Nasehat Buat Pengantin

637

Bismillahirohmanirrohim.

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Al Ruum: 21)

Dari sinilah kita selalu memohonkan kepada Allah SWT agar para pengantin baru menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah.

Dalam ayat ini Allah SWT berbicara tentang penciptaan dengan dua kata kerja yang berbeda yaitu جَعَلَ dan خَلَقَ
Kata kerja pertama, kholaqo, menujukkan hak proregatif Allah SWT, dan menunjukkan penciptaan sesuatu dari ketiadaan, dalam hal ini penciptaan manusia (sebagai istri). Ini sama denagn ketika Allah berfirman dalam Surat al Hujarat (ayat 13):
“Ya ayyu hannas inna kholaqakum min dhakarin wa untsa wa inna ja’alnakum tsu’uban wa qoba’ilan li ta’arofu.”

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.”

Dalam hal tujuan diciptakannya pasangan hidup, jauza, agar mendapatkan ketenangan atau ketentraman. Ini serupa dengan ketika pembayar zakat, Allah perintahkan untuk didoakan setelah menunaikan kewajibannya,: “doakanlah mereka, sesungguhnya doamu akan menenangkan (menentramkan) mereka” (QS At Taubah, 103).
لَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَ

Jadi Sakinah adalah rasa tenang dan tentram yang nyata, yang Allah tanaman dalam qalbu seseorang. Bukan efek psikologis, seperti rasa tenang dan tentramnya seseorang, sehabis menangisi atau mendapatkan sesuatu.

Dalam bahasa Arab, akar kata sakana, yaskunu, bermakna “tenang, tinggal”, seperti dalam “meninggali (sebuah) rumah”. Itulah Sakinah. Dan inilah kado dan hadiah terbesar dari Allah SWT kepada pengantin, bukan koin dinar dan atau kunci mobil Mercedes, yang dihadiahkan oleh manusia.

Adapun Mawaddah, adalah cinta kasih, sebagaimana arti salah satu Asma Allah al Wadud, Yang Maha Mencintai. Hingga salah satu doa yang diajarkan kepada kita oleh para mursyid  adalah kata-kata: “Ya Wadud Ya Dhal Arsyil Majid” (Wahai Yang Maha Pencinta, Wahai Pemilik Arsy Yang Mulia). Cinta kasih.

Dan Rahmah, telah kita pahami, adalah kasih sayang, sebagaimana Asma Allah yang lain, Ar Rahman, yang Allah sandingkan dengan nama Ar Rahim, yang kita ucapkan setiap kali hendak memulai sesuatu. Dan dalam satu organ istimewa yang hanya dimiliki oleh wanita, tidak pada laki-laki, Allah menitipkan satu organ yang disebut dengan nama rahim, yang menjadi dunia kehidupan janin, sebagai hasil dari kasih sayang suami istri, sebelum dilahirkan ke dunia kehidupan berikutnya. Dalam rahim ibu, dalam Rahim Allah SWT, janin mendapatkan kasih sayang dan jaminan kehidupannya. Rezki dan karunia telah Allah limpahkan kepadanya sejak teramat dini.

Gabungan ketiga keadaan itu, Sakinah, Mawaddah dan Rahmah, membentuk atau menghasilkan keberkahan atau Barokah. Jadi Barokah adalah enerji ruhaniah yang positif, yang Allah berikan kepada siapa saja yang IA kehendaki, yang menghasilkan ketenangan, cinta, dan kasih sayang dalam kehidupan.

Namun, kembali kepada “ayat pengantin” di atas, dalam penciptaan Mawaddah dan Rahmah, Allah SWT menggunakan kata “ja ‘ala”, bukan “kholaqo”, seperti pada penciptaan (manusia sebagai) istrimu. Maka, ini bukan semata hak prerogatif Allah SWT, melainkan harus ada campur tangan manusia sendiri, dalam hal ini pasangan suami istri. Jadi, cinta dan kasih sayang itu, meskipun datangnya dari Allah SWT juga, harus dirawat, harus dipupuk, dengan saling menghormati, saling menyayangi, dan saling melengkapi.
Allah SWT memberikan metafora yang sangat indah:

لَهُنَّ لِبَاسٌ وَأَنْتُمْ لَكُمْ لِبَاسٌ هُنَّ نِسَائِكُمْ إِلَى.
“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”

Tetapi berhati-hatilah dengan cinta, yang selalu datang bersamaan dengan rasa takut. Rasa cinta akan menghasilkan rasa takut kehilangan sesuatu yang dicintainya. Karenanya Shaykh Abdalqadir as Sufi menyatakan: “Pernikahan karena cinta adalah malapetaka.” Sebab cinta bisa memudar, dan hilang, atau beralih kepada yang lain. Tidak cukup bahwa cinta itu, yang tidak lain adalah nafs dari manusia, dirawat dan dipupuk. Dan bahwa pernikahan tidak cukup hanya dilandasi oleh cinta, tetapi harus memiliki tujuan yang lebih mulia,yang lebih tinggi. Yakni menuju kepada ridho Allah SWT, upaya untuk terus mendapatkah Barokah dari Allah SWT.

Resep untuk itu adalah: “Cintailah yang Allah cintai, dan bencilah yang Allah benci”. Jadikan ini resep hidup dalam segala situasi. Jadilah tolok ukur, untuk setiap langkah dan keputusan bersama, dalam mengarungi kehidupan rumah tangga: “adakah ini selaras dengan fitrah, atau kehendak, Allah SWT?” Niscaya keharmonisan, dan keseimbangan, dalam seluruh aspek kehidupan akan didapatkan. Jadi, bukan saja ketika timbul perselisihan, tetapi dalam menjalani persamaan, antara suami dan istri, tolok ukurnya bukan egoisme, bukan nafs manusia, tetapi sejauh-jauhnya adalah fitrah Allah SWT.

Maka, berumah tangga, bukan sekadar menjalani “proyek keluarga”, mencari nafkah buat anak dan istri, membesarkan anak-anak, dan segala urusan domestik lainnya. Ada tujuan dan misi sosial yang harus diemban. Pernikahan harus memiliki tujuan, utamanya bagi kaum laki-laki, untuk turut membangun masyarakat yang lebih baik. Pernikahan dan pembentukan rumah tangga yang baik adalah unsur-unsur bagi terbangunnya masyarkaat yang baik.

Ini, terutama menjadi semakin penting dipahami, di zaman modern ini, ketika institusi pernikahan dan rumah tangga dihancurkan, bukan saja melalui pembentukan nilai-nilai dan norma yang melawan fitrah, tetapi juga melalui hukum yang bahkan mensahkah perkawinan kaum sejenis. Dengan ini seketika tatanan sosial dirusak, fitrah alam dilanggar, dan kehendak Allah SWT – sang Penguasa Alam dan Pembuat Hukum – dilawan.

Rasul SAW menyatakan prestasi puncak seorang laki-laki Muslim adalah berjihad, dengan imbalan kemuliaan di dunia atau syahid di akherat. Tetapi, Rasul SAW secara adil juga memberikan imbalan yang sama, dengan kata lain menyatakan puncak prestasi seorang perempuan, adalah ketika ia (meninggal) melahirkan, dengan status syahid.

Hari ini, jihad belum mendapatkan tempat dan saat. Tetapi, peran sosial kaum laki-laki Muslim, dalam amar ma’ruf nahi munkar, dalam bentuknya yang lain, tidak berhenti. Para istri harus membebaskan para suaminya untuk melakukan peran sosial ini, sesuai dengan panggilan zamannya. Tugas para istri membebaskan suami dari mengidap “Oidipus Complex”. Tetapi, terlebih dahulu, para suami harus membebaskan istri-istrinya dari “Sindroma Cinderella Complex,” keinginan bawah sadar untuk terus diurus, tergantung, dilindungi, dan bertameng, di balik laki-laki (suami) dalam kehidupannya. Inilah yang oleh Skayh Abdalqadir as Sufi disebut sebagai “Collaborative Couple”.

Ada peringatan penting yang harus dipahami oleh suami istri di zaman yang sulit saat ini, terutama bagi yang baru memulai, kehidupan berumah tangga. Yakni sesuatu yang sangat kuat berlaku hari ini, yang akan menghapus segala Barokah yang susah payah kita cari dan ingini, yakni merajalelanya riba. Riba, yakni tambahan yang dilarang dalam setiap transaksi, yang hari ini telah menjadi pola hidup, bahkan cara berpikir dan berperilaku manusia, yang sangat mudah menggelincirkan. Riba adalah psikologi massa zaman ini. Masyarakat didorong untuk melawan fitrah dan keseimbangan, dengan cara hidup melebihi kemampuan. Kongkritnya menjalani hidup dengan serba berutang (dengan riba tentunya).

Riba adalah tantangan, dan ujian, bagi para pengantin baru. Godaan untuk mendapatkan rumah, kendaraan, dan segala keperluan hidup, melalui kredit berbunga akan sangat besar. Tetapi awaslah, Allah SWT telah mengingatkan akibat dari terlibat dengan riba sebagai:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. . Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” – Al Baqarah, 275

Akibat dari terlibat dengan riba adalah persis bertolak belakang dengan Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah, yang Allah SWT berikan kepada para suami istri (dan keluarga-keluarga). Riba adalah sumber ketidaktenangan. Sumber psikosis, penyakit jiwa, karena melawan fitrah, meyakini dan mengejar-ngejar sesuatu yang tidak ada seolah-olah ada; mempercayai sesuatu yang takbernilai sebagai bernilai; dan menyatakan yang haram sebagai halal.

Riba menimbulkan secara bersamaan dua rasa, yang telah di singgung di atas, yakni rasa cinta dan rasa takut sekaligus. Tetapi, bertolak belakang dengan rasa cinta dan takut yang menghasilkan Barokah, karena kecintaan dan ketakutan hanya kepada Allah SWT, riba menghasilkan kecintaan pada dunia dan ketakutan pada kehidupan (dan dengan itu rasa takut akan kematian). Dan dengannya menghapuskan Barokah.

Maka, Allah SWT menegaskan, “Allah halalkan perdagangan dan Allah haramkan riba.” Camkan ini baik-baik.

Demikian, adik Mekhdi dan Rimandhani, beberapa pesan dan nasehat bagi kalian berdua, semoga menjadi bagian dari bekal awal kalian dalam menempuh hidup yang baru. Berpegang teguhlah kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT , naiklah ke atas biduknya, yang akan dengan selamat membawa kalian sampai kepada tujuan mendapat Barokah dan Ridho Allah SWT di dunia ini, dan di Akherat Kelak.

Selamat buat kalian berdua. Dan selamat juga buat Bang Maiyasyak Johan dan Kak Eva Aini Harahap, serta Bpk Saidinur dan Ibu Eviara Oetomo, yang telah mengantarkan mereka berdua dalam kehidupan yang lebih tinggi.
Subhana robbika robbil izzati amma yashifun wassalamun alal mursalin wal hamdu lillahi robbil ‘alamin. Wassalamu ’alaikum wr wb.

Zaim Saidi
Jakarta, 2 Maret 2019