Warga NU Protes Mendiknas Soal Full Day School

947

Keputusan Mendiknas mengubah jadwal sekolah menjadi 5 hari sepekan dan sehari penuh, menuai protes dari Warga NU. Memang belum resmi secara kelembagaan, tapi banyak disuarakan lewat media sosial.

Salah satunya dari kader NU, Syafiq Hasyim, yang menyatakan protesnya lewat akun FBnya.

“Bagi kalangan yang gak mengalami sekolah pagi dan sekolah sore mungkin kebijakan Mendiknas dianggap biasa saja. Namun bagi yang pernah mengalaminya, kebijakan ini akan menimbulkan banyak komplikasi,” ujarnya.

Menurut aktivis yang pernah nyantri samoaike Jerman ini sekolah sore adalah pengalaman pendidikan yang sangat penting,  karena di sini dia mulai belajar ilmu-ilmu agama sejak umur 6 tahun.

“Masih ingat usai SD, kita makan siang bentar lalu jam satu siang bergegas ke madrasah pakai sarung sampai jam 5 sorean. Usai itu balik ke rumah lalu abis maghrib bergegas lagi ke masjid ngaji Quran. Ini adalah kegiatan sehari-hari anak desa. Tanggung jawab pendidikan orang tua terbantu dengan sekolah sore. Dengan sekolah sore saya mengenal tradisi Islam, belajar jurumiyyah dan imrithi, belajar tauhid, taqrib, tarikh, dan jenis-jenis ilmu agama. Saya cinta sekolah sore karena apa yang saya punya sekarang lebih merupakan hasil sekolah sore,” tambahnya.

Tahukah berdasarlan data Kemenag, jumlah sekolah sore sampai sekarang masih 64 an ribu. Artinya masih jutaan anak belajar di sana dan guru-guru yang bekerja dengan ikhlas hanya dapat bayaran minim 200 ribuan saat kini.

“Saya ingat ayah saya dapat gaji  12 ribu rupiah sebulan. Tapi mereka anggap bahwa sekolah sore adalah soko guru pendidikan agama, maka mereka jalani mengajar. Jika penerapan FDS, tdk ada integrasi dan dialog, berapa juta anak yg kehilangan kesempatan belajar agama di usia dini,” katanya lagi.

Syafiq pun menyarankan buatlah kebijakan terbuka berbasis lokalitas di mana sekolah penuh hari hanya untuk daerah tertentu saja yang sorenya tidak ada Madin.

“Kenapa seolah NU saja yang protes, karena ini tradisi kita bahkan sudah ada sebelum sekolah umum,” Syafiq menandaskan.

Akankah protes warga NU ini didengar oleh Mendiknas yang Warga Muhammadiyah?