Tak Bisa Tekan Defisit, Pemerintah Jokowi Perlonggar Batasnya

650

Di akhir tahun 2016 pemerintah makin sulit menahan defisit yang besarnya diperkirakann Rp 219 Trilyun. Sesuai undang-undang Kuangan Negara batas tertinggi defisit adalah 3% dari Produk Domestik Bruto (total produk dan jasa yang dihasilkan negara dalam harga pasar). Batas (limit) 3 % adalah kumulatif defisit anggaran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Mengantisipasi naiknya defisit maka batasan defisit APBN secara bertahap diperlonggar dari 2,35 % kemudian menjadi 2,5 % dan terakhir 2,7%. Untuk APBD batas diperlonggar dari 0,1 % manjadi 0,3 % sehingga kumulatif defisit lebih dekat ke batas tertinggi 3 % dari PBD. Konsekuensinya utang negara untuk menutupi defisit dari dalam maupun luar negeri makin besar.

Sesuai Rencana APBN 2017 yang telah disusun, defisit selama direncanakan sebesar 2.7 %. Berarti defisit tahun 2016 dan 2017 besarnya sama, Tidak akan turun. Demikian Dr Sigid Kusumidagdo memberikan analisisnya.

Apa penyebab melebarmya defisi? Dr Sigid mengidentifikasi sbb:

A. Realisasi penerimaan negara semester I 2016 Rp 634,7 Trilyun dari target Rp 1,786.2 Triilyun atau hanya 35 % dari target, turun dari periode yang sama tahun lain yang mencapai 37,9 % dari target
B. Realisasi peneriman pajak semester 1 2016 sebesar Rp 522Trilyun dari target Rp1,539.2 Trilyun atau 33,9 %. Ini lebih rendah dari pencapaian target di periode yang sama, tahun lalu 35,% (Rp.535,1 Triilyun)
C. Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) semester I hanya Rp 112,1 Triyun atau 45,7 % dari target Rp 245,1 Trilyun.Lebih kecil dari periode yang sama tahun lalu.
D. Sedangkan Belanja negara meningkat pada semester.1 2016 menjadi Rp 865,4 Trilyun atau 41,5 % dari target sedangkan tahun lalu hanya 37,9 % dari target ( Rp766,2 Trilyun).
Salah satu peningkatan biaya yang besar tahun 2016 adalah “Cost Recovery” atau biaya yang harus dibayar pemerintah untuk para kontraktor pemerintah yang melakukan exploitasi minyak. Cost Recovery naik menjadi US $ 8 milyar,padahal harga ekspor minyak sekatang hanya disekitar US $ 40 per barel.
Jadi keberhasilan pemerintah untuk meningkatkan daya serap anggaran di satu sisi dan di sisi lain kegagalan meingkatkan penerimaan pemerintah mengakibatkan defisit terus bertambah.

Semua hal di atas menunjukkan dalam keadaan sekarang pemerintah harus menjaga arus uang (cashlow) dari sisi pengeluaran (outflow). Pemotongan anggran sebesar Rp 133,8 Trilyun yang telah direncanakan tahun ini bisa bertambah dengan akibat beberapa proyek ditunda. Untuk itu investasi swasta harus ditingkatkan, Tetapi investasi saat ini kondisinya hampir stagnan.
Keadaan politik dalam negeri yang banyak guncangan dan kondisi ekonomi dunia sarat ketidakpastian akibat munculnya Presiden AS Donald Trump akan menyulitkan investasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.di tahun 2017.

bekong