Tentang Fulus Yang Tak Banyak Dipahami

2617

Fulus merupakan  bagian tak terpisahkan dari alat tukar dalam Islam. Shaykh Dr Abdalqadir as-Sufi berkata, tentang  fulus ini:

 “Pada pertemuan saya dengan Shaykh Mahmud Effendi Turki, pimpinan tareqah  Naqsyabandi, semoga Allah memberinya kesehatan dan umur panjang bersama kita dan melindunginya, Shaykh Mahmud Effendi mengatakan, ‘ini (Dinar dan Dirham) adalah mata uang Muslim, tetapi Anda harus memiliki fulus, karena dua alasan: tidak ada zakat pada fulus karena bukan logam mulia, dan para janda harus mampu membeli roti, sepotong  roti, dengan mata uang  yang tidak dipajaki,  yang  memungkinkan semua transaksi yang dia lakukan  menjadi halal.’”

Jadi ada dua alasan tentang keharusan adanya fulus, yaitu ketersediaan alat tukar untuk barang-barang bernilai kecil; dan, yang lebih penting dalam konteks saat ini, adalah tersedianya alat tukar yang bebas dari riba dan pajak, yang dikandung oleh uang kertas.  Tetapi, penerbitan fulus, atau yang dalam satu periode di masa Daulah Abbasiyyah disebut sebagai koin sutuqa, sementara di Aceh pernah dikenal koin-koin keu’eh,  harus dilakukan secara terbatas.

fulus

Penyalahgunaan fulus, sebagaimana terjadi di zaman Dinasti Mamluk di Mesir (abad ke-15 M) telah menimbulkan malapetaka akibat memasok fulus berlimpah-limpah. Peristiwa sejarah penyalahgunaan fulus dan malapetaka yang ditimbulkannya ini terekam dengan sangat baik, dicatat dan dianalisis oleh seorang (mantan)  muhtasib, Taqyuddin Al Maqrizi, dalam kitabnya yang masyhur dan luar biasa manfaatnya bagi  kita  saat ini, yaitu Ighathat al-ummah bi-kashf  al-ghummah.

Pada bagian awal kitab tersebut al Maqrizi menggambarkan bencana dan malapetaka yang terjadi di Mesir yang  menimbulkan kelaparan dan kematian yang dahsyat. Dalam Ighathat ia  menulis:  “Saat ini kita berada di awal tahun 808H/1405-6 M dan karena fluktuasi alat tukar, dan  kelangkaan kebutuhan pokok serta  tindak korup dan penalaran yang jelek (di kalangan pejabat), situasi terus memburuk.” Sedemikian dahsyatnya bencana yang  terjadi sampai digambarkan banyak penduduk melakukan kanibalisme.

Bencana alam gelombang banjir sungai Nil memang berlangsung dalam waktu lama, penyakit pun merajalela. Korupsi di kalangan pejabat pemerintahan Mamluk sama maraknya. Kepanikan pemerintahan dalam menghadapi situasi saat itu dapat kita ketahui dari  fakta terjadinya pergantian muhtasib, yakni orang yang bertanggungjawab atas situasi perekonomian, hampir setiap dua bulan sekali!

Tetapi, Al Maqrizi, dengan pandangan yang sangat jernih, memberitahu kita bahwa akar persoalan yang dihadapi rakyat Mesir bukan bencana alam itu, yang memang rutin selalu dialami karena siklus pasang surut sungai Nil. Akar persoalan dari bencana dahsyat Mesir itu adalah pada tiga  hal: (1) tindakan sultan yang setiap kali melakukan debasement terhadap Dirham, yaitu dengan cara mengubah nilai tukarnya terhadap fulus; dan (2) tindakan sultan menurunkan kadar kemurnian emas dan peraknya; (3) tindakan sultan mencetak dan mengedarkan fulus tembaga secara tidak terkendali, yang mengakibatkan pada akhirnya  fulus itu sendiri menggantikan Dinar dan Dirham.

Jadi, di zaman Mamluk itu,  khususnya di masa Sultan Zhahir al Barquq dan anaknya Sultan Faraj bin Barquq (1399 – 1412 M),  semakin lama koin  Dinar emas hilang dari peredaran, karena dipakai sebagai penukar tembaga yakni bahan fulus yang didatangkan dari Eropa; sementara Dirham peraknya dikurangi kadarnya, hingga hanya tinggal 70% saja kandungan peraknya. Ini yang kita kenal sebagai Dirham magsyusah itu. Tindakan lain yang dilakukan sultan adalah mendongkrak nilai fulus, yang semula bernisbah 1:48 terhadap Dirham, menjadi 1:24. Dengan kata lain nilai fulus  dilipatduakan.

Tiga Solusi, Juga Bagi Kita

Pencetakan fulus memang menguntungkan penguasa, karena nilai nominalnya lebih tinggi dari nilai intrinsik bahannya. Dengan beredarnya fulus  dalam jangka pendek kesultanan menjadi tampak lebih makmur, anggaran belanja militer dan segala proyek pemerintah yang dibiayai oleh koin-koin tembaga ini meningkat tinggi. Gaji tentara dan pegawai dinaikan, roda perekonomian bergerak lebih menggairahkan. Tapi, akibat langsungnya adalah inflasi, harga kebutuhan pokok meroket dan tak terjangkau oleh kantong rakyat, yang diikuti dengan pemiskinan di satu sisi,  dan penimbunan-penimbunan di lain sisi, yang selanjutnya menimbulkan kelaparan dan  kematian di seluruh negeri.

Bukankah ini adalah situasi yang terus-menerus kita alami kini, ketika APBN dan seluruh kehidupan kita lainnya, dibiayai dengan uang fiat yang bahkan tidak memiliki nilai intrinsik sama sekali? Dan sumber pembiayaan itu berasal dari bank, yang artinya uang fiat itu pun telah digelembungkan lebih lanjut, melalui utang berbunga?

Karena itu, Al Maqrizi mengajukan tiga solusi untuk menyelesaikan persoalan sejenis dan mencegahnya, yaitu:

  1. Agar seluruh transaksi, baik perdagangan barang maupun pembayaran jasa, kembali hanya  mengunakan Dinar emas dan Dirham perak.

Maqrizi menulis: ”Ketahuilah – Semoga Allah menunjukimu kepada kebajikanmu dan mengilhamimu agar mengikuti jalan lurus sesamamu – bahwa mata uang yang sah, logis, dan diterima umum hanyalah yang terbuat dari emas dan perak dan bahwa metal-metal yang lainnya tidak dapat dipakai sebagai alat tukar. Sama halnya, kondisi masyarakat tidak akan baik, kecuali mereka diwajibkan untuk mengikuti ketentuan alamiah dan hukum dalam urusan ini (yakni mata uang), yaitu mereka hanya menggunakan secara eksklusif emas dan perak untuk menakar harga barang dan jasa (tenaga kerja).”

Al Maqrizi juga bersiteguh mengatakan, “Menurut semua laporan, yang valid maupun yang tidak, tak ada satupun bangsa atau kelompok orang pernah diketahui baik di zaman dulu maupun kini yang membayar barang atau jasa dalam mata uang selain emas dan perak.”

  1. Agar kemurnian kadar Dinar dan Dirham selalu dijaga, menuruti ketetapan syariat Islam, dan pihak otoritas (sultan)  tidak melakukan debasement terhadap kedua koin tersebut.

Maqrizi menyatkan: ”Harga setiap  100 dirham perak murni dan tak tercemar adalah  6 mithqal [Dinar] emas, yang ditambahkan sebanyak  ¼ Dinar pada harga saat ini untuk membayar tembaga (sebagai pencampur alloy-nya), kontribusi untuk sultan,   biaya kayu bakar, upah pekerja, dan lainnya.”

  1. Agar pengunaan fulus sangat dibatasi sesuai dengan fungsi dan perannya

Maqrizi mengatakan: “Satu mithqal emas [Dinar]  akan dipertukarkan dengan 24 koin Dirham. Setiap 24 koin Dirham setara dengan berat 140 Dirham tembaga (fulus), yang diperlukan untuk membayar barang-barang kecil dan keperluan harian rumah tanga. Ini akan menguntungkan masyarakat dan menurunkan harga-harga.”

Maqrizi juga menambah  bahwa:  “Harga barang-barang dalam emas dan perak hanya meningkat secara tak berarti tetapi dengan fulus harga-harga melonjak dengan sangat cepat.”

Dari risalah penting Maqrizi di atas kita juga dapat mengetahui beberapa hal praktis lainnya, yaitu:

  1. Perbandingan ideal nilai Dinar emas dan Dirham perak adalah 1:16 (saat ini 1:30)
  2. Perbandingan berat Dirham perak dan fulus adalah sekitar 1:6. Jadi berat setiap 1 fulus adalah sekitar 0.5 gr. Meskipun ini tidak mencerminkan nilai tukar fulus yang tidak tergantung kepada berat bahannya, tetapi atas dasar ketetapan sultan.
  3. Biaya cetak koin Dinar emas adalah sekitar 4% dari nilainya.

Ketiga usulan dari Al Maqrizi inilah yang kini tengah kita lakukan, yaitu secara bertahap kita  meninggalkan sistem uang fiat, dan kembali kepada Dinar emas, Dirham perak, dan fulus. Sebagaimana yang digambarkan oleh al Maqrizi, dalam konteks waktu itu, penggunaan kembali koin-koin itu akan meningkatkan kemakmuran masyarakat secara keseluruhan. “Rakyat  akan berbondong-bondong datang ke mint, membawa perak-perak yang mereka timbun sampai melampaui kapasitas pabrik.” Dalam konteks kita hari ini, Anda dapat segera ke wakala, membawa kertas-kertas Anda  – yang disebut sebagai uang itu – dan menukarkannya menjadi koin-koin Dirham perak.

Inilah kesempatan terbaik Anda, ketika “harga” perak saat ini relatif rendah, hanya dalam rasio 1:30 terhadap emas, untuk menyelamatkan harta Anda dan seluruh masyarakat lainnya. Dan gunakan Dirham Anda ini untuk transaksi sehari-hari.