Runtuhnya Rezim Rupiah

1906

Dalam hadis riwayat  Imam Ahmad  Rasulullah s.a.w  jauh-jauh  hari berkata: “Akan datang  masanya ketika tidak ada lagi yang bermanfaat kecuali Dinar dan Dirham.”  Pernyataan  ini mengacu pada sistem uang kertas, yang telah menggantikan uang emas (Dinar) dan uang perak (Dirham),  yang kini memperlihatkan  keruntuhannya. Hadis ini mendapatkan realitasnya dalam kurun  empat puluh lima tahun  terakhir ini.

Runtuhnya rupiah, dan semua jenis uang kertas lainnya,  terjadi pada hakekatnya yakni  nilainya yang semakin susut.  Uang kertas adalah pengkhianatan atas takaran nilai atau harga, yang diwujudkan sebagai alat tukar, dari fitrahnya yang semula berupa komoditas bernilai menjadi semata-mata simbol numerik.  Akibatnya transaksi yang semula tunai bukan saja jadi tertunda tapi juga menggelembung semu.  Keduanya, penundaan dan penggelembungan, adalah dua pilar riba. Dalam Qur’an sudah ditegaskan “Allah SWT akan meruntuhkan riba.”

Metamorfosa Uang Kertas

Untuk memahami  substansi dan posisi hukumnya  sebagai riba perlu dimengerti  asal muasal uang kertas. Untuk sampai pada bentuk  yang kita kenal hari ini uang kertas bermetamorfosa seiring zaman. Setidaknya ada  tiga tahap.

Pertama, uang kertas lahir sebagai kuitansi (bukti utang), yang dikeluarkan para pandai emas dan perak, dan dapat ditebuskan kembali oleh pemiliknya. Dalam syariat Islam janji utang ini dikenal sebagai dayn, yang  haram dipakai sebagai alat jual-beli, karena pembayaran dengannya berarti tidak kontan. Pada satu titik pemerintah memberikan  hak monopoli  penerbitan surat utang itu kepada satu pihak saja yaitu bank sentral. Maka, janji utang yang semula bersifat privat (antara pemilik harta dan pihak yang dititipinya) kini menjadi publik, dan dipaksakan berlaku umum.  Ini  terjadi pada abad ke-17.

Kedua, para bankir yang sekarang memonopoli itu secara sepihak mengubah uang kertas tadi  dari janji utang (promissory note)  menjadi  bank note, yaitu uang kertas tadi tidak lagi bisa ditebuskan  jadi koin emas atau perak oleh  pemiliknya. Meski setiap kali mencetaknya para bankir  tetap menjaminnya dengan emas atau perak batangan. Ini  disebut sebagai sistem standar emas,   berlaku pada   abad ke-20.

Di Amerika perubahan itu terjadi pada  1933, pasca depresi  hebat.  Rakyat Amerika dilarang memiliki emas  dan harus menyerahkannya kepada The Federal Reserve, perusahaan swasta pemegang monopoli dolar AS. Rakyat boleh kembali memiliki emas dengan cara membelinya sebagai batangan, tapi dengan harga lebih mahal. Ketika dirampas oleh bank sentral AS (1933) emas dibeli 20 dolar AS/oz,  setelah  uang kertas dolar AS yang baru diterbitkan (1934),  hanya  bisa dimiliki  kembali  seharga 35 dolar AS/oz.  Artinya dolar AS didevaluasi (40%). Emas tak lagi sebagai uang, tapi  jadi komoditi.

Kemudian sejak 1944  Sistem Bretton Wood berhasil dipaksakan sebagai sistem internasioal. Intinya  satu-satunya uang kertas yang didukung emas hanya dolar AS (kurs 35 dolar AS/oz),  seluruh mata uang kertas lain dikurs  tetap terhadap dolar AS. Perubahan kurs hanya bisa dilakukan oleh  pemerintah nasional atas izin  IMF (international Monetary Fund) yang didirikan bersama berlakunya sistem ini.  Ini juga bermakna dolar AS ditetapkan  sebagai standar dan berlaku internasional. Ini berlangsung sampai 1971.

Ketiga, pada Agustus 1971, Richard Nixon, Presiden AS yang hampir bangkrut karena Perang Vietnam, secara sepihak mengakhiri Bretton Wood,  mencabut ikatan emas atas dolar AS. Maka, bank sentral dapat mencetak uang kertas  sekehendaknya. Uang kertas bernilai dan diterima sebagai alat tukar sepenuhnya atas dasar paksaan  undang-undang.  Kurs antarauang kertas pun tidak lagi ditetapkan oleh pemerintah, melainkan oleh  para pedagang uang. Uang kertas jadi komoditas dan seluruh sistem moneter sepenuhnya dikendalikan oleh spekulan.

Kisah  Rupiah

Lahir sebagai negara fiskal baru, 1946, Republik Indonesia  mengadopsi model  yang sama. BNI 46 ditetapkan sebagai Bank Sentral, menerbitkan  Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), dengan janji tiap Rp 2 bernilai satu gram emas. Bankir internasonal menolaknya. Setelah menyerah dalam  Konferensi Meja Bundar (1949), sebagai syarat pengakuan atas RI, BNI 46 diganti oleh De Javasche Bank (mulai 1951 diubah jadi Bank Indonesia),  ORI diganti dengan UBI (Uang Bank Indonesia).

 Begitu  diakui (1949) rupiah dipatok Rp 3.8 per dolar AS. Saat ORI jadi UBI (1952)  rupiah melorot  ke  Rp  11.4 per dolar.  Sepanjang waktu kemudian rupiah  terus melorot sampai Rp 45 (1959), sempat melesat ke Rp 0,25 (1965), berkat sanering (Rp 1000 menjadi Rp 1) oleh Presiden Soekarno. Selama Orde Baru  atas order  IMF dan Bank Dunia  rupiah berkali-kali didevaluasi. Pada 1970 jadi Rp 378,     1971 jadi Rp 415, 1978 merosot lagi   55%, jadi  Rp 625;   didevaluasi lagi  pada September 1983,  45%, jadi  Rp 970 per dolar AS.  Pada 1986 bertengger di Rp 1.660/dolar AS.

Dari waktu ke waktu nilai tukar rupiah terus terdepresiasi,  mencapai  Rp 2.200 per dolar AS  sebelum ’Krismon’  1997.  Rupiah kemudian  ’terjun bebas’ pertengahan 1997,  dan sejak itu terus  terombang-ambing – lagi-lagi atas kemauan IMF dan Bank Dunia – dalam sistem kurs mengambang, dengan titik terendah Rp 16.000, awal 1998. Saat ini fluktuatif di Rp 13.000-Rp 13.500.  Sementara dolar AS sendiri, yang berlaku sebagai jangkar,  telah kehilangan lebih dari 95 persen daya belinya sejak berlaku pada 1913. Rupiah telah kehilangan 99 persen daya belinya sejak 1946.

Telor Hiperinflasi

Belakangan para bankir menemukan teknik baru, bukan untuk menghentikan, tapi menyembunyikan, proses keruntuhan uang kertas. Namanya redenominasi. Pembuangan beberapa angka 0 adalah untuk memberi efek psikologis masyarakat  untuk tidak merasakan  semakin miskin. Realitas sejatinya tidak bisa dikelabui. Dalam rentang enam  tahun terakhir  saja sejak isu redenominasi dilontarkan 2010 lalu,  diukur dengan nilai telor ayam saja, rupiah telah kehilangan lebih dari 40% daya belinya. Enam  tahun lalu Rp 100.000 dapat 7  kg telor ayam, hari ini cuma dapat 4 kg.  Tidak ada bedanya  rupiah diberi lima angka 0 (Rp 100.000) atau digunduli hanya dengan dua angka 0 (Rp 100). Jadi atau tidak jadi redenominasi daya belinya sudah tergerus 40%!

Redenominasi bukan solusi. Solusinya adalah ikutilah Nabi,  kembali kepada Dirham perak dan Dinar emas, yang sudah terbukti bebas dari inflasi.