Standard Chartered Bank Merugi 1,5 Miliar Dolar AS

435

Baru saja terdengar adanya krisis besar di sejumlah bank di Singapura, menyusul berita Standard Chartered telah jatuh dalam kerugian untuk pertama kalinya sejak tahun 1989. Tidak kecil, nilai ruginya (2015)adalah 1.5 miliar dolar AS (Rp 21 triliun). Akibatnya, pihak bank sedang mempertimbangkan menarik kembali bonus pada 150 staf seniornya. Tingkat kredit macet mengalami kenaikan sebanyak 87%.

Sampai tiga tahun lalu, bank menikmati kenaikan laba selama 10 tahun berturut-turut dari kenaikan laba. Namun ambidi pada peningkatan pendapatan telah menyebabkan kenaikan kredit bermasalah. Ini khususnya di pasar negara berkembang seperti China, Indonesia dan Korea. Demikian dilaporkan oleh Theguardian.com (23 ferbuari 16).

Selain itu, kebiasan para bankir adalah memberikan bonus gilka-gilaan kepada para eksekutifnya. Bill Winters, CEO-nya, mendapat bayaran AS $ 12.8 miliar. Direktur sebelumnya, Peter Sands menerima AS$ 4.6 miliar dan dua direktur lainnya yang juga telah meninggalkan SC Bank menerima lebih dari AS $ 4 juta. Sands menerima penisun tahunan AS$ 722.131 setahun.

banking sistem

Sejak setiap kali ditemukan krisis perbankan, pemerintahan di Eropa dan AS terus mempersoalkan kebijakan gaji dan bonus para bankir yang sangat tidak wajar tersebut.

Demikianlah, parasit adalah parasit. Rentenir tetaplah rentenir. Masyarakat umumlahyang akhirnya menanggung krisis finansial. Sebab, para bankir, akan selalu ditolong pemerintah melalui bail out. Yang kemudian dibebankan kepada rakyat dalam bentuk pajak.