Tolak Pemimpin Kafir, Namun Membiarkan Sistem Uang Kertas Ciptaan Kafir?

426

Beberapa waktu belakangan ini ramai kampanye menolak “pemimpin kafir”, utamanya terkait dengan pergantian Gubernur DKI. Kampanye tertujupada satu sosok, yakni Gubernur DKI saat ini, Pak Ahok, yang nonmuslim.  Tapi, efektifkah gembar-gembor tolak pemimpin kafir ini? Drs Nurman Kholis, M.A, seorang peneliti dan aktivis penggerak muamalah mempertanyakannya.  Ia menengarai kampanye semacam ini salah sasaran, tidak tepat pada inti masalah.

Kang Nurman, demikian biasa ia disapa, menyatakan bahwa semokrasi itu disebarluaskan saat ini adalah supaya setiap orang merasa setara dengan yang lainnya. Demokrasi itu disebarluaskan supaya setiap orang bebas berpendapat.

“Tapi, demokrasi juga disebarluaskan supaya uang atau alat tukar distandarkan kepada mata uang tertentu nilainya semakin jauh melesat dari nilai mata uang sebagian besar mata uang negara lainnya.  Dengan demikian, meskipun dollar dan rupiah sama-sama terbuat dari kertas tapi tidak setara bahkan daya belinya semakin jauh berbeda,”  ujar Kang Nurman.

“Karena itu, demokrasi disebarluaskan supaya setiap orang bebas berpendapat, kecuali berpendapat tentang sistem uang kertas.  Dengan demikian, demokrasi memunculkan pemilihan umum untuk memilih: presiden, gubernur dsb, namun tidak akan memunculkan: PEMILIHAN UANG ATAU ALAT TUKAR,” tandasnya.

Akibatnya adalah  pemimpin terus berganti, tapi berbagai kekayaan alam di negeri ini terus menerus ditukar dengan hanya kertas-kertas kecil bernama dolar yang nilainya semakin jauh dari rupiah.   Karena itu, sistem uang kertas tidak sesuai dengan ajaran agama mana pun berdasarkan sejarah kemunculan dan perkembangan agama-agama tersebut.

Umat agama-agama itu dulu berlakukan uang emas untuk barang yangg mahal, uang perak untuk barang agak murah, uang dari tembaga dsb untuk  barang yang murah.  Selanjutnya, kang Nurman menjelasakan, menurut perspektif ajaran Islam, Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa penggunaan dinar (uang emas) dan dirham (uang perak) adalah sebagai salah satu bentuk syukur (berterima kasih) atas akal yang Allah berikan.

Dengan demikian, tidak memberlakukan keduanya merupakan bentuk kufur (ingkar) atas ni’mat akal yang Allah berikan. Kufur berasal dari kata kafara yang artinya menutup. Karena itu, orang-orang yang tidak mengerti hingga tidak mau berlakukan dinar (uang emas) dan dirham (uang perak) akalnya sudah tertutup oleh hawa nafsu dan setan. Hal ini juga sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ghazali yang mengatakan hikmah penciptaan dinar dan dirham tidak akan dapat dimengerti oleh orang yang hatinya sudah menjadi tempat sampah hawa nafsu dan permainan setan.

Total Pemimpin kafirKarena itu, selain ada istilah kafir secara aqidah ada juga kafir ni’mat, salah satunya ni’mat akal yang telah Allah berikan. Dengan demikian, orang seperti John F Kennedy yang dalam perspektif ajaran Islam ia adalah seorang kafir, tapi akalnya tidak tertutup dari kebenaran uang emas dan uang perak. Karena itu, tahun 1963 ia instruksikan hingga uang perak berlaku di Amerika selama 6 bulan yang menjadi salah satu faktor pembunuhan dirinya.

Lalu, bagaimana dengan umat Islam sendiri? Padahal, Nabi telah menentukan standar zakat uang, hukum potong tangan dsb, dalam dinar dan dirham?

Berganti-ganti pemimpin tidak mengubah apa-apa. Pemimpin Muslim atau nonmuslim sama saja, sepanjang kita tunduk pada sistem uang kertas. Menolak pemimpin kafir namun membiarkan dan bahkan sukarela hidup dalam sistem keuangan ciptaan kafir? Jelas tetap mempertahankan umat Islam dalam kezaliman.