Redenominasi Itu Manipulasi, Bukan Solusi

4438

 

rupiah-redenokminasi

  1. Kertas bernama rupiah itu baru saja diganti, dikabarkan akan segera  diredenominasi. Ini kabar sejak 2010an, muncul lagi.
  2. Masyarakat pun bertanya-tanya, apa itu redenominasi? Apa artinya angka 0 pada rupiah “digunduli” Rp 1.000 menjadi Rp 1?”
  3. Inilah bagian dari balada rupiah. Marilah kita telusuri kembali.  Sesaat setelah merdeka BNI 46 cetak Oeang Republik Indonesia, namanya rupiah, nilainya Rp 2 = 1 gr emas.
  4. Begitu Indonesia diakui kemerdekaannya oleh bankir internasional dan Belanda, 1949, rupiah dipatok sebesar 3.8 per dolar AS.
  5. Rupiah kemudian melorot ke Rp 11.4 per dolar pada 1952 (saat ORI diganti Uang BI), terus melorot ke Rp 45, melesat Rp 0,25 pd 1965 krn sanering
  6. Oh ya perlu dipahami BNI 46 sebagai BankSental NKRI ditolak Belanda, dipaksa diganti dengan De Javasche Bank, menjadi Bank Indonesia.
  7. Oeang Republik Indonesioa pun (ORI) mari. DIganti dengan Uang Bank Indonesia, sampai hari ini.
  8. Selama Orde Baru, atas desakan IMF dan Bank Dunia rupiah berkali-kali didevaluasi. Artinya secara plotik, dengan sengaja, rakyat dipermiskin melalui penurunan nilai uangnya.
  9. Pada 1970 1 dolar AS menjadi Rp 378, pada 1971 menjadi Rp 415, pada 1978 merosot lagi 55%, menjadi lebih dari Rp 625 per dolar AS.
  10. Sambil liberalisasi berlanjut, September 1983, rupiah didevaluasi lagi sebanyak 45%, jadi Rp 970/dolar AS. Sampai 1986 bertengger di Rp 1.660/dolar AS.
  11. Setelah itu ikut ‘kurs mengambang’, maka pasar yang nentukan. Pemjerintah dikebiri.  Nilai tukar rupiah terus terdepresiasi mencapai sekitar Rp 2.200/dolar AS, sampai juli 1997.
  12. Akibat dari utang dolar yang terlalu banyak, ekonomi yang semakin liberal, spekulan valas pun memainkan rupiah. Dibuatlah ruopiah  ‘terjun bebas’ pada pertengahan 1997.
  13. Kita lalu mendengar istilah baru “Kirsmon”, krisi smoneter, yang mengakibatkan seluruh bangsa miskin secara tiba-tiba.
  14. Lagi-lagi atas kemauan  IMF dan  Bank Dunia, bank sentral Indonesia,  BI, harus melepaskan ‘sabuk pengaman’ kurs, yang kemudian sepenuhnya mengambang.   Rp terus dibanting, capai Rp 16 rb/$ awal 98
  15. Sampai saat ini, kita tahu, rupiah fluktuatif di sekitar Rp 9.500-10.000/$. Jadi, sejak 1946, merosot lebih dari 99% terhadap dolar AS
  16. Padahal dolar AS sendiri telah kehialngan daya belinya sebanyak 95% dibanding sebelum 1970-an. Semula 1 oz emas 35 USD ( ’71), menjadi 1600 USD (2013)
  17. Ini bukti dari hadis Nabi SAW: ‘Akan datang masa semua yang kamu miliki tak bermanfaat (habis nilai), kecuali Dinar dan Dirham’ – HR Ahmad
  18. Mengapa uang kertas hilang nilainya? Karena memang tidak bernilai. Selembar kertas diberi angka nominal, dipaksakan bernilai. Sihir!
  19. Sampai 1971, dalam sistem Bretton Wood, USD masih diikat dengan emas. Uang kertas lain diikat dengan USD dalam kurs tetap. Ekonomi pun sangat stabil.
  20. Gara-gara perang Vietnam, AS ambruk. Richard Nixon bertindak sepihak, 1971, USD dilepas dari emas. Karena USD terus dicetak, emas tidak mencukupi.
  21. Akibatnya system kurs lepas dari politik. Jadi mainan pedagang valas. Pasar Valas I muncul di Las Vegas, 1972. USD, juga Rp tersebut di atas, terus merosot.
  22. Secara mendasar emas berubah fungsi dari uang menjadi komoditi. Ekonomi menjadi sangat tidak stabil. Depresiasi terus-menerus. Ditandai dengan angka nominal besar
  23. Rupiah ’46 terbesar Rp 100. Hari ini Rp 100.000. Nilainya? Dulu Rp 1000 dapat 500 gr emas, hari ini Rp 1000 praktis tidak mendapatkan apa-apa.Jadi makin besar uang kita bukan makin kaya, tapi makin miskin. Selama 70 th merdeka hanya membuat kita 250.000 lebih miskin. Gara-gara  uang kertas
  24. Dengan angka nominal besar, tapi tak berharga, bankir setiap kali harus mencetak nominal lebih besar lagi. Tapi, secara teknis itu repot. Komputer pun tak bisa mengelolanya.
  25. Selain itu, secara psikologis, rakyat tak kan lagi bisa tenang dengan uang besar tapi tak bernilai. Para bankir mencari akal untuk memanipulasi
  26. Teknik baru itu ketemu dengan nama :Redenominasi. Penggundulan 0. Ini telah dimulai BI, dan semula terget ‘Go’, 2014, tapi tertunda.
  27. Tentu saja itu bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menyembunyikan, penyakit uang kertas, yakni depresiasi terus-menerus. Dengan jumlah 0 sedikit atau banyak, tenhtu saja tak beda.
  28. Buktinya 2010, saat isu redenominasi muncul, Rp 100 rb mendapat  7 kg telor. Hari ini hanya dapat 4 kg. Duit dan  telornya sama, daya beli kurang sudah berkurang sekitar 40%.
  29. Selama Anda menggunakan uang kertas selama itu pula anda jadi Budak para bankir. Uang kertas itu lebih dari sekadar cucuk hidung, juga jadi lintah yang terus menghisap darah.
  30. Redenominasi bukan solusi, tapi manipulasi. Maka, rakyat harus bertindak sendiri. Tinggal uang kertas. Gunkan Dirham dan Dinar. Bebas Inflasi dan  Redenominasi.
  31. Sekian.