Strategi Keluar dari Jerat Riba

5554

Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam pernah berkata “Akan datang  suatu masa ketika semua orang memakan riba. Mereka yang tidak mau makan riba pun pasti terkena debunya”  (HR Abu Dawud).  Hari ini riba telah terintergasi  ke dalam sistem. Kita semua  yang berada di dalamnya  hidup  dan menghidupi  riba.  Kebanyakan orang sekarang ini bahkan telah menyamakan riba dengan perdagangan. Tetapi dalam al Qur’an Allah  telah ditegaskan “Allah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba”.

Kita harus menerima kenyataan ini, dan memahaminya.  Kita juga harus mengerti konsekuensinya, karena  Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam telah menegaskan bahwa kedudukan mereka yang terlibat riba – langsung atau tidak langsung – yaitu “yang membayarkan, yang menerima, yang mencatat, dan yang menyaksikannya” adalah sama (H.R. Muslim).  Allah  Ta’ala mendeskripsikan orang-orang yang terlibat dengan riba ini ”tidak akan berdiri dengan tenang, melainkan seperti orang yang kerasukan setan.” Riba adalah  psikosis sosial.

Dosa  terlibat dengan riba yang  juga sudah disampaikan oleh Nabiullah sallallahu’alaihi wassalam, adalah sangat besar,  ’’yang paling ringan dosanya ialah setara dengan seorang lelaki  yang bersetubuh dengan ibunya” (HR Abu Hurairah).  Dalam riwayat lain oleh Ahmad dari  Abdullah bin Hanzhalah  dikatakan  Rasulullah salallahu alaihi wassalam   menyatakan: “Satu dirham riba, yang diterima oleh seseorang dengan sepengetahuannya, lebih buruk dibanding berzina tiga puluh enam kali.”  Allah SWT  telah pula menegaskan mereka yang terus ingkar dan terus terlibat dengan riba “tidak akan dicintai dan berada dalam api neraka selama-lamanya.”

Jejaring Riba

Selain memahami dosa dan hukuman akibat terlibat dengan riba, setiap  muslim harus mengerti  dampak dari riba itu sendiri. Riba adalah sebentuk psikosis sosial, suatu penyakit jiwa yang menjangkiti kehidupan, yang muncul dalam berbagai fenomena sehari-hari.   Hari ini angota masyakarat umumnya hidup gelisah, khawatir dengan masa depan, tidak berani menghadapi hidup, menjadi kikir dan bakhil serta enggan bersedekah, egois dan tidak peduli dengan orang lain, bahkan saling membunuh atau membunuh dirinya sendiri.  Namun, justru karena itu pulalah, industri riba – asuransi, aneka bentuk kredit perbankan maupun nonperbankan, jaminan tunjangan hari tua dan pensiun, dsb –  semakin merajalela.

Psikosis massal lebih lanjut diperlukan bagi suburnya industri riba ini. Seluruh anggota masyarakat,  dengan begitu,  dapat dijebak, dijerat, dan terus diperbudak dalam debtorship –  hidup dalam hutang.  Setiap muslim harus memahami bahwa riba telah menjadi jejaring kehidupan yang berkaitan satu dengan yang lain. Karena itu harus dipahami elemen penyusun riba yang paling mendasar, yaitu tiga serangkai: mata uang kertas, bunga, dan perbankan. Seluruh industri riba dimulai dan dijalin oleh tiga elemen dasar ini.  Dengan memahami hal mendasar ini setiap muslim akan bisa keluar dari jeratan riba.

Bagi kebanyakan orang sekilas  akan menjadi hal yang mustahil untuk tidak terlibat dengan riba dan keluar dari jeratannya.   Bukankah setiap orang, muslim dan nonmuslim, saat ini tidak ada yang tidak terkait dengan uang kertas, bunga, dan perbankan? Kalau kita melihatnya dari kacamata “teknis”, dan mengajukan agenda “bagaimana cara saya memerangi riba”, maka kita tidak akan menemukan pintu keluar.

Melihat masalah riba dari kacamata personal-individual  hanya akan menimbulkan perasaan tak berdaya: bagaimana mungkin sistem yang telah begitu kokoh dan lazim dapat diatasi? Bagaimana mungkin kita bisa tidak terlibat dengan uang kertas dan perbankan, “satu-satunya” cara hidup yang berlaku hari ini?  Maka, menghadapi soal riba, yang dibutuhkan pertama-atama adalah keimanan dan ketaqwaan. Allah Ta’ala menyatakan “meninggalkan riba adalah bukti keimanan dan ketaqwaan” (Al Baqarah: 278).

Artinya kita harus mengubah posisi kita dengan menyatakan “karena Allah Ta’ala telah mengharamkan riba dan mengumandangkan perang terhadapnya”, maka saya harus menyangkalnya. Sistem uang kertas, bunga dan perbankan, harus kita sangkal. KIta tidak perlu melawan sistem riba. Yang perlu kita lakukan adalah menegakkan yang halal, menghadirkan yang haq, dengan menghidupkan kembali perdagangan dan meninggalkan riba. Dan itu berarti kembali menjalankan muamalat.

Muamalat Sebagai Jalan Keluar

Muamalat yang dimaksud di sini dalam arti yang khusus, yaitu interaksi sosial dan politik, yang seharusnya dijalankan umat Islam, dan bukan sekadar urusan personal dan keluarga, seperti urusan pernikahan dan warisan.  Interaksi sosial yang paling pokok dalam hal ini adalah transaksi komersial dan bisnis. Pengertian perdagangan harus dirujuk kepada fiqih, hingga pemisahannya dari riba menjadi jelas.

Perdagangan berkaitan dengan kegiatan tukar-menukar satu benda berharga, misalnya seekor kambing, dengan benda berharga lainnya misalnya koin emas sebagai alat tukar, dengan surplus pada satu sisinya yakni pihak penjual, dan kemanfaatan pada sisi lainnya, yakni pembeli.  Dalam bahasa fiqih Islam perdagangan adalah “tamliku ‘ayn malliyatin,” mendaptakan harta (‘ayn, komoditas riil) dari harta (mal)  yang lain.  Dengan demikian, perdagangan adalah aktifitas produktif, menghasilkan surplus, sekaligus menggerakkan harta yang merupakan aset nyata dari satu tangan ke tangan lainnya. Perdagangan adalah instrumen fitrah pemerataan kekayaan.  Menukarkan kambing dengan emas atau perak, adalah perdagangan. Menukarkan seekor kambing dengan (uang) kertas, adalah riba, bukan perdagangan.

Dengan mengembalikan pengertian dan praktek perdagangan ini saja kita akan merombak tatanan sosial kita secara mendasar. Penyangkalan kita akan uang kertas dan riba akan membawa kita kepada tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang baru sama sekali. Sebab, hal ini mensyaratkan bahwa kita harus mengembalikan mata uang yang ditetapkan oleh Rasululllah salallahualaihi wassalam, yaitu Dinar emas, Dirham perak, dan fulus. Dan untuk dapat mengembalkannya kaum muslimin harus mengembalikan sunnah yang lain, yaitu berjamaah, hidup terpimpin di bawah para amir dan sultan, dalam amirat-amirat dan kesultanan.

Dalam kehidupan berjamaah, di bawah kepemimpinan para Amir, Dinar dan Dirham dapat dikembalikan, zakat direstorasi, pasar-pasar diadakan, perdagangan dijaga, hudud dan diyat dapat diterapkan, ringkasnya seluruh kepentingan umum, public interest, dapat dilindungi dan dijaga di bawah syariat Islam.  Tanpa amirat dan sultaniyya syariat Islam hanya menjadi slogan dan idealisme. Islam bukan idealisme, bukan ideologi.   Islam adalah perilaku, eksistensialisme tradisi yang telah  berlangsung dari seorang Rasul salallahualaihi wasallam, ditularkan kepada para Sahabatnya, Tabiin, Tabiit Tabiin, terus ditransmisikan kepada generasi berikutnya, sampai kemudian dihentikan oleh modernisme, oleh rasionalisme dan humanisme.

flowerriba

Rasionalisme dan humanismelah yang mengubah cara hidup kaum muslimin dalam sistem sekuler, dengan seluruh tatanan sosial politiknya, yang menjadikan riba sebagai basisnya. Struktur politik negara nasional, dengan bank sentral dan uang kertasnya, serta seluruh  paradigma dan instrumen teknisnya, membawa seluruh umat manusia dalam psikosis sosial   riba, dan jeratan debtorship. Untuk keluar darinya, sebagaimana ditunjukkan oleh Shaykh Abdalqadir as Sufi,  kita harus memulainya dengan mengafirmasikan dua hal: “perdagangan tanpa riba dan pemerintahan tanpa negara.”

Selebihnya, adalah soal teknis, yang tidak lagi menjadi urusan yang sulit.

.