Sebelum Kiamatmu Tiba

594

Rasul SAW mengajarkan agar kita tetap menanam meski kita tahu kalau besok datang hari kiamat. Maknanya adalah kita harus tetap berbuat, tanpa memikirkan hasil. Ini juga bermakna tetaplah berbuat selagi masih punya waktu.

Setiap kita tentu  akan menemui ‘kiamat’ kita masing-masing: saat kita mati. Dan kiamat ini bisa jadi datang esok pagi, bahkan siang nanti.

Maka, matilah sebelum mati.

Matikan seluruh nafsmu, selagi ragamu masih hidup, agar hidup penuh makna. Berbuatlah hal-hal yang disenangi oleh Allah SWT. Matilah selagi hidup agar kamu bisa melakukannya. Derngan cara sepenuhnya cintailah yang Allah cintai. Jauhkan opinimu sendiri. Jauhkan nafsmu sendiri.

Demikian pun bencilah segala yang Allah benci.

Dan satu hal yang paling dibenci-NYA, bahkan diperanginya, adalah Riba. Tunduk patuhlah kepada Allah SWT untuk meninggalkan Riba. Betapapun riba seolah memberikan banyak kemudahan, dan keuntungan. Tapi, adakah yang lebih buruk dari hal yang dibenci dan diperangi oleh ALlah dan rasul-Nya SAW?

Tapi bersikap antiriba saja tidaklah cukup. Sebab riba telah merasuk dalam kehidupan kita. Riba telah menjadi sistem.  Maka, tegakkan muamalah yang halal hingga kita bisa meninggalkan Riba. Tanpa yang halal selamanya kita akan berkubang dengan Riba. Tanpa menjalankan yang halal membuat kita semua seolah tak berdaya mengatasi riba.

Menegakkan muamalah harus dilakukan secara berjamaah. Ini adalah awalnya. berjamaah, dalam suatu Amirat. Tunjuk amir di setiap tempat atau ikuti amir yanhg telah ada. Amir, di sini, bukan sekadar titel atau jabatan. Amir adalah tugas dan wewenang. Memimpin jamaah dalam mengerjakan hal-hal yang termasuk fardhu kifayah utama: pencetakan dinar emas dan dirham perak, penarikan dan pembagian zakat dengan ayn, penyelenggaraan pasar-pasar rakyat tanpa sewa, tanpa pajak, dan tanpa riba, pengelolaan wakaf-wakaf produktif, dan sebagainya.

Secara individual, dan bersama-sama, mulai tinggalkan uang kertas dan bank. Gunakan dinar dan dirham. Hadiri dan ramaikan pasar. Tegakkan rukun zakat, tunaikan zakat mal hanya dalam dinar emas dan dirham perak.

Di tengah lautan riba yang haram, menegakkan muamalah ibarat menanam benih. Mungkin kita belum menikmati hjasilnya, dan ‘kiamat’ kita  telah tiba. Tapi tetaplah menanam.

Matilah sebelum engkau mati!