Stop Wakaf dengan Cara Kapitalis

740

Kaidah Wakaf Yang Sesuai Sunnah

Stop Wakaf dengan Cara KapitalisRasul SAW mengajarkan ‘Paradigma Wakaf’ melalui haditsnya, sebagaimana disampaikan melalui Umar bin Khattab r.a, yakni ‘menahan pokoknya dan mengalirkan hasilnya’. Dalam bahasa keuangan modern kita bisa membedakan keduanya dengan istilah liability management atau cost center untuk ‘Paradigma Sedekah’, dan asset management atau surplus center untuk ‘Paradigma Wakaf’.

Dalam prakteknya keduanya akan mengasilkan dua kegiatan sosial yang sangat berbeda. Kita mengenalnya sebagai perbedaan antara ’sedekah’ dan ‘sedekah jariah’, manfaat-sekali-waktu dan manfaat-lestari. Dalam konteks di atas, saat ini, kita acap mendengar istilah wakaf produktif, untuk dibedakan dengan wakaf konsumtif.

Sesungguhnya pembedaan ini tidak tepat, wakaf pada dasarnya haruslah produktif, dan kalau semata konsumtif, namanya sedekah, bukan sedekah jariah, sebagaimana dimaksudkan oleh wakaf. Wakaf seharusnya selalu melibatkan proses penciptaan surplus, melalui proses produksi (pertanian, perkebunan, peternakan, atau manufaktur), atau proses perdagangan (dan persewaan). Surplus yang dihasilkan dari proses produksi dan perdagangan inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk layanan sosial (pembangunan dan pengelolaan masjid, sekolah, klinik, pasar, taman bermain, dan seterusnya). Secara historis, pemanfaatan dana sedekah jariah, tidaklah terbatas bentuknya.

Buku ini, adalah mengajak masyarakat umum untuk membulatkan niat mengokohkan ‘Paradigma Wakaf’ tersebut. Dengan pendekatan ini kita harapkan di masa mendatang, lebih banyak kampung-kampung ternak, sawah-sawah, perkebunan, usaha percetakan, penyewaan perkantoran, dan seterusnya, yang dapat kita bangun untuk mengabadikan jariah wakaf masyarakat. Dalam kenyataannya pengelolaan wakaf di masyarakat saat ini masih salah kaprah. Kekeliruan yang paling serius dimulai dari ketidakpahaman umat Islam sendiri pada kenyataan bahwa sekarang ini kita hidup dalam suatu sistem yang berbasiskan pada riba. Riba, yang diharamkan oleh Allah SWT, telah menjadi sistem dan cara hidup, hingga kita semua terlibat di dalamnya, sadar atau tidak.

Karenanya, memahami konteks kehidupan kita yang penuh riba ini sangatlah penting, hingga kita dapat mengerti betapa penting dan gentingnya peranan wakaf di masa kini dan nanti. Maka, buku ini terdiri dari dua bagian :

Bagain I. Islam, Kapitalisme, dan Kedermawanan Sosial, ditulis secara lebih akademis, dengan analisis secara lebih makro dan mendasar. Di sini dibahas mulai dari hal yang sangat mendasar, yaitu pengertian riba, serta bagaimana pengaruhnya terhadap pengelolaan filantropi (kedermawanan sosial dalam konsep kapitalisme), serta perbedaan mendasarnya dengan model pengelolaan program dan jaminan sosial dalam Islam.

Bagian II. Paradigma Produktif Mengelola Wakaf, yang menyajikan kumpulan gagasan. Dalam bagian ini, dengan jumlah tulisan sebanyak 23 kolom, diorganisir menjadi tiga subtema, yaitu bab 1. Meluruskan Paradigma Wakaf, bab 2. Strategi Pendayagunaan dan Pengelolaan Wakaf, dan bab 3. Memakmurkan Rakyat dengan Wakaf.  Agak berbeda dengan bagian I yang bercorak akademik, tulisan-tulisan pendek pada bagian II ini bercorak populer.