Pilar Pertama Muamalat: Dinar, Dirham, dan Fulus

1279

Berikut adalah rangkaian dari kelanjutan tulisan Inilah Lima Pilar Muamalah. Kita mulai dengan pilar pertama, matauang syar’i, dinar, dirham, dan fulus.

Dinar adalah koin emas berkadar 22 karat (91,70%) dengan berat 4,25 gram. Sedangkan Dirham adalah koin perak murni (99.95%) dengan berat 2.975 gram. Standar berat Dinar dan Dirham ini ditetapkan oleh Rasul SAW pada tahun 1 Hijriyah, dan kemudian ditegakkan oleh Khalifah Umar ibn Khattab, pada tahun 18 Hijriyah, saat untuk pertama kalinya Khalifah Umar mencetak koin Dirham.

Sedangkan orang yang pertama kali mencetak Dinar emas Islam adalah Khalifah Abdul Malik ibn Marwan pada 74 Hijriah, mengacu kepada ketentuan dari Rasul SAW maupun Umar ibn Khattab, yaitu dalam rasio berat 7/10 (7 Dinar berbanding 10 Dirham). Dalam Muqaddimah, Ibn Khaldun menyatakan ketentuan ini telah menyadi ijma’.

Pernyatan Ibn Khaldun adalah, ”Ketahuilah bahwa telah ada kesepakatan (sejak awal Islam dan para Sahabat dan Tabiun bahwa dirham shari’ah adalah seberat tujuh per sepuluh mithqal (berat dinar) emas Berat satu mithqal adalah tujuh puluh dua butir barley (jewawut/semacam gandum), sehingga dirham yang seberat tujuh per sepuluhnya adalah lima puluh dan dua per lima butir. Seluruh ukuran ini teguh ditegakkan dengan kesepakatan (ijma).”

Untuk kadar emas koin dinar adalah 22 karat. Tentang ini ada pendapat al Habib ibn Tahir, seorang ulama dari Tunisia, yang menjelaskannya. Ulama ini menulis pendapatnya dalam kitab karangannya yang berjudul Al-Fiqh al-Maliki wa Adillatuh Vol.2, terbitan Dar Ibn Hazm, cetakan pertama 1998/1418 H.
Secara lengkap kutipan kitab tersebut adalah sbb:

Terjemahannya adalah:

“Karena emas tidak dapat digunakan, baik sebagai koin maupun perhiasan tanpa penambahan sejumlah tembaga atau sesuatu yang lain hingga bercampur dan dapat digunakan dalam transaksi, maka para ulama Maliki, sebagaimana disebutkan sebelumnya yang berkaitan dengan uang yang mengandung sesuatu tambahan, yakni [kaitannya dengan] pemalsuan, mengesampingkan penambahan ini dan memperlakukannya sebagai emas karena hal ini merupakan keperluan untuk pemaduan yang tidak dapat dihindarkan. Bagaimanapun mereka menyatakan penambahan itu harus dibatasi hingga alloy yang terbentuk tidak keluar dari tingkatan ‘emas murni’, dan ini telah mereka tetapkan sepersepuluh, dan hal serupa dinyatakan juga untuk perak.

“Berdasarkan hal ini maka emas yang digunakan untuk menilai uang kertas [untuk tujuan penghitungan zakat] adalah yang menuruti kadar alloy yang tidak melewati 10%. Emas yang digunakan masyarakat yang berisikan kandungan setingkat ini adalah yang disebut dengan kemurinan 22 Karat

Dengan adanya konfirmasi fiqihyah ini makan semakin jelaslah bahwa Dinar syar’i adalah terbuat dari emas 22 Karat. Dan, salah satu implikasinya, adalah untuk penghitungan nisab zakat pun, terutama bila harta seseorang masih berupa uang kertas, sebagaimana ditegaskan oleh Habib ibn Tahir di atas, harus mengacu kepada emas 22 Karat (Dinar) tersebut, dan bukan emas 24 karat.

koin WIN

Adapun Fulus adalah alat tukar recehan, terbuat dari tembaga atau campuran logam lainnya, yang digunakan secara terbatas untuk nilai di bawah koin perak terkecil yang tersedia (saat ini koin Dirham terkecil ada pada satuan 0,5 Dirham). Dinar, Dirham, dan Fulus, telah digunakan oleh umat Islam sepanjang masa dari zaman Rasulullah SAW, sampai awal abad ke-20, dan berhenti digunakan besamaan dengan berhentinya Daulah Islam. Secara resmi Dualah Islam terkahir, yaitu Kekhalifahan Utsmani, dinyatakan bubar pada 1924.

Berhentinya penggunaan Dinar, Dirham dan Fulus, juga menandakan berhentinya muamalat, dan berhentinya syariat Islam secara keseluruhan. Seluruh hukum Islam yang berkaitan dengan nilai, harga, transaksi, dan paling penting di antaranya adalah zakat mal, tidak dapat dilaksanakan tanpa Dinar dan Dirham. Berhentinya mumalat dan zakat menandakan bermulanya sistem kehidupan yang sepenuhnya bebasis pada riba.

Kini Dinar emas dan Dirham perak telah kembali di tengah masyarakat, dicetak di Amirat Indonesia. Di Nusantara juga telah ada empat kesultanan yang mencetak Dinar dan Dirham, yaitu Kesultanan Ternate, Kesultanan Kasepuhan (Cirebon), Kesultanan Sulu (Filipina Selatan), dan Kesultanan Bintan Darul masyhur. Di Malaysia Pemerintah Negara Bagaian Kelantan juga telah mencetak dan mengedarkan koin Dinar dan Dirham sejak 2010.

Dengan Dinar emas dan Dirham perak nilai mata uang menjadi independen dari pengaruh tindakan pemerintah, sistem moneter akan kembali “apolitik”, nilai uang kita tidak bisa dimanipulasi. Dinar dan dirham semakin terbukti memberikan kestabilan dan mempertahankan nilainya yang tetap. Harga seekor kambing di zaman Nabi Muhammad salallahualaihi wasallam adalah 0.5-1 dinar, harga seekor kambing di Indonesia sekarang (2016) adalah 0.5-1 dinar. Daya beli Dinar pada pertengahan Februari 2016 adalah setara Rp 2.100.000.

Dua sejoli koin ini telah digunakan dalam transaksi sehari-hari, melalui Festival Hari Pasaran (FHP), di Pasar Sultan, Tanjung Pinang, di kalangan anggota Jawara (Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar Dirham Nusantara), serta di kampung-kampung Jawara. Keduanya telah pula dipakai untuk membayar zakat, sedekah, mahar, wakaf, hadiah, dan sebagainya.

Di mana kita bisa membelanjakan Dinar emas dan Dirham perak kita? Ada banyak cara, antara lain:

1. Gunakan Dirham dan Dinar untuk membayar zakat, sedekah, kado dan hadiah, serta mahar.
2. Datanglah ke kios-kios atau warung-warung yang telah menjadi menerima pembayaran dengan Dirham dan Dinar. Kalau di tempat tinggal Anda belum ada penerima Dinar Dirham, menjadi tugas Anda untuk mengajak para pedagang di situ untuk menerima Dirham dan Dinar. Kalau Anda berdagang, mulai dari Anda sendiri, dan ajak pedagang lain turut serta.
3. Datanglah ke Pasar Muamalah Dinar yang diadakan oleh para pengguna Dinar Dirham. Anda pun bisa bekerjasama dengan komunitas pengguna ini untuk menyelenggarakan Psar Muamalah di daerah Anda sendiri. Sampai saat ini telah ada sekitar 150 kali Pasar Muamalah, di Jakarta, Depok, Bekasi, Bandung, Serang, Jogyakarta, Batam, Tanjung Pinang, Surabaya, Medan, dan Cirebon.
4. Koin Dirham dan Dinar dapat juga diedarkan melalui arisan, supaya bermanfaat buat pesertanya. Ini untuk menggantikan arisan uang kertas yang populer di masyarakat, yang tidak adil karena yang mendapatkan belakangan dirugikan akibat daya beli uang kertas yang terus merosot.
5. Untuk memproduktifkan koin Dinar dan Dirham Anda maka cara yang terbaik adalah menggunakannya sebagai modal usaha dan kegiatan bisnis, melalui qirad atau syirkat.
6. Terakhir, kalau masih juga ada koin berlebih, atau karena memang belum menemukan tempat membelanjakannya, bisa ditabung. Suatu saat, ketika memerlukan baru dibelanjakan, tapi bukan dirupiahkan lagi.