Perbankan di Jepang Pun Kena Retas. Jutaan Dolar AS Raib.

656

Ketidakamanan menyimpan uang di bank  semakin jelas, di mana-mana, termasuk di Jepang yang dulu dirasa lebih aman. Bahasa Jepang yang bagi kebanyakan orang tidak dipahami semula menjadi salah satu pengaman. Tapi, beberapa tahun trakhir ini, hambatan bahasa itu telah diatasi oleh para peretas.

Dan, di Jepang,  lembaga keuangan kecil  menjadi sasaran utama  penjahat cyber. Menurut Badan Kepolisian Nasional Jepang, pada tahun 2015 jumlah uang yang  ditransfer secara ilegal melalui internet ke rekening  “palsu” melampaui ¥ miliar ($ AS 26.3 juta). Sebagian besar serangan yang ditargetkan adalah bank-bank kecil dan menengah, seperti bank regional dan asosiasi kredit.

Cyberattacks telah menjadi lebih canggih dan sulit untuk dideteksi. Serangan bahkan bisa dilakukan via komunikasi email saja.  Jumlah serangan terhadap perbankan ini kini telah sama banyaknya di Jepang dan di negara lain.

securityteam-jepang

Noboru Nakatani, direktur eksekutif dari  Interpol Global Complex for Innovation di Singapura, mengatakan: “Para penjahat dunia maya menggunakan bagian tersembunyi atau tidak terlihat dari web, yang disebut darknet, di mana banyak informasi tentang virus komputer dan hacking dipertukarkan Bahkan jika kita menemukan lokasi Server berada, kita sering menghadapi kesulitan menangkap penjahat di negara-negara berkembang,  karena sistem hukum yang tetap terbelakang.”

Nah, kalau di negara maju semacam AS, Inggris, dan Jepang saja, makin tidak aman menyimpan uang di perbankan, apalag di Indonesia?

Berita pembobolan rekening nasabah makin sering terjadi. Maklum, duit Anda, di bank, telah diubah menjadi sekadar medan elektronik.