Rakyat Tidak Berutang Rp 13 Juta/Kepala!

2150

Indonesia masih mengalami defisit dalam beberapa tahun terakhir ini.  Penerimaan negara yang sebesar Rp 1.750 triliun jauh lebih kecil ketimbang belanja pemerintah yang sebesar Rp 2.020 triliun. Jadi, APBN nombok Rp 270 triliun. Lebih besar pasak daripada tiang.

Menkeu Sri Mulyani pun  mengatakan  dengan jumlah rasio utang Indonesia saat ini sebesar 27% dari Gross Domestic Product (GDP) yang sekitar Rp 13.000 triliun, maka setiap anggota masyarakat di Indonesia memiliki utang sebesar US$ 997 per kepala (Rp 13 juta).  Ya, Sri Mulyani mengatakan setiap orang Indonesia, termasuk bayi yang baru dilahirkan ke dunia ini, langsung menanggung utang Rp 13 juta!

Dan utang itu harus dibayarkan dengan berlipat ganda karena bunga berbunga yang dikenakannya. Rakyat dipaksa membayarnya melalui penarikan pajak. Dan pajak ini seolah tak bertepi. Semakin besar ribanya, semakin merajalela pajaknya. Tanah, tetanaman,   pendapatan, harta tabungan,  makanan-minuman, sandang, hiburan, transaksi jual-beli, taka da sisi kehidupan yang bebas dari pemajakan.

Tapi, tentu saja, rakyat tidak berutang Rp 13 juta/orang!

Hutang piutang adalah kontrak privat antara dua pihak, dan tidak bisa melibatkan pihak lain yang tidak tahu-menahu di dalam kontrak itu. Utang-piutang yang dibuat oleh segelintir orang dengan para bankir adalah urusan kedua belah pihak. Tak ada kewajiban orang lain turut menanggung akibatnya.

Pemaksaan itu terjadi karena kita hidup di dalam sistem buatan manusia yang menindas dalam bentuk negara fiskal. Ini sistem politik yang dibiayai dari utang kepada bankir dan pemajakan kepada warga. Negara fiskal tidak lain adalah sistem Riba.

Kita, dengan mudah membiarkan penindasan ini terus berjalan, dengan tidak berbuat apa-apa. Artinya terus tunduk patuh terhadapnya. Tapi kita juga bisa menghentikan penindasan ini.

Caranya?

Ubah perilaku kita. Perlahan dan bertahap kita tegakkan cara hidup lain, yang dituntunkan oleh Nabi SAW, dan yang  sesuai dengan fitrah dari Allah SWT. Kita pahami jantung sistem ini yakni: uang kertas, perbankan, dan utang negara. Maka, tinggalkan dua yang pertama, uang kertas dan bank. Yang ketiga itu di luar kendali kita sebagai warga, tapi ketia yang dua pertama kita jalankan, sangat berdampak kepada yang ketiga.

Mulailah gunakan Dinar dan Dirham. Tunaikan zakat dengan keduanya. Maka, melalui pembagian zakat koin emas dan koin perak, harta akan menyebar dan menyubur. Dan Allah SWT telah berjanji untuk ketika sedekah ini subur riba akan musna.

Bebaskan  dirimu dan keluargamu  dari uang kertas dan bank. Jadilah bagian dari upaya keluar dari penindasan ini.

Atau kita akan terus menjadi bagian dari pelaku, sekaligus korbannya.