Rusak Bahasa, Karena Riba

729

Riba terbukti  telah merusak segalanya, termasuk bahasa.  Setiap kata sebagai penyusun suatu bahasa tentunya memiliki makna. Dan makna yang melekat pada suatu kata, dan karena  itu juga pada bahasa, semuanya bersumber kepada yang Maha Tahu dan Maha Mengajarkan, yaitu Allah Swt.  Itu dimulai sejak awal penciptaan, sejak manusai pertama, Nabi Adam AS, diciptakan dan diajari-NYA nama-nama.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.” (QS Al Baqarah, 31).

Pada setiap sesuatu yang diciptakaan oleh Allah SWT secara  bil haq itu ada fungsi dan kegunaan uniknya, menuruti Rububiyah, sebagaimana dikehendaki oleh Sang Penciptanya sendiri. Inilah fitrah, sunatullah, yang tidak bisa diubah-ubah oleh manusia.

Demikianlah emas dan perak, dua benda yang diciptakan oleh Allah SWT, dengan fitrah sebagai harta yang disukai umat manusia, sebagaimana produk tanaman dan hewan ternak, serta anak-anak dan kaum perempuan. Bahkan Allah SWT pula yang melekatkan nilai poada keduanya, secar aberbeda. Emas selalu merujukpada harta bernilai besar, perak merujuk pada harta bernilai (relatif) kecil. Tidak mungkin  keduanya tertukar.

Maka  ketika masyarakat hidup dengan tatanan fitrah, tanpa banyak “intervensi” akal-akalan manusia, yang kita sebut sistem itu, emas dan perak berlaku sebagai harta yang difungsikan sebagai alat tukar. Bentuknya, tentu saja, dalam satuan hitung tertentu, dalam hal ini, satuan berat, dengan bentuk fisik berupa koin atau bukan. Secara tradisional masyarakat paramodern telah menciptakan satuan-satuan berat tertentu.

Di dalam syariat Islam, satuan berat itu kemudian ditetapkan secara pasti, sejak zaman Rasulullah SAW sendiri.  Emas dalam satuan mithqal. Dan perak dalam satuan qirat yang dirujuk dari satuan mithqal dalam perbandingan tertentu, yakni 7/10 dalam berat. Dari sini kita mengenal satuan Dinar dan Dirham.

Akibat sistem riba, istilah-istilah itu, rusak. Nama-nama dicabut dari maknanya. Dinar dan Dirham bukan lagi merupakan satuan timbangan, dengan emas dan perak, sebagai basisnya, tapi sekadar sebutan pada angka-angka – dalam bentuk bit komputer atau di atas secarik kertas – dan dilekatkan nilai atas sesuatu benda kepadanya. Jadilah angka 1000 atau 10.000, yang tak lebih sekadar sebagai simbol numerik, menjadi “bernilai”, ketika dilekatkan nama Dinar atau Dirham.  Dan nilai itu pun tidak sama, tergantung siapa yang melekatkannya, bankir Iraq, bankir Maroko, bankir kuwait, dan seterusnya.

Hal yang sama terjadi pada dolar, pada gilders, pada ducat, pada riyal,  juga – tentu saja – pada rupiah. Semua dicabut dari maknanya.

Ada pula yang sebaliknya, dari istilah yang semula memberikan kejelasan karena kekhasan makna negatif dan buruknya, yakni  riba, disebut dengan kata-kat aberbeda yang bermakna positif dan berguna: interest, bunga, atau faedah!  Dan kita, menerimanya begitu saja, tidak  lagi mempedulikan makna aslinya, riba, sebuah kejahatan yang termat keji.

Makna dan Asal Kata “Rupiah”

Sampai hari ini tidak banyak orang Indonesia yang tahu mengapa rupiah dipilih sebagai nama uang NKRI. Apakah ini nama lokal atau baru saja dicetuskan?   Ketahuilah bahwa kata rupiah hidup sejak abad kelima atau enam Masehi. Rupiah berasal dari bahasa Mongolia, rupia, yang berarti perak. Waktu itu, Mongolia di bawah Genghis Khan, dilanjutkan Timur Leng, dan Kubilai Khan melakukan serangkaian invasi sampai ke negara-negara selatan. Di antaranya, India, Afghanistan, dan Pakistan serta negara utara, Rusia dan beberapa negara Eropa Timur lainnya.

rupee

Nama rupia kemudian menyebar. Sebab, negara-negara bekas jajahan Mongolia itu melakukan perdagangan ke berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara. Saudara rupiah itu sebetulnya adalah rubel, mata uang Rusia. Jadi kelirulah  jika ada anggapan bahwa rupiah berasal dari satuan uang India, rupee. Kedua mata uang tersebut sejatinya sama. Hanya pelafalannya berbeda. Pada awal 1500-an, ketika kolonialisme Eropa mulai mekar di Asia dan Afrika, perbedaan itu muncul. Inggris lantas melafalkan rupia menjadi rupee, Prancis (rouple), Jerman (rupie), dan Portugis tetap melafalkan rupia.

Kata rupiah paling dekat dengan lafal Portugis. Alasannya, bahasa Indonesia mengambil bahasa Melayu pasar sebagai bahasa persatuan. Sedangkan bangsa Portugis bercokol amat lama, 130 tahun (1511-1641) di Malaka.  Dari kata rupia ditambahi huruf H saja, jadilah rupiah.  Ketika beberapa orang menyatakan berdirinya Negara Republik Indonesia, nama rupiah terus dipakai sebagai mata uang NKRI, semula disebut sebagai Oeang Repoeblik Indonesia. Dengan simbol Rp.

Secara resmi ORI, melalui sebuah undang-undang (1946), dinyatakan  sebagai uang fiat yang didukung dengan emas. Nilainya setiap Rp 10 =  5 gr emas. Dengan kata lain harga emas ketika itu adalah Rp 2/gr. Inilah janji bank sentral. Tapi kenyataannya?

Hari ini rupiah, yang bukan lagi perak dan bahkan bukan lagi uang fiat yang ditopang emas, menjadi satu di antara mata uang fiat yang dikenal sebagai “uang sampah”. Mata uang yang rendah dan  paling rendah nilainya di dunia. Untuk mendapatkan 1 gr emas tidak lagi cukup hanya dengan Rp 2, tapi perlu lebih dari Rp 500 ribu. Maknanya rakyat Indonesia telah dipermiskin sebanyak 250 ribu kali!

Semua karena riba. Riba yang telah dijadikan sistem, dan dipaksakan untuk dijalani oleh setiap orang. Karena itu, setiap Muslim harus mulai berhijrah dari sistem ini. Kembalikan bahasa pada maknanya. Kembalikan realitasnya. Bahwa mata uang kita adalah koin emas dan koin perak. Dinar emas atau Dirham perak. Bahkan mau disebut rupiah atau ducat atau riyal, tidak masalah, asal dikembalikan kepada aslinya, yakni berupa satuan berat emas dan perak.