Sunah Muamalah, dari Pasar Sultan ke Pasar Kiyai Mangku Negeri

699

“Inilah pasar kalian.  Jangan biarkan berkurang dan jangan biarkan pajak apapun dikenakan atasnya.”

Demikianlah sabda Rasul SAW ketika  mendirikan sebuah pasar di Madinah, setelah  beliau pergi ke pasar (Yahudi) Bani Qainuqa dan kemudian kembali mendatangi pasar Madinah, menjejakkan kaki ke tanah, sambil bersabda sebagaimana di atas.

Begitu Bpk Muhammad  Yasir Anshari, dari Kerabat Kemangkunegerian Tanjungpura, di Ketapang, Kalimantan Barat memulai pengumuman terbukanya kepada masyarakat via akun FB-nya: “Pasar sesuai Sunnah hadir setiap Ahad di Tanjungpura Darussalam, Insya Allah.”

Ya, di pasar yang akan rutin sepekan sekali diselenggarakan di halaman Rumah Adat (Keraton) Kemangkunegerian Tanjungpura, Kepala Pulau, Delta Sungai Pawan ini, “siapa saja boleh berjualan apa saja” sepanjang halal, tanpa dipungut sewa, pajak, dan riba. Mata uang Dirham perak dan Dinar emas berlaku di pasar ini.

PAsar Muamalah Ketapang2

Pasar Kiyai Mangku Negeri ditegakkan atas izin dan titah Kiyai Mangku Negeri H Morkes Effendi, demi tujuan untuk kembali kepada muamalah yang sesuai dengan sunnah. Pasar ini untuk kali pertama telah dimulai 1 Mei 2016 lalu. Serupa dengan model Pasar Sultan yang didirikan oleh  Sultan Huzrin Hood di Kesultanan Bintan Darul Masyhur, pasar pekanan ini adalah bagian dari penerapan kembali syariat Islam.  Di kedua kesultanan inilah zakat mal juga telah mulai ditarik dan dibagikan dalam bentuk Dinar emas dan Dirham perak.

Penerapan rukun zakat dan syariat muamalah kembali menuruti ajaran Rasul SAW akan menjadi awal kembalinya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Penggunaan mata uang emas dan perak pada keduanya akan memastikan harta riil kembali beredar di tangan rakyat.  Sistem riba yang hari ini merajalela perlahan dan bertahap dapat diperkecil.

 Pasar SUltana