalimi masyarakat dengan ribanya.

Kita harus menghentikan kezaliman ini. Tegakkan muamalah yang halal, agar kita, saya, Anda, anak cucu kita, bisa terbebas dari Riba.  Sebab tidak ada jalan pintas. Tidak ada solusi jangkapendek, hany edengan mengalihkan pertanyaan: “Lalu kalau tidak ke bank, saya harus ngutang ke mana?”

rumahlayak huni2

Itu bukan solusi. Itu hanya mengalihkan sumber utangan. Yang harus kita lakukan adalah membangun sarana dan prasarana yang memungkinkan muamalah berjalan, dan kita tidak memerlukan bank lagi. Agar inflasi yang memiskinkan dapat dicegah.

Bentuklah komunitas pengguna Dinar emas dan Dirham perak. Atau bergabung dengan yang sudah ada.  Dirikan amirat dan sultaniyya. Dirikan baitulmal. Hidupkan pasar-pasar. Bertransaksilah dengan Dinar dan Dirham.

Tentu tidak bisa seperti membalik tangan. Harus ada proses. Setahap demi setahap. Tapi harus dilakukan. Harus dimulai, dari setiap diri kita, keluarga kita, komunitas kita. Jangan menunggu, karena orang lain juga menunggu.