Perbanyak Dirham, Agar Perak Tidak Terus Susut

805

Allah SWT menciptakan perak sebagai pasangan emas. Keduanya adalah harta, yang emas bernilai besar, perak bernilai relative kecil. Fitrah keduanya adalah sebagai alattukar. Itu sebabnya haram hukumnya menimbun-nimbun keduanya.

Agar bisaa beredar maka perak, dan emas, harus dicetak menjadi koin Dinar dan Dirham Rasul SAW pun telah menetapkan ketentuan tentang berat Dinar dan Dirham.

Tapi, tidak seperti emas yang sebagian besar tetap tersimpan di brankas, perak banyak digunakan dalam keperluan industri.  Dan keperluan dunai indutsri akan perak terus meningkat.  Sifat uniknya membuat perak paling baik sebagai  konduksi listrik,  daya  tahan terhadap panas, dan merupakan logam pemantul cahaya terbaik. Saat ini keperluan terbesar perak untuk bahan  bahan utama dalam panel surya fotovoltaik, yang menyumbang 85% dari panel surya di pasar.

Akibat penggunaan perak sebagai bahan industry adalah (1) fitrahnya sebagai logam mulia yang berngsi sebagai alat tukar terkikis, (2) nilainya pun terus dipaksa rendah. Secara alamiah rasio nilai emas dan perak adalah sekitar 1:10, dan dalam masa yang panjang bertahan pada rasio 1:14. Hari ini rasio ini ada pada 1:60. Artinya nilai perak sangat undervalued.

perak batangan

Diperkirakan saat ini terjadi  defisit perak bersih dalam tiga tahun terakhir setara lebih dari 350 juta ons! Ini jelas paradoks dengan nilai perak yang rendah. Permintaan tinggi tapi nilainya rendah. Tidak lain ini akibat manipulasi, dunia industri maupun perbankan yang banyak memiliki kewajiban dalam bentuk perak.

Maka, nilai perak harus dikembalikan sesuai fitrahnya. Salah satu caranya adalah harus lebih banyak dicetak menjadi koin Dirham perak, lalu digunakan, diedarkan dalam masyarakat sebagai alat tukar. Jumlah perak akan bisa dipertahankan, tidak mengupa sebagai bahan industry.