Pilar Keempat Muamalah: Persyarikatan Produksi

713

Salah satu akibat langsung dari penerapan sistem kapitalisme ribawi adalah matinya perdagangan. Yang kita lihat sehari-hari saat ini adalah sistem distribusi monopolistik, bukan perdagangan. Ini ditandai dengan beberapa hal. Pertama matinya pasar-pasar. Kedua semakin sedikitnya warung-warung pengecer, diganti oleh jaringan supermarket dan minimarket, yang juga semakin hari semakin sedikit jumlah dan merk-nya. Ketiga semakin sedikitnya jumlah merk barang-barang. Keempat, semakin sedikitnya produsen barang dan jasa, yang mencerminkan matinya kapasitas produksi masyarakat.

Maka, ketika pasar-pasar terbuka telah kembali beroperasi, proses sebaliknya yang akan terjadi yakni peluang kembalinya produksi mandiri. Produsen-produsen kecil dan menengah yang semula tidak dapat memasarkan barangnya kini dapat langsung berhubungan dengan konsumen di pasar.Pasar Muamalah yang selama ini telah dijalankan oleh Jawara (Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar Dirham Nusantara), bersama Baitul Mal Nusantara (BMN) mulai membuka peluang tersebut. Meski belum signifikan, setiap produsen dapat menjual barangnnya, tanpa melewati jalur tataniaga yang panjang. Hadirnya Pasar Sultan di Tanjung Pinang, Kesultanan Bintan Darul masyhur (KBDM), membuka peluang yang serupa.

Ketika pasar telah tersedia dan ramai dikunjungi para pedagang dan pembeli seperti itu, maka produksi akan tumbuh kembali di tangan masyarakat. Sesama warga dapat saling berkongsi, baik tenaga, modal, maupun keduanya. Secara tradisional perkongsian usaha inilah yang dikenal sebagai syarikat-syarikat (paguyuban/perkongsian) produksi. Dalam syarikat-syarikat produksi (di Eropa dikenal sebagai gilda) inilah bekerja sebagian besar orang sebagai para pemilik atau mitra-pemilik (co-owner).

Jadi, ketika muamalah kembali kita jalankan, maka posisi majikan-buruh jarang terjadi, dan hanya merupakan perkecualian belaka. Semua orang berkongsi sebagai pemilik bersama. Ini menjadi berkebalikan dengan keadaan saat ini, ketika pemilikan adalah perkecualian, dan perburuhan adalah kelaziman. Sistem kapitalisme tidak lain adalah sistem perbudakan modern. Buruh diupah secukupnya. Upah yang tak memadai ini pun diserap kembali oleh para majikan dalam bentuk konsumsi. Masayarakat buruh dibiarkan hidup pas-pasan sekadar untuk menopang sistem: sebagai buruh sekaligus konsumen.

Dalam muamalah perkongsian itu diatur dengan kadiah-kadiah tertentu, mengikuti syariat (yaitu syirkat). Hal lain yang membedakan dengan sistem perburuhan adalah di dalam persyarikatan itu hubungan antarmanusaianya sangat kuat dalam semangat saling tolong-menolong dan bergotong-royong. Alat-alat produksi di-share bersama, melalui wakaf. Orang bukan saling memanfaatkan tenaga atau modal, tetapi saling menularkan pengetahuan.

Gilda, paguyuban, atau persyarikatan ini, sekaligus berfungsi sebagaii tempat pendidikan dan pengkaderan. Hubungan terjadi antara cantrik dan empu, atau aprentis dan master, dengan jenjang dan kualifikasi tertentu. Model hubungan ’buruh-majikan’ dalam pabrik-pabrik yang inheren dalam sistem kapitalis digantikan dengan model hubungan ’master-apprantice’ (mu’allim-mubtadi’) dalam gilda-gilda (sinf) ini. Gilda merupakan satuan usaha yang cocok dengan bentuk kontrak syirkat, mengikuti kaidah muamalat.

Pengrajin Topeng indamayu

Lebih jauh dari itu paguyuban dalam tradisi Islam juga ditopang, dan menumbuhkan, rasa solidaritas sosial dan pengabdian yang sangat besar. Pada umumnya paguyuban juga terkait dengan tariqah, jalan spiritual, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jadi kehidupan dunia dan akherat menjadi kesatuan dalam karya sehari-hari. Motivasi produksi, berdagang, dan beribdah, saling berkaitan satu dan lainnya. Lagi-lagi, muamalah akan menghasilkan kualitas manusia yang terbalik dengan kapitalisme hari ini, yang saling sikut, saling ”memakan”, dan hanya mementingkan motivasi material, duniawiyah semata.

Dalam kapitalisme kita temukan satu dua orang cukong memperburuh ribuan orang. Dalam persyarikatan kita temukan sekumpulan pemilik, dan para pandai yang bekerja bersama. Kita masih mengenalnya dalam istilah sebagai pandai besi, pandai kayu, pandai emas, pandai sepatu, dan lain-lain. Perburuhan dalam sistem riba ini merendahkan derajat manusia kepada yang serendah-rendahnya. Persyarikatan dalam muamalah menempatkan manusia pada derajat tertingginya.