Buku Dahsyat “Negeri Enam Inci”, Indonesia pada 2020-2030

483

Ini bukan bukan sekadar buku fiksi, meski ditulis dengan penuturan yang mengalir dan renyah dan dengan gaya bercerita. Buku ini ditulis  oleh mantan wartawan, tapi juga pernah bekerja sebagai pegawai bank. Analisis menggunakan perpsektif yang menohok: bahwa bank adalah mesin riba. Dan ditulis oleh seorang muslim,  dengan pengalaman sebagai “orang dalam”, yang kini menyadari betapa merusaknya riba dan bahwa riba harus dihapuskan.

Berikut uraian ringkas dari penulisnya sendiri, Budhi Wuryanto, yang kini bermukim di Jogya. Sebelumnya dia juga menulis sebuah buku yang sama kerennya, “I Killed the Bank“.

 

“Go langsing!

Maksudnya, tubuh para bankir menjadi langsing setelah baca buku ini.
Tuan dan puan yang berminat baca, silakan in box saya [https://www.facebook.com/budhi.wuryanto?fref=ts]. Harga 1 dirham perak, atau Rp 70.000 (ongkos kirim dibayar pemesan).”

Negeri Enam Inci: Kisah di Balik Pemberangusan Oligarki Bankir
130 mm x 200 mm; 356 hlm

“Buku ini berkisah mengenai sebagian peristiwa yang terjadi di Indonesia pada 2020-2030, sebuah negeri yang sangat berbeda di hamparan bumi ini. Sebuah negeri tanpa bank. Sebuah negeri yang menetapkan perbankan sebagai kejahatan. Tentu saja juga tanpa bankir — mereka sudah diberangus. Bankir ditetapkan sebagai profesi terlarang atau kriminal, seperti asal-usulnya, yakni profesi strata terendah dalam masyarakat, kelas comberan.

Kompleks perkantoran bank sentral diubah menjadi penginapan murah dan museum uang kertas, sementara itu sebagian kantor bank di daerah difungsikan menjadi kios-kios souvenir uang kertas. Uang kertas dianggap sampah digital. Penghargaan terhadap uang kertas — kalau ini bisa disebut demikian — sebatas benda koleksi, karena gambarnya menarik. Uang kertas diperjual-belikan sebagaimana kartu permainan anak-anak, serta sebagai kertas untuk membuat mercon, dan penggunaan lainnya yang tak ada lagi hubungannya dengan fungsi uang kertas sebagai uang.”

Daftar Isi:

Biang Kerok itu Bernama Kapitalisme-Riba __ 7
Prolog __ 23

Suatu Sore, 1 Mei 2030 __ 33
Kali Lokplam __ 38
Mayat Perlente Jidat Berlubang __ 49
Anak Gajah Tertawa __ 58
Mengikat Perjanjian dengan Setan __ 71
Meredakan Gangguan Urat Kepala __ 81
Membongkar Rahasia Oligarki Bankir __ 88
Nota Utang Enam Inci __ 100
Graha Kanera’s Office Tour __ 108
Kemarahan di Masa Lalu __ 118
Awas, Ketularan Tolol! __ 125
Surga Dunia Jahnam Kanera __ 133
Para Penumpang Kapal Pesiar __ 142
Teater Rapat Model Sarapin __ 151
Ceramah Sang Kiai __ 158
Menelusuri Rantai Sumber Berita __ 165
Banyusepet Empire Estate __ 174
Tragedi Jembatan Kali Lokplam __ 185
Jejaring Pupuk Penyubur Riba __ 193
Budak Si Mata Satu __ 207
Para Pemanen Tanaman Orang Lain __ 218
Telepon Merah Wewe Lagombe __ 225
Air Mendidih di Panci Rombeng __ 235
Dua Presiden Tanpa Urat Takut __ 244
Jamuan Makan Pagi Terakhir __ 252
”Ini Solusi yang Mudah; Praktis” __ 267
Ajakan Minum Es Teh Presiden Sewaan __ 273
“Sewaan Saja Segalak Ini, Apalagi …” __ 282
Kembali Seperti Nenek Moyangnya __ 289
Perburuan Big Boss di Salamana __ 295
Penjara Laut Biru __ 305
Eksekusi Terakhir __ 314
Museum Daun Kiriman dari Surga __ 324
Mandi Uang di Bilik Kaca __ 334
Seandainya Sedikit Lebih Lama __ 341

Mengenai Penulis __ 355

Negeri 6 Inci