Teknik Kudeta Bank

1713

This is very important book,” demikian komentar pendek dari Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi saat saya menyerahkan naskah terjemahan buku Teknik Kudeta  Bank ini, di kediaman beliau, di Cape Town, awal Oktober 2016 lalu.

Buku aslinya terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Technique of The Coup de Banque,  dicetak dan diedarkan pada  tahun 2000.  Sesudah  lebih dari 15 tahun beredar buku ini kini dapat dibaca oleh masyarakat dalam bahasa Indonesia. Alhamdulillah wa shukrulillah.

Sebelumnya buku ini pernah dikaji dalam kelas di Sekolah Muamalah, Depok, Jawa Barat, ditelaah bab per bab.  Atas dorongan beberapa peserta kajianlah buku ini kemudian diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Alasanya, ya, seperti kata Shaykh Abdalqadir di atas, ini buku  “sangat penting.”

Buku ini sangat penting karena memberikan suatu penjelasan yang sangat mendasar dan tidak banyak dipahami oleh masyarakat tentang bergesernya fungsi pemerintahan  sebagai sistem pengorganisasian masyarakat. Suatu proses yang berlangsung dalam waktu sekitar dua abad lamanya, sejak Revolusi Perancis di abad ke-18, dan mengalami konsolidasi di abad ke-20, di saat munculnya negara-negara nasional. Dan dalam waktu lima puluh tahun terakhir, sejak perang Dunia II, mencapai masa penuntasannya.

Peristiwa apakah yang terjadi selama dua abad itu?

teknik-kudeta-bank

Tidak lain adalah pengambilalihan tata pemerintahan dari orang-orang yang secara fitrah diakui, dan diterima, sebagai para pemimpin, oleh sebuah kelas baru yang muncul kemudian. Satu kelas yang tidak memiliki rasa belas kasih,  kesetiaan kepada sesama, melainkan mengikuti hawa nafsu sendiri, yakni kelas  pemburu rente, yang hari ini kita kenal dengan sebutan para bankir. Dengan teknik yang mereka ciptakan, dalam bentuk formula ribawi, mereka mencengkeram masyarakat melalui utanhg piutang berbunga.

Dengan jenius para bankir ini kemudian menciptakan sistem, prosedur, dan mekanisme pelestarian kekuasaannya, serta perlindungan atasnya, melalui penciptaan kelas baru lainnya, yakni para politisi. Melalui prosedur pemilihan umum secara demokratis, para bankir memastikan, adanya segolongan kaum bayaran, yang setia melindungi mereka. Melalui undang-undang, dan hukum, yang mereka susun dan terapkan, warga biasa menjadi obyek dan sandera belaka.

Tak ada lagi tujuan mulia bermasyarakat. Tak ada lagi perlindungan kepemimpinan. Tak ada kesetiakawanan sosial. Tatanan fitrah pun rusak.  Kemiskinan, kerusakan lingkungan, peperangan, dengan segala  bencana yang mengikutinya, semua akibat dari sistem yang mereka terapkan: perbankan ribawi.

Melalui Teknik Kudeta Bank Shaykh Abdalqadir as Sufi membongkar berbagai tabir yang membuat masyarakat tidak mengenali berlakunya sistem zalim ini.  Dan dengan itu memberikan panduan untuk kita bisa keluar darinya.

Selamat membaca, lalu mengambil tindakan!