Satu Pesan Terakhir Rasul Saw dalam Haji Wada’: Hentikan Riba!

778

Pada hari ini kita merayakan Idul Adha, peristiwa besar yang selalu kita peringati setiap tahun, sementara berjuta kaum Muslim yang lain, tengah menyelesaikan ibadah haji mereka. Berhaji adalah sebuah perjalanan yang tidak mudah, baik fisik maupun spiritual. Karena itu berhaji tidak diwajibkan bagi setiap orang, hanya mereka yang mampu. Kewajiban berhaji pun hanya sekali seumur hidup. Tetapi perjalanan yang hanya sekali ini sangat besar maknanya bagi seorang muslim.

Allah SWT menyatakan dalam al Qur’an (Al Baqarah: 196),“Wa atimul hajj wal umrata lillah”, (“Tunaikanlah haji dan umrah hanya karena Allah”). Tujuan berhaji adalah demi memenuhi perintah, tunduk dan patuh kepada,  Allah SWT.  Rangkaian perjalanan haji, yang dimulai dengan berpakaian ihram, thawaf, sa’i, tahalul, wuquf, melempar jumrah dan menyembelih binatang, dan diakhiri sekali lagi dengan berthawaf (ifadha), hanyalah demi  ketundukan kita kepada Allah SWT tersebut.

Keteladanan Nabi Ibrahim a.s, istrinya Siti Hajar, dan putra mereka, Nabi Ismail, a.s, yang setiap tahun dikisahkan kembali berulang-ulang, pun menunjukkan ketaatan dan keikhlasan mereka sepenuhnya kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah haji, dan semua perintah Allah SWT dan Rasulnya SAW, adalah saat tepat bagi kita untuk mempuasakan  nafs kita. Membesar-besarkan, bahkan menuhankan nafs, adalah penyakit utama  manusia modern. Semua hal dipertanyakan, semua perintah Allah SWT dan Rasulnya, dicari-cari alasan dan rasionalitasnya.  Kalau ada yang tidak sesuai dengan keadaan atau kemauan kita lalu dicari-cari dalih dan dalil baru, dengan klaim “ijtihad”, yang sesungguhnya hanyalah untuk membenarkan kemauan kita sendiri.

Dalam menjalankan perintah Allah SWT dan Rasulnya  kita harus lebih mengutamakan hati dan perasaan, ketimbang akal dan pikiran. Berhaji, mendirikan salat, berpuasa, dan berzakat,  tidak untuk terlalu  dipikiri dan diteoritisasi, melainkan  dihayati dan dijalani.  Seluruh rangkaian perjalanan haji adalah “demi Allah”. Berthawaf  mengelilingi Ka’bah adalah mengharmoniskan diri dengan  rububiyyah, keteraturan fitrah,  sebagaimana seluruh jagad raya pun berthawaf. Bulan berthawaf mengelilingi bumi. Bumi berthawaf mengelilingi matahari. Dan matahari berthawaf mengelilingi Galaksi Bhimasakti, dengan arah yang sama, dari kanan ke kiri. Semua kerena ketaatan kepada Allah SWT.

Bersa’i adalah memperingati pengalaman  Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim a.s, saat harus berlari-lari di antara dua bukit Shafa dan Marwah, untuk mencarikan air bagi  putranya, Ismail, a.s. Tapi, mengapa Siti Hajar rela ditinggal di  tempat yang sangat gersang, tanpa  sumber kehidupan, air dan makanan,  dan Nabi Ibrahim a.s tega meninggalkan mereka?  Hanya karena taqwa, tunduk kepada perintah Allah SWT.   Dan ketika dipreintah oleh Allah SWT  untuk menyembelih putranya yang baru saja melewati masa remajanya, Nabi Ibrahim a.s  melakukannya  karena ketaqwaan, tanpa mempertanyakan sedikit pun.   Sesuatu yang bagi kita saat ini pastilah menimbulkan pemberontakan sikap.

Puncak dari ibadah haji adalah wuquf di Arafah. Rasul SAW bersabda “Al hajju al Arafah”. Tanpa wuquf di Arafah batallah haji kita. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, Rasul SAW, menyatakan bahwa pada  tanggal 9 Dzulhijah, pada saat jamaah haji berwukuf, Allah SWT mendekati para hamba-Nya dan  berkata kepada para malaikat, “Lihatlah hamba-hambaku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan lusuh, penuh debu, untuk menyenangkan Aku. Wahai pengunjung Arafat! Aku telah mengampuni segala dosamu!”

Di Padang Arafah inilah kita  berdiri dalam keadaan “telanjang dari segala atribut dunya”, berhadapan hanya dengan Allah SWT.  Di Padang Arafah pula, kita dibawa kepada asal mula kita,  karena di situlah Nabi Adam a.s dan Siti Hawa kembali dipertemukan. Maka, di Arafahlah, kita berkesempatan untuk bermakrifatullah, mengenali Allah SWT. Berkumpul di Padang Arafah adalah  gladi resik   pertemuan kita dengan Allah SWT di Padang Mahsyar nanti.

Ungkapan “al hajju al Arafah” dari Nabi SAW di atas juga penting kita pahami karena di situlah, Rasul SAW menyampaikan pesan-pesan terakhirnya kepada seluruh umat Islam, yang dikenal sebagai Khutbat-u ‘l- Wada’ atau Pidato Perpisahan, sekitar tiga bulan sebelum Nabi SAW wafat. Pesan-pesan ini sangat penting dan relevan bagi kehidupan kita  saat ini.

Di Arafah Rasul SAW menyatakan, antara lain,   agar “ setiap orang menjaga amanah”, “berpegang pada dua warisan yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul” agar tetap selamat, serta “menghargai pemilikan  pribadi, serta hak-hak kaum perempuan”. Rasul SAW juga menyatakan bahwa  “semua riba harus dihentikan.”.

Dalam konteks zaman  ini, perintah meninggalkan Riba ini, menjadi sangat penting, sebab Riba telah menjadi sistem, riba menjadi cara hidup seluruh umat manusia kini, Muslim atau bukan Muslim. Sampai-sampai, Rasul SAW, menyatakan Akan tiba masa ketika kalian tidak akan temukan seorang pun di dunia ini yang tidak makan riba. Dan bahkan ketika seseorang menyatakan dia tidak makan riba,  pastilah debu  riba  sampai kepadanya.” (HR Abu Dawud)

Pada saat Khutbah Wada’ itu beberapa ayat al Quran terakhir yang berisi perintah  meninggalkan riba ini, diturunkan.  Dalam Surat Al Baqarah ayat 274, disebutkan bahwa kehidupan para pemraktek  Riba akan terus gelisah, karena tekanan penyakit  gila, lantaran mereka menyamakan Riba dengan jual beli. Selengkapnya ayat ini berbunyi, yang artinya:

Orang-orang yang makan riba tak  dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan  setan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu karena mereka menyatakan  bahwa jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan  mengharamkan riba. Orang-orang yang telah menerima larangan Tuhannya, lalu tidak lagi memraktikkan riba, baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan  urusannya terserah kepada Allah. Orang-orang yang masih juga menerapkan riba, mereka itu  penghuni Api, kekal di dalamnya. (Qur’an 2: 274)

Dalam ayat ini Allah SWT juga menyatakan bahwa Riba tergolong dosa besar, dengan ancaman hukuman di  neraka selamanya. Rasul SAW menyebutkan adanya 73 pintu-pintu Riba, dan dosa yang terkecilnya adalah setara dengan “mensetubuhi ibu.” Harap diketahui bahwa para pelaku Riba ini terdiri atas empat golongan, yang sama dosanya, sebagaimana sebuah HR Muslim,  yaitu “orang yang membayarkannya, yang menerimanya, yang mencatatnya, dan yang menyaksikan atau membiarkannya terjadi”

Di antara begitu banyak pintu Riba itu manakah  bentuk   yang  paling  merugikan umat manusia hari ini?

Tidak lain adalah pemakaian uang kertas dan sistem perbankan yang menggerakkannya. Karena telah bagitu lumrahnya kita berurusan dengan uang kertas dan perbankan ini, hingga seluruh transaksi Riba ini tidak lagi kita kenali, bahkan kita semua menyatakannya, seperti yang Allah SWT firmankan  di atas, sebagai “jual beli”. Lebih jauh Riba yang diharamkan oleh Allah SWT bahkan telah dihalalkan oleh sebagian orang, dengan diberi embel-embel Islam atau Syariah di belakangnya: ekonomi syariah, bank syariah, pasar saham syariah, kartu kredit syairah, dan seterusnya.

Riba terbukti membuat manusia saling menganiaya. Akibat riba adalah kesengsaraan bagi semua orang. Riba telah mengakibatkan seluruh beban  kehidupan menjadi tidak tertanggungkan, biaya dan harga menjadi berlipat ganda. Ini karena uang kertas yang terus-menerus dicetak, dan digelembungkan lewat utang-piutang berbunga, yang mengakibatkan merosotnya daya beli uang kertas tersebut.

Belum lama berselang  setiap keluarga secara mudah dapat memiliki sebuah rumah. Tapi, kini  tanah-tanah dikuasai oleh para bankir melalui pengembang-pengembang, memiliki rumah menjadi kemewahan.  Dengan dalih menolong,  para bankir menciptakan  Kredit Perumahan Rakyat (KPR).  Tapi, apa akibatnya? Justru harga rumah semakin tak terjangkau. KPR yang  semula ditujukan untuk rumah tipe 70, harus diturunkan  untuk tipe 60, ke  tipe 45,  lalu tipe 36, dan kini semakin kecil lagi, ke  tipe 21. Itu pun hanya bisa dibeli oleh sedikit orang, karena harganya semakin mahal. Ini berlaku juga untuk mobil dan motor, untuk  barang-barang rumah tangga, dan segala barang kebutuhan lainnya.

Bahkan  biaya kesehatan dan pendidikan. Lagi-lagi dengan dalih membantu “meringankan” biaya ini para bankir-rentenir menciptakan berbagai bentuk kredit, asuransi, tunjangan, dan sebagainya, yang semuanya berbasis pada utang berbunga. Lagi-lagi akibatnya adalah  justru biaya kesehatan dan pendidikan semakin tidak terjangkau. Sistem perbankan memastikan Riba sekecil apa pun menjadi berlipat ganda, yang terjadi bukan saja melalui   utang  berbunga yang secara langsung dikenakan oleh  perbankan pada kredit yang dikeluarkannya, tetapi melalui efek rentetan pada setiap transaksi yang mengandung utang  bunga, yang ditanggung oleh  seluruh masyarakat.

Riba mempengaruhi semua sektor kehidupan, banyak usaha mati dan bangkrut, karena terjerat utang berbunga. Perbankan juga mendorong masyarakat untuk menimbun harta, dan tidak memproduktifkannya dalam usaha dan perdagangan.  Maka   jutaan lapangan kerja tertutup, ekonomi tidak berkembang, kecuali segelintir usaha besar yang difasilitasi oleh utang perbankan, baik yang konvensional maupun yang berlabel “syariah”. Sebaliknya, akibat ekspansi kredit perbankan yang seolah tak terbatas kepada berbagai kegiatan yang mungkin tidak menyentuh kepentingan orang banyak,  berbagai persoalan ekonomi, sosial, penggundulan hutan dan kerusakan lingkungan, kemacetan lalu lintas,   dan sebagainya, semakin tak terkendali.

Wukuf

Dalam ayat berikutnya, Allah SWT berfirman:  “Yamhakullahu riba wa yurbi sodaqotan” (“Allah akan memusnahkan  riba dan menyuburkan sedekah”, Qur’an 2: 275).  Dan kita  memang tak pun punya pilihan lain, sebab jika kita tidak mentaatinya, bukan saja Riba itu akan musnah, Allah dan Rasulnya telah menyatakan perang terhadapnya. Dan hanya bila kita berhenti mempraktekan sistem Riba ini maka segala bentuk penindasan akan berhenti, hingga kita tidak lagi saling menganiaya. Allah SWT berfirman di dalam Surat Al Baqarah ayat 278, yang artinya:

Jika  kamu tidak juga meninggalkan sisa riba tersebut, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika bertobat, maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya. (Qur’an 2: 278)

Dalam konteks saat ini, ketika Riba telah menjadi sistem, meninggalkannya memang tidak mudah. Maka Allah SWT menyatakan bahwa meninggalkan Riba adalah bukti dari ketaqwaan kaum beriman. Dalam surat Al Baqarah ayat 277, Allah SWT berfirman, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba [yang belum dipungut]  jika kamu benar orang yang beriman. (Qur’an 2: 277)

Lalu, bagaimana jalan kita untuk melepaskan diri dari sistem Riba  yang telah menggurita ini?

Kembalilah kepada muamalat. Gunakan kembali mata uang Dinar emas dan  Dirham perak, yang kini telah kembali dicetak dan diedarkan di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Kabupaten Temanggung ini, sebagaimana Rasul SAW, para Sahabat, Tabiin dan Tabiit-Tabiin, serta seluruh umat Islam di masa lalu menggunakannya. Inilah mata uang umat Islam, sebagaimana kita temukan dalam semua kitab fiqih, baik fiqih zakat maupun muamalat. Untuk pemakaian Dinar dan Dirham sehari-hari  gerakkan kembali pasar-pasar terbuka. Hidupkan hari-hari pasaran Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi, di tempat-tempat umum dan terbuka, hingga setiap orang berkesempatan berdagang tanpa dipungut sewa dan pajak. Sebagaimana sabda Rasul SAW, “Sunnahku di Pasar, sama dengan sunnahku di Masjid.”

Dengan telah kembalinya Dinar dan Dirham maka pembayaran  zakat mal (khususnya) dapat dilaksanakan kembali secara benar.  Nisab zakat mal adalah 20 Dinar emas dan 200 Dirham perak, dengan kewajiban zakat 2.5%. Uang kertas, yang tidak memiliki nilai intrinsik, dalam kaitannya dengan zakat harus diperlakukan sebagai fulus, yang tidak dapat digunakan sebagai sarana pembayaran zakat. Penarikan kembali zakat dalam Dinar emas dan Dirham perak, harus  didahului dengan pengembalian otoritas kepemimpinan Islam. Kaum muslimin harus kembali  berjamaah, dipimpin oleh para amir yang dipercayainya.

Allah SWT dalam Al Qur’an Surat  An Nisa ayat 59 berfirman,  “Atiullah wa atiurrasul wa ulil amri minkum. (Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta para pemegang otoritas di antaramu)

Mufasir besar, Imam  Qurtubi, ketika  menguraikan makna perintah dalam Surat An Nisa 59 ini, mengatakan  bahwa   wewenang  dan kewajiban seorang pemimpin Muslim (seorang amir), yang harus ditaati adalah, dalam:

  1. Menetapkan dan mengotorisasi dua salat Id (Idul Fitri dan Idul Adha) serta  salat Jum’at
  2. Menjalankan ketetapan-ketetapan hukum Islam
  3. Menjamin dan menjaga kebenaran takaran, ukuran, dan timbangan, termasuk Dinar dan Dirham
  4. Menunjuk petugas zakat, menarik, dan mendistribusikannya kepada yang berhak
  5. Menyiapkan diri untuk memimpin jihad, dan bila berhasil, mengumpulkan dan membagikan harta pampasan (ghanimah)

Sejak berakhirnya kepemimpinan Umat Islam terakhir, yakni Daulah Utsmaniah, pada tahun 1924, umat Islam  memang telah tercerai berai, tidak lagi hidup berjamaah di bawah kepemimpinan para amirnya. Maka, Dinar dan Dirham ikut lenyap bersamanya. Penarikan zakat tidak lagi berlaku sesuai dengan syarat dan rukunnya. Muamalat ikut roboh bersamanya. Dan Riba merajalela menjadi sistem dalam kehidupan kita, karena seluruh tatanan hidup kita digantikan dengan sistem yang dirancang oleh kaum  kafirin, melalui instrumen ekonomi dan politik, yang kita jalani saat ini. Uang kertas menggantikan Dinar emas dan Dirham Perak. Mal-mal dan supermarket menggantikan pasar-pasar rakyat. Distribusi monopolistik menggantikan perdagangan. Kontrak-kontrak bisnis dan usaha yang batil menggantikan kontrak-kontrak yang halal seperti qirad, shirkat, muzara’ah, dan sebagainya.

Tetapi, Wahai Kaum Muslimin dan Muslimat, sistem Riba ini tengah mengalami keruntuhan. Janji Allah dan Rasulnya SAW untuk memerangi Riba tengah kita saksikan hari-hari ini, dalam bentuk-bentuk yang kita sebut sebgai ”Krisis Moneter”, ”Krisis Ekonomi”, atau ”Krisis Perbankan”. Saksikan apa yang tengah terjadi di AS, di Eropa, dan di sebagian wilayah Asia, bahwa di negeri kita sendiri, nilai mata uang rupiah terus merosot. Harga-harga terus meningkat. Ekonomi mengalamai kemandekan. Kemiskinan semakin luas.

Kabar gembiranya adalah, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, umat Islam di mana-mana kini telah memahami inti persoalan ini, yakni sistem Riba yang melingkupi kita. Jawaban untuk itu pun kini telah diberikan. Dengan dasar kepatuhan kepada perintah Allah SWT dan Rasulnya, SAW, sebagaimana kepatuhan keluarga Nabi Ibrahim a.s, dan sebagaimana kepatuhan jutaan umat Islam yang menjalankan napak tilasnya  melalui perjalanan haji,  Dinar dan Dirham – dua mata uang yang tidak pernah terkena inflasi – kini telah dicetak dan diedarkan kembali, termasuk di Indonesia. Zakat mal pun telah dapat dibayarkan dalam Dinar dan Dirham. Pasar-pasar terbuka kembali telah dirintis, perdagangan dan transaksi sehari-hari menggunakan nuqud nabawi, Dinar dan Dirham, yang tak lama lagi nanti akan dilengkapi dengan alat tukar ketiga, yakni koin-koin tembaga yang disebut Fulus,  juga telah dijalankan kembali.

Allah SWT menyatakan  bahwa meninggalkan Riba  adalah  salah satu bukti ketaqwaan dan keimanan seseorang. Dalam konteks hari ini, di mana kita semua terlibat dalam Riba,  tanpa ketakqwaan  meninggalkannya akan terasa sangat berat. Tetapi dengan landasan taqwa, demi memenuhi perintah Allah SWT dan Rasulnya SAW, berhenti terlibat dengan Riba, mengalihkan penggunaan mata uang kertas kepada Dinar emas dan Dirham perak, akan  menjadi kenikmatan yang tiada tara. Kita akan terbebas dari segala bentuk penganiayaan, baik kepada diri kita sendiri maupun terhadap orang lain.

Tetapi, wahai Muslimin dan Muslimat, ini semua hanya akan dirasakan oleh mereka yang beriman, mereka yang bertaqwa, mereka yang menjalankan dan mengamalkannya, bukan mereka yang hanya membicarakannya, atau bahkan mempertanyakannya, ”Mengapa harus Dinar dan Dirham”? ”Mengapa tidak praktis-prakti saja dengan rupiah dan transfer melalui perbankan?”, ”Mengapa harus mengubah segala kemudahan dan kenikmatan yang kita dapatkan dengan sistem Riba ini?”, dan seribu satu ”mengapa” lainnya.  Ini tak bedanya dengan mempertanyakan ”mengapa thawaf berputar melawan arah jarun jam dan tidak searah dengannya?”, ”mengapa sa’i dilakukan tujuh kali dan bukan delapan?”. Begitu seterusnya.

Pada mulanya mengubah kebiasaan yang telah menjadi kesalahkaprahan memang akan tampak tidak lumrah, bahkan asing, sebagaimana asingnya Islam, ketika pertama kali datang di tengah masyarakat yang juga telah mapan hidup dalam sistem tertentu. Dalam sebuah hadits Riwayat Tirmidhi, Rasul SAW,  telah menyatakan: ”Islam datang sebagai elemen asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awal mulanya, maka penuh berkahlah mereka yang asing. Ia, Rasul SAW kemudian ditanya tentang siapakah orang-orang asing tersebut, yang ia jawab: ’Orang-orang asing itu adalah mereka yang  meluruskan hukumku yang oleh sebagian yang lain telah dibengkokkan, dan mereka yang menegakkan kembali syariatku yang telah mereka runtuhkan’.

Menggunakan kembali Dinar dan Dirham hari ini pun masih tampak sebagai keasingan, yang menandakan bahwa inilah salah satu pilar syariat yang telah roboh, yang kini ditegakkan kembali.

Kita mohon kepada Allah SWT agar mengampuni seluruh kesalahan dan dosa kita di masa lalu akibat terlibat dengan sistem Riba, kita sadari atau pun tidak.

Kita mohon kepada Allah SWT agar mengembalikan pengetahuan dan pemahaman tentang seluk beluk muamalat, tentang Dinar dan Dirham, tentang hukum-kuhum dagang dan usaha yang sesuai dengan syariat

Kita mohon kepada Allah SWT agar memudahkan jalan kita untuk meninggalkan Riba, dan kembali kepada Muamalat, menguatkan niat dan amalan kita untuk kembali menggunakan Dinar dan Dirham, serta Fulus, menggantikan uang kertas yang terus-menerus digerus inflasi

Kita mohon kepada Allah SWT agar membukakan hati para pemimpin kaum Muslimin untuk kembali menjalankan peran dan tanggungjawab kepemimpinannya sesuai dengan tuntunan syariat Islam, melalui restorasi kembali amirat-amirat di segala tempat