Tumbuh Kembang Tariqah Qadiri-Sadzili-Darqawi di Mangku Negeri Tanjungpura

643

Rasul SAW mengajarkan tiga pondasi dasar seorang Muslim, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan.  Islam terdiri atas lima pilar Dien, yang pengajarannya dilakukan melalui ilmu fiqih.  Iman terdiri atas enam landasan pokok yang pengajarannya dilakukan melalui ilmu aqaid. Sedangkan Ihsan, yang menjadikan keutuhan pada kedua yang disebut sebelumnya, dan memberinya ruh, pengajarannya dilakukan melalui ilmu tasawuf.

Sumber ketiga pengajaran itu, tentu saja, adalah Rasul SAW. Karenanya pengajaran ketiganya haruslah dapat dirunut, melalui sanad yang tak terputus, yang sampai kepada Nabi SAW.   Sesudah Iman, yang merupakan landasan paling pokok,  dua pondasi lainnya, Islam dan Ihsan, merupakan pengejawantahan. Pengejawantahan bermuara pada perbuatan, dan agar tidak tersesat, ini memerlukan jalan. Syariat (Islam) ditempuh melalui madzhab. Haqeqat (Ihsan) ditempuh melalui Thariqah.

Dalam madzhab kita dibimbing oleh para imamnya. Dalam tariqah kita dibimbing oleh para mursyidnya. Keduanya membangun tradisi, dalam pengajaran fiqih dan pengajaran tentang ma’rifatullah. Sepanjang sejarah Islam keduanya  selalu berdampingan. Dan ketika Muslim menjalankan keduanya, umat berada dalam keseimbangan, dalam kesejahteraan jasmani dan ruhani. Sampai kemudian tergerus oleh sebuah dien baru yang asing dalam Islam, yakni kapitalisme, yang dibawa oleh modernisme.

Karenanya sangat penting untuk merestorasi keduanya: syariat dan haqeqat. Inilah yang kini kita saksikan mulai tumbuh-kembang di Mangku Negeri Tanjungpura Darussalam, Ketapang, Kalimantan Barat.  Syariat Islam kembali diupayakan dilaksanakan seutuhnya, dengan mengembalikan kaidah-kaidah muamalah, dalam jual beli, dalam penegakan rukun zakat, dua aspek pokok syariat Islam yang runtuh hari ini. Haqeqat kembali diajarkan dan diamalkan melalui pengembangan Tariqah Qadiriah-Sadziliah-Darqawiah, dalam bimbingan Mursyid, utamanya Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi, dan beberapa suyukh lainnya. Dari Shaykh Abdalqadir as Sufi   bersambung kepada mursyid sebelumnya, Shaykh Muhammad ibn al Habib (Maroko), yang terus bersanad ke atas tanpa putus, sampai rasul SAW.

SAQ dan SSM

Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi (kanan) dan penerusnya Shaykh Sidimortada Elboumushouli (kiri)

Maka, di Balai Peranginan Mangku Negeri Tanjungpura, para fuqara secara rutin berkumnpul menghadiri  Majelis  Dzikir, dan melagukan bait-bait Diwan yang syahdu, keduanya digubaholeh Shaykh Muhammad ibn al Habib, dari Meknes Maroko. Kehadiran Muqadim Muhammad hakimi, dari Kuala Lumpur, selama sepekan lebih di Ketapang, baru-baru ini, menambah kokohnya  para fuqara.

Ibn al Habib

Shaykh Muhammad ibn al Habib

Kaitan antara Tanjungpura dengan Maroko sendiri, secara historis, tidaklah asing dan bukanlah sebuah kebetulan bila kinitaroqah kembali berkembang berasal dari Maroko. Penyebaran Islam awal di Tanjungpura pun melibatkan seorang shaykh dari Maroko, yakni Shaykh Muhammad Aminullah al Maghribi.

Wirid di Ketapang

Kini, masyarakat Ketapang, masih merasakan kehadiran Shaykh Aminulllah, melalui makamnya di Ketapang, dan terutama dari tapak tempatnya acap berkhalwa. Sebuah kawasan yang nampak selalu bersih, bebas dari segala sampah bahkan guguran dedaunan, meski tidak ada yang menyapunya.  Dengan kembali tumbuh kembangnya Tariqah Qadiri-Sadzili-Darqawi, khususnya di lingkungan Mangku Negeri Tanjungpura Darussalam, kaum Muslimin akan kembali menjalankan Islam secara seutuhnya.

In Sha Allah.