Ya, Bermuamalah itu Mudah

509

Sudah barang tentu bermuamalah itu mudah. Setiap  hari kita berinteraksi dengan orang lain. Ruang lingkup muamalah itu sangat luas, mencakup semua aspek kehidupan pribadi dan sosial. Muamalah dalam urusan pribadi seperti pernikahan, urusan keluarga seperti waris-mewariskan, urusan sosial seperti ketertiban lingkungan, dan urusan komersial seperti jual beli, kontrak usaha, serta utang-piutang, dan sejenisnya.

Persoalannya adalah sudahkah kita bermuamalah sesuai dengan tuntunan syariah? Dalam dua kategori muamalah yang pertama, nikah dan  waris,  boleh jadi kita masih  mengikuti kaidah syariah. Karena kita menjalankannya. Tapi dalam urusan sosial dan komersial? Kebanyakan kita bahkan tidak peduli lagi apakah ada kaidah syariahnya, apalagi menjalankannya.

Kenyataan ini dapat dimengerti karena sejak di bangku sekolah, juga di lingkungan sosial, kaidah muamalah yang kita dapatkan sama sekali tidak didasarkan kepada syariat Islam. Kita bersikap  taken for granted: uangnya adalah uang kertas, nabungnya di bank, jual beli dengan kredit berbunga, hidup dengan asuransi dan dana pensiun, dan seterusnya. Lebih-lebih ketika kemudian ada sebagian orang yang mengislamisasi praktek-praktek ribawi tersebut. Semua jenis institusi ribawi dilabelisasi dengan label “syariah”: maka ada bank syariah, asuransi syariah, pasar saham syariah, obligasi syariah, sampai ratu sejagad syariah!

Sedangkan Islam memiliki model sendiri yaitu muamalah, dengan lima pilarnya, sebagaimana telah diuraikan secara terpisah. Nabi SAW mengajarkan kita menggunakan  alat tukar yang terbuat dari komoditi, dua yang terbaik adalah Dinar emas dan Dirham perak, dan bukan uang kertas, membangun pasar bukan mal, menggunakan wadiah bukan bank, meyakini takdir dan qadar Allah SWT dan tidak mengandalkan perjudian dan spekulasi asuransi, dan seterusnya.

Koh Abi

Dalam kondisi seperti ini, seperti disinyalir oleh Khalifah Umar ibn Khattab, mendapatkan kembali pengetahuan muamalah menjadi prasyarat pertama, agar Anda tak masuk jebakan riba. Setiap muslim wajib mengerti yang riba dan yang bukan riba, yang halal dan yang haram. Setiap muslim wajib kembali memahami  esensi uang kertas, dan mengapa harus kembali kepada Dinar emas dan Dirham perak. Setiap muslim harus mengerti makna dan peran wakaf dalam kehidupan perekonomian umat.

Kedua, niat, dan komitmen, untuk berubah. Dalam sistem yang nampak kokoh, tetapi sesungguhnya sangat rapuh itu, perubahan sikap Andalah yang akan mengubahnya. Yakinkan dalam hati bahwa riba itu haram, zalim dan menjijikkan, karena Nabi SAW menyatakan dosanya lebih buruk dari 36 kali berzina. Setiap kali Anda  terlibat dengan riba setara dengan kita 36 kali berzina! Ketika keyakinan itu telah ada, akan tumbuh sikap untuk tidak membutuhkan seluruh institusi riba itu: uang kertas, bank, asuransi, kredit berbunga, dst. Meski  institus-instutusi itu diislamisasi, karena tanpa mengubah substansinya, tanpa menghilangkan ribanya. Begitu Anda berubah, sekitar Anda akan berubah untuk Anda.

Ketiga, bertindak. Bertindaklah, amalkanlah pengetahuan yang telah Anda  dapat, meski baru sedikit. Itu lebih baik daripada memiliki banyak pengetahuan tapi lumpuh. Nabi SAW menyatakan: “Lakukan yang kamu tahu, dan Allah SWT akan beritahukan yang engkau tidak tahu”. Nabi SAW juga menyatakan pengetahuan yang tidak diamalkan, akan meracuni tubuhmu.

Mulailah dari yang paling mendasar, perlahan-lahan tinggalkan uang kertas. Gunakanlah Dirham perak dalam transaksi sehari-hari. Dalam transaksi bernilai besar gunakan Dinar emas. Menjadi kewajiban setiap Muslim, untuk menularkan pengetahuan muamalah itu, dalam praktek, kepada orang lain. Jadikan setiap tempat tinggal Anda sebagai “Kampung Muamalah”, hingga bukan cuma Anda sendiri, tapi seluruh warga dapat bermuamalah dengan Dirham perak.

Kampung Muamalah Tanah Baru, Depok, bisa dijadikan contoh. Diawali oleh sebuah minimarket, SahlanMart sekitar dua tahun lalu, di Tanah Baru  kini telah ada  sekitar 40 anggota Jawara lain. Ada dokter, ada tukang sayur, ada tukang listrik, ada pemilik rumah kontrakan, ada penjual sepeda, penjual pulsa, dan kios servis komputer, ada madrasah, ada bengkel besi, ada loper koran, ada kios buku, sampai tukang kebun.

Jadilah pelopor, seperti mas Arif Sahlan, pengelola SahlanMart itu. Atau Kang Ahmad Acep, si loper koran, yang tidak banyak mempertanyakan ini dan itu,  telah menjalankannya, hanya karena ingin mengamalkan sunnah nabi. Dan kalau Anda memeloporinya banyak orang akan mengikuti. Rasakan keberkahan dan kenikmatan yang Anda peroleh dari tindakan Anda menegakkan sunnah Nabi yang telah lama roboh ini.

Jangan menggantungkan diri pada, apalagi menyalahkan, orang lain, kalau  di kampung Anda belum ada yang mengerti dan menerima Dirham perak.

Katakan pada diri sendiri: “Ah, ini salah saya. Mulai hari ini saya akan  jadikan kampung ini Kampung  Muamalah.”