Tiada Syariat Tanpa Dinar dan Dirham

490

Dalam Surat Hud ayat 85 Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai kaumku penuhilah takaran dan timbangan yang adil, dan janganlah engkau merugikan hak-hak manusia (dengan mencurangi nilai), dan janganlah berbuat zalim dengan melakukan kerusakan.”

Takaran dan timbangan, untuk mengukur nilai suatu barang dan jasa, menentukan seluruh kehidupan kita.  Allah SWT juga sangat tegas di dalam memerintahkan kita menjaga takaran dan timbangan. Mencurangi takaran dan timbangan diancam dengan hukuman berat, dan Allah SWT menyebut pelakunya dengan istilah khusus, dalam satu surat,  yaitu al Mutaffifin. Dan, ketahuilah, bahwa inlah surat yang pertama kali Allah turunkan kepada Rasul SAW di Madinah al Munawwarah, paska Hijrah.

Fakta itu menunjukkan betapa pentingnya soal menjaga takaran dan timbangan. Dan kerusakan terburuk yang dibuat oleh sebagian manusia saat ini adalah tidak dipenuhinya takaran dan timbangan ini. Takaran serta timbangan yang paling umum adalah takaran dan timbangan atas nilai, dalam transaksi kita menyebutnya sebagai harga, yang terkandung dalam alat tukar. Imam Ghazali dengan jelas menyebutkan bahwa penakar nilai yang paling adil, tidak lain, adalah emas dan perak.

Maka, bisa kita mengerti,  kebijakan Nabi  SAW yang menetapkan aturan tentang takaran dan timbangan di waktu yang sangat awal ini menunjukkan betapa  mendasarnya soal ini. Aturan mendasar inilah yang ditetapkan oleh Rasulullah salallahualaihi wassalam, begitu hijrah ke Madinah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’I, Rasul salallahualaihi wasallam berkata: “Timbangan adalah timbangannya  orang Mekah, takaran adalah takarannya orang Madinah.

Rasulullah SAW kemudian menetapkan timbangan ini dalam mithqal (1 Dinar) dan 7/10 mithqal (1 Dirham).  Atas dasar ketetapan tentang takaran (dan timbangan) yang berimplikasi kepada ketetapan tentang alat tukar itu, Rasulullah salallahualaihi wassalam, baru menetapkan ketentuan tentang zakat pada tahun ke-2 H. Dari setiap lima uqiyah (1 uqiyah = 40 Dirham) diwajibkan zakat atasnya sebanyak 5 Dirham, dan setiap 20 Dinar diwajibkan zakat atasnya sebanyak 0.5 Dinar.  Hari ini kita menyebutnya dalam rumus matematis sebagai 2.5%.

Sesudah itu, dari waktu ke waktu, bila Rasulullah SAW menetapkan berbagai ketentuan dan hukum yang menyangkut suatu nilai,  selalu mengukurnya dalam Dinar emas dan Dirham perak. Demikian pula para Sahabat dan Tabiin serta Tabiit Tabiin mengikuti cara yang sama. Baik itu untuk ketentuan hukum yang sifatnya mengikat seperti denda dan hukuman ganti rugi maupun yang sukarela seperti sedekah dan mahar.

Kepada penduduk Yaman, Rasulullah SAW pernah menulis surat, menetapkan hukuman diyat, sebagai berikut: “Bahwa di dalam (pembunuhan) jiwa itu terdapat diyat berupa 100 unta… dan terhadap pemilik emas (ada kewajiban) sebanyak 1000 dinar.” Hadis ini diriwayatkan oleh  An-Nasa’i  dari Amru bin Hasyim. Sedang bagi yang memiliki perak diyatnya adalah 10.000 dirham.

Ketika Nabi SAW  mewajibkan hukuman potong tangan terhadap praktik pencurian, Nabi SAW juga menentukan ukuran tertentu dalam bentuk emas, yaitu 0.25 Dinar.  ’’Tangan itu wajib dipotong, (apabila mencuri) ¼ dinar atau lebih.’’  Ini diriwayatkan oleh   Imam Bukhari  dari Aisyah. Selain dalam Dinar, batas hukum potong tangan juga dapat dinyatakan dalam Dirham, untuk nilai yang setara.

Imam Malik Meriwayatkan:

Malik berkata : ’’Batas yang aku pilih untuk pemotongan tangan adalah tiga dirham, baik nilai tukarnya tinggi ataupun rendah. Itu karena Rasul Allah SAW memotong tangan seorang pencuri untuk sebuah perisai yang harganya tiga dirham, dan Utsman bin Affan memotong tangan seorang pencuri untuk sebuah jeruk yang ditaksir harganya tiga dirham. Ini yang lebih aku pilih dari apa yang aku dengar mengenai masalah ini.’’

Sebagaimana kita ketahui di Madinah waktu itu nilai tukar Dinar dan Dirham adalah 1 :12.

Mengenai berbagai bentuk hukuman denda ini  tidak akan dibahas lebih jauh lagi di sini. Cukup dikatakan bahwa syariat Islam mengaitkan emas dan perak,  Dinar dan Dirham,  dengan hukum-hukum yang baku dan tidak berubah-ubah. Dan ini bukan saja pada hal-hal yang memaksa sifatnya, tapi juga yang sukarela. Contohnya adalah tentang mahar, yang juga diukur dengan Dinar atau Dirham. Imam Malik menyatakan ukuran yang sekruangnya sama dengan  batas hukuman pencurian untuk mahar ini.

namanya-mas-kawin

Dalam Muwatta Imam Malik berkata: Malik berkata: “Aku tidak setuju jika wanita dapat dinikahi dengan [mas kawin] kurang dari seperempat Dinar. Itu adalah jumlah terendah, yang [juga jumlah terendah] untuk mewajibkan  pemotongan tangan [karena mencuri]”.

Demikian juga untuk sedekah akekah, disebutkan antara 0.5-1 Dirham. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW, yang diriwayatkan melalui Ali bin Abi Thalib:  Rasul SAW menyembelih akekah Hasan seekor kambing dan berkata, “’Hai Fatimah cukurlah rambut kepalanya dan bersedekahlah seberat timbangan rambutnya itu dengan perak’. Lalu kami timbang rambutnya, maka timbangannya sama dengan satu dirham atau setengah dirham.” (HR Turmidzi dan Hakim)

Ibnu Khaldun dalam Muqqadimah, karena itu, menyimpulkan,

“”Wahyu Allah menyebutkan keberadaan mereka [dinar dan dirham] dan  menetapkan berbagai hukum atas keduanya, misalnya dalam zakat, pernikahan, dan hudud. Karenanya sesuai Wahyu mereka haruslah suatu yang nyata dan ukuran tertentu untuk penilaian (zakat, dll) yang kepadanya hukum-hukum didasarkan dan bukan pada selainnya yang bukan-shari’i (koin-koin lain)’’.

Jelas bahwa tiada syariat, tanpa Dinar dan Dirham.

Diyat di Nusantara

Teks-teks tentang sejarah kesultanan di Nusantara membuktikan bahwa Dinar emas dan Dirham perak adalah mata uang kita. Kesultanan Aceh, Kesultanan Gowa, dan Kesultanan Cirebon, adalalah pusat-pusat pencetakan dan peredaran Dinar dan Dirham di masa lalu. Dan, tentu saja, ketika koin-koin ini beredar di masyarakat, hukum syariat dan muamalat dapat dijalankan. Termasuk dalam ketentuan diyat, sebagaimana terlaksana di Kesultanan Cirebon, di abad ke-15-16 dulu.

Dalam Seminar “Pengenalan Dinar Dirham Sebagai Alat Tukar yang Mudah dan Handal terhadap Hiperinflasi”,  di Kampus IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, Gedung Cirebon Center,  15 Maret 2011, Sultan Sepuh XIV Pangeran Arif Natadiningrat, melalui wakilnya, menunjukkan bukti tertulis keputusan Sunan Gunung Jati untuk membayarkan diyat, dalam Dinar emas (dari Naskah Martasinga, 2005:140),. Ini sebagai pengganti hukuman mati atas putranya Pangeran Jayakelana, yang dianggap lalai atas tugas yang diberikannya. Semula, hukuman yang dijatuhkan atasnya adalah hukuman mati, tetapi atas permintaan para ulama dan wali, hukumannya diganti dengan diyat: Dinar emas sebanyak berat badan Pangeran Jayakelana.

Marah wetokna iki, Dinar ingkang kira iku, ing timbangane si kalana, wusing timbang nuli pada duman maring sakabeh ika, fakir miskin aja ana, ingkang kaliwat sawiji, nuli si iku kalana, buangen maring gon kang sepi, ya anang segara lering”. Demikian isi teks Martasinga, yang artinya:

“Coba keluarkan uang Dinar dan timbanglah seberat badan Jayakelana, bilamana sudah kau timbang, kemudian bagikan uang itu semuanya, jangan ada fakir miskin yang tertinggal satupun, dan si Kalana buanglah ke tempat yang jauh, di laut utara.”

 Dari bukti tertulis ini kita ketahui, bahwa masyarakat Cirebon telah menggunakan Dinar emas, baik untuk keperluan mumalat sehari-hari maupun  untuk penetapan hukuman (hudud) dan diyat. Kemakmuran Cirebon juga tergambar dari jumlah Dinar yang dibagikan itu, yaitu seberat badan orang dewasa katakanlah sekitar 70 kg, maka setidaknya sekitar 16.500 dinar hari itu dibagikan kepada fakir miskin.

Informasi penting lain  yang terungkap dalam seminar itu  adalah keputusan pencetakan Dinar emas (dan Dirham perak) oleh Sultan Gunung Jati sebagai pernyataan kedaulatan Kesultanan Islam Cirebon, dan lepas dari Pajajaran Hindu. Sunan Gunung Jati juga menerapkan penarikan zakat dengan tegas, dan mewariskan pesan sangat penting  kepada putra wayah (anak turun): “Sun Titip Tajug lan Fakir Miskin”. Ini bermakna “Aku titipkan Salat  dan Zakat”,  yakni Masjid dan Dinar Dirham.