Temuan Ilmiah Eropa Terbaru: “Gedung WTC Diruntuhkan Secara Sengaja”

611

Lima belas tahun telah berlalu sejak “Gedung Kembar” World Trade Center (WTC) dan sebuah gedung lain di Manhattan, AS, runtuh, dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Teror 9/11”. Peristiwa ini menjadi dasar bagi Pemerintah AS untuk mencanangkan “Perang Melawan Terorisme” pada sekala global. Banyak spekulasi tentang penyebab runtuhnya gedung tersebut dari sekadar ditabrak oleh pesawat yang dikendalikan oleh para teroris.

Kini sebuah penelitian ilmiah di Eropa secara jelas menyatakan bahwa runtuhnya gedung kembar itu adalah karena “controlled demolition” alias peruntuhan secara sengaja dan terkendali. Demikian dilaporkan oleh www.anonews.co/science-911/ . Para ahli fisika telah mencatat bahwa Twin Towers secara khusus dirancang untuk menahan dampak dan daya rusak bila tertabarak pesawat.

WTC 9-11

Penelitian ini karya Steven Jones, mantan profesor fisika di Universitas Brigham Young, Robert Korol, seorang profesor emeritus teknik sipil di McMaster University di Ontario, Kanada, Anthony Szamboti, insinyur mekanik dengan lebih dari 25 tahun pengalaman dalam industri kedirgantaraan dan komunikasi, dan Ted Walter, direktur strategi dan pengembangan untuk arsitek dan  insinyur dari  “9/11 Truth”, sebuah organisasi nirlaba yang saat ini mewakili lebih dari 2.500 arsitek dan insinyur.

Beberapa pengamatan yang disampaikan para peneliti di atas, adalah sebagai berikut:

  1. Kebakaran biasanya tidak cukup panas dan tidak bertahan cukup lama di suatu daerah tunggal untuk dapat menghasilkan energi yang cukup untuk memanaskan bengunan struktural besar sampai mencapai  titik runtuh (suhu di mana baja struktural kehilangan kekuatan sampai runtuh tergantung pada faktor keamanan yang digunakan dalam rancangannya. Dalam kasus WTC7, misalnya, faktor keamanan umumnya 3 atau lebih tinggi dari keperluan minimal. Di sini, 67 persen dari kekuatan harus hilang akibat kerusakan, memerlukan pemanasan baja sampai sekitar 660°C;
  2. Kebanyakan gedung pencakar langit memiliki sistem pemadaman kebakaran (sprinkler air), yang selanjutnya mencegah api dari melepaskan energi yang cukup untuk memanaskan baja ke keadaan sampai kegagalan kritis;
  3. Pilar-pilar struktural dilindungi oleh bahan tahan api, fireproofing, yang dirancang untuk mencegah kenaikan suhu mencapai suhu kegagalan dalam jangka waktu yang ditentukan;
  4. Gedung pencakarlangit berbingkai baja dirancang sebagai sistem struktur yang jauh melebihi standar minimal. Dengan demikian, jika kegagalan lokal terjadi, itu tidak mengakibatkan jatuhnya secara tidak proporsional dari seluruh struktur. Sepanjang sejarah, tiga gedung pencakar langit berbingkai baja k diketahui telah runtuh secara parsial karena kebakaran; tidak satupun dari mereka menyebabkan keruntuhan total. Tak terhitung baja berbingkai gedung tinggi lainnya telah mengalami kebakaran besar dalam jangja tahan lama tanpa mengalami keruntuhan baik sebagian atau total. Selain dirancang untuk tahan terhadap beban gravitasi yang terus-menerus dan kebakaran sesekali, pencakar langit  dirancang untuk menahan beban yang dihasilkan atas kejadian ekstrem lainnya – khususnya, angin kencang dan gempa bumi.

Para peneliti menyimpulkan, “Mengingat sifat dari keruntuhannya, investigasi yang berpegang pada metode ilmiah harus menganggap serius hipotesis “pembongkaran dikendalikan” (controlled demolition, jika tidak memang semuanya telah dimulai dengan hal ini.”