Pengelabuan Bernama Inflasi

2444

Ini adalah masa transisi dengan berlakunya dua jenis alat tukar, yakni mata uang kertas dan  dinar emas dan dirham perak. Maka secara spontan kita memang masih akan berpikir dalam kaca mata uang kertas. Dalam menakar harga atau nilai suatu barang dan jasa pertama-tama kita masih akan merujuk kepada harga dan nilainya dalam rupiah (atau mata uang kertas lainnya), baru dikonversi ke dalam nilai dinar atau dirham. Maka, angkanya tidak selalu pas bulat, tapi berselisih. Sebagai contoh  harga tiga loyang kue  yang harganya @ Rp 50.000/loyang bila dibayar dengan dirhamain (dengan nilai tukar saat ini sekitar Rp 140.000) perlu ditambah dengan uang kertas Rp 10.000.  Begitu sebaliknya, bila   harganya di bawah nilai dinar atau dirham, maka diberikan kembalian dalam uang kertas.

Dengan berlalunya waktu dan semakin terbiasanya kita bertransaksi dalam dinar atau dirham dengan sendirinya cara penetapan nilai akan langsung dikaitkan dengan dinar dan dirham. Inilah cara yang sesuai dengan fitrah,   ketika nilai dan harga barang serta jasa, didasarkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, pertemuan pasokan dan permintaan.

Dengan uang kertas hukum pasar  tidak berjalan, karena nilai sesuatu telah  dirusak oleh nilai nominal uang kertas, yang dipaksakan oleh hukum negara. Dengan dinar dan dirham maka pertukaran barang atau jasa akan terjadi bersesuaian dengan nilai tukar  suatu komoditas (atau jasa) tersebut dengan nilai tukar komoditas lain yang digunakan sebagai alat tukar, dalam hal ini (dinar) emas dan (dirham) perak.

Sambil kita berproses kembali menuju mekanisme fitrah ini, ada baiknya kita merujuk kembali pada pengalaman empiris di berbagai tempat dan waktu, dengan sejumlah contoh komoditas dan jasa dalam ukuran dinar emas atau dirham perak. Contoh dan bukti paling otentik yang bisa kita temukan, tentu saja, adalah dari hadits Rasulullah SAW sendiri, yang menginformasikan pada kita bahwa harga seekor kambing di Madinah, di abad ke 7 M, adalah 0.5-1 dinar. Dari riwayat lain, dari Umar bin Khattab, kita mengetahui bahwa harga seekor ayam, juga di Madinah, adalah 1 dirham. Informasi lain yang bisa didapat adalah  Khalifah Umar bin Khatab memberikan upah seorang guru, di Madinah, sebesar 4 dinar/bulan.

Bagaimana dengan  barang atau jasa yang lain, di tempat berbeda, di masa-masa sesudahnya?

Semakin banyak dokumen sejarah yang kita buka akan semakin banyak pula informasi yang dapat  kita peroleh dalam soal nilai tukar dinar dan dirham ini.  Sekadar sebagai contoh di sini disajikan beberapa jenis komoditas  dan jasa dalam dua rentang waktu berbeda, yakni di zaman Mamluk (abak ke-14 M) dan zaman Utsmani pertengahan (abad ke-16 M).

Di zaman Mamluk, di ibukota Kairo, misalnya, pada tahun 1382 M, harga 1 irdabb (96 mud, 24 gantang, sekitar 49 liter) kacang polong  adalah  22 dirham, 1 irdabb tepung terigu adalah 30 dirham, 1 ratl (sekitar 0.5 kg) roti  adalah 0.5 dirham, dan 1 ratl daging sapi adalah 4/5 – 2 dirham.

Kita beralih ke Damaskus dan wilayah Utsmani lainnya, pada tahun 1539, untuk  tingkat upah beberapa jenis jasa. Upah seorang teknisi dengan pekerjaan merawat saluran dan kran-kran  air adalah 3 dirham/hari. Upah seorang guru sekolah kanak-kanak adalah 5 dirham/hari. Pegawai klerikal rendahan, seperti sekretaris atau kasir, mendapatkan upah 2 dirham/hari, tingkat upah yang sama dengan yang diterima oleh asisten juru masak, petugas gudang, dan muazin. Seorang kuli pengangkut barang-barang di madrasah  dibayar 1 dirham/hari. Para khatib dan imam di masjid-masjid mendapat imbalan setara dengan seorang guru sekolah dasar, yakni 5 dirham/hari. Beberapa pegawai klerikal menengah, seperti sekretaris tinggi dan petugas pengelola wakaf, memperoleh upah sebesar 6 dirham/hari.

Tabel 1. Informasi Harga Barang dan Jasa dalam Dinar dan Dirham

Tempat Waktu Barang/Jasa Nilai Konversi (Rp/ Maret 16)
Madiah  630an M Kambing

Ayam

Upah Guru

0.5-1 dinar

1 dirham

4 dinar/bulan

Rp 1 juta – Rp 2.1 juta

Rp 70.000

Rp 8  juta

Kairo 1382 M Kacang Polong

Tepung Terigu

Roti

Daging Sapi

0.45 dirham/liter

0.6 dirham/liter

0.5 dirham/0.5 kg

4/5-2 dirham/0.5 kg

Rp 31.500

Rp 42.000

Rp 35.000

Rp 31.500-Rp 140.000

Damaskus 1539 M Teknisi

Pegawai menengah

Guru, Imam, Khatib

Kuli/Buruh Kasar

3 dirham/hari

2 dirham/hari

5 dirham/hari

1 dirham/hari

Rp 210.000

Rp 140.000

Rp 350.000

Rp 70.000

Dari data-data di atas  dapat kita perkirakan bahwa upah rata-rata pegawai menengah pada abad ke -16 di Damaskus adalah 2 dirham, atau setara Rp 140.000 per hari, setara sekitar Rp 3.08 juta/bulan, setara dengan rata-rata UMR (Upah Minimum Regional) di Jabodetabek saat ini. Sementara  upah guru di Madinah adalah 4 dinar setara Rp 8 juta saat ini, atau 5 dirham di Damaskus setara Rp 350.000/hari, atau Rp 7.7 juta per bulan. Daging sapi di Kairo  4/5-2 dirham/0.5 kg, setara Rp 56.000-Rp 140.000/kg.

Hubungan-Antara-Emas-dan-Inflasi

Apa yang dapat kita simpulkan dari sejumlah informasi di atas? Semuanya mengonfirmasikan kepada kita bahwa dinar emas dan dirham perak tidak mengenal inflasi. Sepanjang zaman, di mana pun, harga komoditi dan jasa hampir tidak  berubah bila ditakar dengan emas atau perak. Dinar dan dirham tak mengenal inflasi. Harga barang dan jasa dapat dibeli dengan tingkat harga yang stabil. Bahkan, pengupahan atau jual-beli, dengan dinar dan dirham,  secara umum terlihat memberikan situasi yang lebih baik bagi setiap orang. UMR  yang telah tercapai di abad-abad lampau, misalnya, jelas sudah jauh lebih baik daripada tingkat  UMR kita hari ini.

Inflasi adalah pengelabuan. Untuk menutupi penyakit uang kertas, yakni kemerosotannya dari waktu ke waktu. Jadi,  perbanyaklah transaksi sehari-hari Anda, baik untuk jual beli, sewa menyewa,  maupun pengupahan, lakukan dengan dinar emas atau dirham perak.