Telah Terbit Yang Dinanti-nanti, Buku “Pesan Kepada Muslim”

401

Judul asli buku ini adalah Letter to An Arab Muslim, diterbitkan oleh Madinah Press (Cape Town) tahun 2002. Dalam versi terjemahan ini judulnya diubah menjadi  Pesan Kepada Kaum Muslimin.  Dengan  sengaja  kata “Arab”-nya tidak disertakan.  Ini karena pesan yang disampaikan oleh penulisnya, Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi, dalam buku ini sesungguhnya sangat penting dan berlaku umum bagi seluruh umat Islam di dunia, bukan cuma bagi Muslim di negeri-negeri Arab saja.

Tentu, dunia Arab, yang meliputi wilayah yang cukup luas, mulai dari Jazirah Arab (Hijaz), Iraq, Yaman, Yordania, Palestina dan Libanon, terus ke utara Mesir,  sampai  ke Sudan, Aljazair dan Maroko, punya arti khusus  bagi Muslimin seluruh dunia. Kalangan Muslim di bagian dunia lain, Turki (dan sebagian Eropa lainnya), Anak Benua (India, Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan) serta Nusantara (yang membentang dari Papua sampai Vietnam), yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara, tidak lepas dari pengaruh Dunia Arab.  Segala hal yang berlangsung dan terjadi di Dunia Arab sangat berpengaruh dan mewarnai kawasan Muslim lain tersebut.

Dunia Arab dalam arti luas di atas semula adalah bagian dari Daulah Islam yang terakhir memayunginya yakni Daulah Utsmani – sebuah realitas politik Islam yang sangat kosmopolitan dan multi-nasional.  Keruntuhan Daulah Utsmani menjadikan Dunia Arab tercerai berai, terpecah menjadi  negeri nasional kecil-kecil, yang bukan saja secara politik tidak lagi bersatu di bawah satu Panji Islam, melainkan bahkan menjauh dari Islam itu sendiri.  Simbol-simbol keislaman boleh jadi masih ada dalam penampakan luar, namun tidak lagi dalam kesejatiannya.

Apa yang sesungguhnya berlangsung di Dunia Arab selama hampir satu abad sejak runtuhnya Daulah Utsmani?

Ada dua  kekuatan utama yang mengubah Dunia Arab selama kurun itu.

Yang pertama, tentu saja, yang terjadi di dalam tubuh Daulah Utsmani sendiri sebagai bibit awal. Yakni munculnya gerakan sekulerisme dan nasionalisme yang merong-rong Daulah Utsmani, yang bersamanya merangsek kekuatan lain yang sangat penetratif dan merusak segalanya, yakni ekonomi ribawi, kapitalisme, yang dikemas dalam Program Tanzimat. Tidak lain ini adalah gerakan untuk meninggalkan Dienul Islam.

Yang kedua, bibit lain yang kemudian mendapatkan lahan suburnya pasca keruntuhan Daulah Utsmani, yang melanda seluruh Dunia Arab, yakni Pembaruan Islam, Gerakan Reformasi, yang dibawa oleh tokoh-tokoh Islam modernis, dimulai dari Jamaluddin al Afghani, Muhammad Abduh dan muridnya, Rashid Ridha.  Pembaruan Islam menjadi lahan, sekaligus pupuk yang subur, bagi sekulerisme dan kapitalisme, dalam wadah  nasionalisme, negeri-negeri baru di wilayah Dunia Arab ini.

Perubahan ini kemudian memunculkan tokoh-tokoh tipe baru di masing-masing negeri tersebut, mulai dari Iraq sampai Mesir sampai  Aljazair, yang membawa ide-ide  cangkokan dari Eropa, sosialisme-marxisme, yang diracik dengan Arabisme dan, meski dalam versi yang telah berbeda, Islamisme, menyemangati bangsa-bangsa tersebut. Di sebagian wilayah di bagian utara ditambah lagi dengan sentimen  Afrikanisme. Dengan racikan paham-paham yang datang dari  luar Islam  itulah negeri-negeri yang semula hidup makmur di bawah naungan Panji Islam masing-masing kemudian  tidak berhenti dirundung persoalan. Para (mantan) penjajah mereka, Perancis, Inggris, dan Italia,  memang telah pergi dan memberikan mereka “kemerdekaan nasional”. Namun mereka meninggalkan warisan yang menjadi sumber masalah tak berkesudahan: sistem ekonomi ribawi dan sistem politik serta hukum sekuler yang secara efektif  mempertahankan modus eksploitasi dapat terus berlanjut.

Shaykh Dr Abdalqadir as  Sufi  menunjukkan kepada kita dengan gamblang akar masalah dan penyebab semua itu terjadi. Bak seorang dokter ahli  Shaykh Abdalqadir memberikan diagnosa penyakit si pasien yang telah sampai pada stadium terminal dan meresepkan terapi penyembuhannya. Penyakit parah itu tidak lain adalah: kufur. Yakni meninggalkan Islam, meski dipermukaan luarnya, masih nampak Islami. Namun, Islam yang  tertinggal adalah “Islam baru”, yang berbeda dengan yang diwariskan oleh Rasul SAW dan dijalankan oleh kaum Muslimin berabad lamanya, sampai jatuhnya Daulah Utsmani.

Maka, kembali kepada “Islam historis”, adalah resep penyembuhan yang diberikan oleh Shaykh Abdalqadir. Jalannya adalah kembali merujuk kepada Amal Ahlul Madinah.  Restorasi Islam adalah yang diperlukan,  dan bukan reformasi atau purifikasi, sebagaimana diserukan oleh kaum Wahhabi di Jazirah Arab – yang kemudian menjalar di seluruh dunia Islam –  yang justru menghasilkan Islam yang berbeda, yang tunduk patuh dan konformis terhadap sistem kapitalisme ribawi yang mendominasi dunia saat ini.

Islam historis, Islam yang sesuai dengan Amal Madinah, yang memiliki elemen-elemen Islam yang ada saat masa kemenangannya: Amr, mata uang sunnah Dinar emas dan Dirham perak, perdagangan halal dengan pasar-pasar terbukanya yang tanpa sewa, karavan dagang yang dinamis, kontrak-kontrak qirad dan syirkat, serta wakaf-wakaf yang menjadi dasar kesejahteraan umat Islam; serta tentara Jihad yang melindungi dan mempertahankannya. Umat Islam harus  kembali hidup berjamaah di bawah para amir lokal, tunduk patuh kepada Qur’an dan Sunnah, dan lepas dari jaringan perbankan ribawi dunia.

Islam historis adalah Dienul  Islam yang seutuhnya, yang menyatukan tiga dimensinya, yakni Islam-Iman-Ihsan. Islam  yang menyatukan syariat dan haqeqat.  Di dalamnya kaum Muslimin  dipandu oleh syariat dan dijiwai oleh haqeqat.  Ketika kaum muslimin bukan cuma pergi ke masjid untuk banyak salat, tetapi juga ke zawiyya untuk banyak berdzikir.  Ketika kaum Muslimin bukan cuma melewati jalan-jalan umum lahiriah (syari’ah) tapi juga meniti jalan-jalan setapak ruhaniah (thariqah).

Buku ini dihadirkan sebagai panduan diagnostik agar kita secara jernih memahami akar masalah yang melanda umat Islam di zaman ini.  Dengan demikian kita dapat  memahami dan mampu menerima, dan menjalankan, terapi yang diberikan. Yakni kembali kepada Islam historis, Islam-nya Madinah al Munawarah, dari tiga generasi pertama Islam, generasi Salaf yang diberkahi.

Kita bersyukur pesan dan nasehat yang sangat mencerahkan dan menggerakkan dari ulama besar abad ke-21 ini  telah pula  sampai kepada kita, Muslim Nusantara. Alhamdulillah wa syukurillah.