Uang Baru, Ilusi Baru

2383

Presiden Jokowi telah menandatangani Keppres Nomor 31 Tahun 2016 tentang Penetapan Gambar Pahlawan Nasional sebagai Gambar Utama pada Bagian Depan Rupiah Kertas dan Rupiah Logam Indonesia. Keppres ini ditandatangani pada 5 Septermber 2016 lalu.

Apa alasan pengubahan gambar ini? “Sebagai bentuk penghargaan untuk para pahlawan nasional.” Tentu saja ini hanya retorika saja, karena sulit mendapatkan alasan yang rasional. Padahal, kalau alasannya “menghargai pahlawan”, lalu pencabutan gambar pahlawan yang lama tidakkah berarti “mencabut penghargaan” bagi mereka?

Tapi, sudahlah. Yang penting dipahami oleh masyarakat adalah bahwa perubahan hanya pada gambar semata itu hanyalah memberikan efek ilusi. Seperti halnya pencatuman “Negara Kesatuan Republik Indonesia” pada mata uang kertas rupiah, hanyalah memberikan efek ilusi saja, seolah uang kertas adalah bagian dari sebuah negara nasional.

Dalam kenyataannya seluruh uang fiat, kertas dan digital, diterbitkan dan dikuasai oleh perusahaan-perusahaan swasta, baik secara langsung melalui bank komersial, maupun penguasaan atas bank sentral sebuah negara. Penentuan jumlah uang dicetak, besar-kecil nilai nominalnya, pengenaan bunga atasnya, biaya pengedarannya, semuanya ditetapkan dan diputuskan hanya oleh para bankir. Pemerintahan tidak memiliki kewenangan untuk ikut campur sama sekali.

12-pahlawan Duit baru

Uang kertas yang beredar, yang berada di tangan kita, adalah janji utang, yang diterbitkan oleh bank sentral. Tapi ini janji utang yang telah dikhianati karena tidak lagi bisa ditagih, ditebuskan dalam bentuk harta riil, yakni emas atau perak, yang dulu mereka janjikan kepada pemegang kuitansi (uang kertas) tersebut. Dan, sejak awal mencetaknya, bankir-bankir memang tidak pernah berniyat membayarkan utangnya ini!

Dan jangan lupa dalam setiap lembar juanji utang itu mengandung bunga. Semakin luas beredar, semakin besar bunganya. Dan bunga itu berbunga terus. Dan untukmembayar bunga ituk, tiada jalan lain, bank sentral akan mencetaknya lagi. Lalu diedarkan lagi sebagai utang berbunga. Demikianlah lingkaran setan uang kertas.

Inilah yang menjelaskan mengapa uang kertas bergambar Ibu Kartini  Rp 5 pada 1952 harus diubah menjadi uang kertas Kartini bernilai Rp 10.000 pada 1980, karena nilainya makin merosot. Maka digelembungkan 2000 kalinya!  Dan, kini pada 2016 ini,  uang kertas bergambar Kartininya bahkan sudah tidak laku. Uang kertas hanyalah secarik kertas tak bernilai. Akan terus kembali kepada fitrahnya sebagai benda tak bernilai. Jadi, dengan gambar yang sama atau berubah wajah pada uang kertas, tidak memberikan efek positif apapun kepada masyarakat.

Pengubahan gambar, pencantuman identitas nasional,  sampai redenominasi, adalah taktik-taktik para bankir untuk terus menutupi masalah mendasar uang fiat, yakni tidak pernah mampu mempertahankan nilainya.

Dan, selalau ada misteri di balik taktiki inik, tidakkah itu hanya cara menutupi kemungkinan bank sentral mencetak kertas-kertas baru – yang di kalangan para bankir disembunyikan dengan nama cantik Quantity Easing?